Gaya Berdagang China: Bikin Turis Kelepekan
Pipiet Senja

Sungguh, di China itu segalanya ada, ya, Saudara!

Mulai dari menu yang aneh-nyeleneh seperti otak monyet yang langsung digetok dari batok kepala si monyet. Berbagai macam peristiwa yang mencengangkan dunia, seperti Balita yang dibiarkan berdarah-darah, dilindas dua kali mobil!

Sampai sop janin yang sengaja tidak digugurkan melainkan dijual, biar ada pemasukan.

Di balik kehebohan yang nyaris melupakan makna hati nurani kemanusiaan itu, ternyata di kawasan selatan China, terutama di propinsi Guangzhou, jejak-jejak syiar Islam masihlah sangat dilestarikan.

Sehinga turis berdatangan dari pelosok dunia, menarik rasa penasaran dan rasa keberagamaan terutama dari kaum muslim, ya, termasuk diriku.

Selama ini sungguh merasa penasaran ingin berkunjung ke Guangzhou, melacak jejak Islam yang pernah dilakukan oleh salah seorang sahabat Rasulullah Saw.

A Chin, pemandu wisata kami yang lucu dan manis serta kaya anekdotnya ini, membawa rombongan tur Alibaba dari Hongkong ke mesjid tertua di Guangzhou, awal Oktober yang lalu.

Di mesjid yang dibangun abad 18 ini, rombongan sempat dikumpulkan di dalam dan mendengarkan seseorang bertausyiah. Entah siapa namanya, entah apa pula yang diperkatakannya.

Maklum, dia bicara dalam bahasa njowo totok, sementara daku sama sekali tidak bisa menangkap maknanya. Belum lagi suaranya yang pelan, dan gayanya yang (maaf) klamak-klemek. Lewatlah akhirnya!

Sebenarnya sudah ada yang protes juga, meminta dengan segala kerendahan hati, agar beliau berbahasa Indonesia sajalah. Namun, beliau cuek, jangankan sudi memenuhi permintaan kami, melirik pun sepertinya mana sempat!

Sepanjang dipaksa mendengar perkataan sang penceramah berambut gondrong itu, mataku malah kelayapan, menikmati nuansa mesjid Guangzhou.

Ornamen kuno dan unik terpapar di lelangitan. Bangunannya tak seberapa luas, jelas kalah luas dan sangat kalah megahnya, jika dibandingkan dengan Mesjid Kubah Emas di Depok.

Namun, entah apa dan mengapa, bagiku ada semacam aura tersendiri begitu memasuki kawasan mesjid tua Guangzhou ini.

Seketika terbayanglah, Abi Waqqash, salah seorang sahabat Rasulullah Saw, tinggal dan melakukan syiar dakwahnya di propinsi ini.

“Betulkah ini makamnya Abi Waqqash?” tanya seorang teman tur, seperti bimbang, saat kami berdiri di depan bangunan berisi sebuah makam kuno.

“Menurut guruku sih, Abi Waqqash memang benar pernah syiar dakwah Islam di kawasan Guangzhou. Tapi bahwa ini makam Abi Waqqash jawabannya; mungkin ya, mungkin juga tidak,” ujar teman di sebelahku.

Aku mengangguk-angguk, belum menanyakannya kepada guruku di Depok sana. Dan bukan karena tak percaya ataupun bimbang, jika aku memilih tidak ikut masuk.

Apalagi harus duduk bersimpuh melingkari makam, dan menengadahkan kedua tangan dengan mulut komat-kamit.

Bukan, bukan begitu, karena berdoa boleh di mana pun berada. Hanya ini ada terkesan pengkultusan, bisa mengarah ke syirik, ditambah aroma dupa yang menyengat, memabukkan. Aduhai, mana tahan, bisa kumat bengekku!

Akhirnya setelah foto sana-sini, aku memilih mencari tempat duduk nyaman di pendopo, tak jauh dari mushola.

Ketika hendak menaiki sebuah undakan tangga di bangunan kuno sebelah kiri mesjid, untuk mengambil foto atas permintaan Mbak Anis Azizah, seketika; syeeeeerrrr, bulu romaku meremang hebat!

Firasatku langsung berbisik bahwa di sekitar sini ada sesuatu, makhluk lain mungkin.

Kutajamkan seluruh indraku, maka, ya, di situ, di balik kaca jendela itu, indraku seperti menangkap sepasang mata yang sedang menatap tajam ke arah kami.

Mungkin memang penghuninya, kuatir terusik, aku buru-buru angkat kaki dari situ; hayyyyaaaa, toce, toce!
“Kabooooor, Mbak Anis, jangan di sini foto-fotoannya!”

Rombongan dilanjutkan menuju sebuah pusat belanja giok. Ini dia, persis seperti yang pernah kualami di Shenzhen setahun yang silam, terulanglah penipuan terselubung.

Seorang lelaki tinggi besar, berkulit kuning dengan sepasang mata sipit dan berkacamata.

Dia mengaku manager toko, segera menyambut dengan ramah, kemudian langsung menggiring kami ke sebuah ruangan tertutup.

Ia sempat bilang dalam bahasa Mandarin bahwa dirinya sedang berbahagia.

Karena baru saja istrinya mempersembahkan seorang anak lelaki, setelah belasan tahun menanti, dan baru tiga anak perempuan dimilikinya. Mbak Anis menerjemahkannya untuk rombongan.

“Ini silakan ambil, ibu-ibu, kado kecil dari kami,” ujarnya membagikan batu giok pipih mungil kepada semua hadirin.
“Toce, toce, toceeeee!” seru rombongan, heboh benar.
“Psssst, dia bukan orang Hongkong. Kamsia ‘kali, ya, kamsiaaaa!”

Hmmm, gumamku membatin. Bangsa China bahkan untuk punya seorang anak saja harus berpikir kencang. Mengingat populasi penduduknya sudah 1,5 Milyar.

Nah, ini sampai empat anak, rasanya mustahil. Bahkan pernah kudengar cerita di Hongkong, jika orang China punya anak lebih dari satu, saat melahirkan akan dipersulit, bisa-bisa terkena denda. Namun, aku tak sempat mengatakannya kepada siapapun.

Semuanya serba cepat, tahu-tahu rombongan digiring lagi ke sebuah ruangan, semua tertutup. Ini ruangan dengan rak kaca penuh berisi asesori; kalung, cincin, gelang bermatakan giok hijau, warna-warni.

Samar kudengar terjemahan si manager China tersebut bilang, karena rombongan semuanya perempuan perkasa, Buruh Migran Indonesia yang sudah terkenal, dan dia sangat respek, maka semua barang jualannya akan diobral murah-meriah!

Bla, bla, bla!
Tahu-tahu dari harga awal 1000 dollar HK, berubah drastis menjadi hanya 100, 200 paling mahal 300 saja untuk satu kotak perhiasan indah.

Rombongan yang didominasi para Buruh Migran Indonesia atau TKW ini, mendadak berebutan, ya, semuanya memborong!

Kecuali diriku dan dua-tiga orang saja gegas ngeloyor keluar ruangan, kami sampai memaksa membuka pintunya yang awalnya terkunci rapat, bahkan dijaga dua orang petugas. Hadeuh!

Kembali ke dalam kendaraan, seakan-akan baru terbebas dari hipnotis atau entah apalah namanya, barulah terdengar keluhan. Sepertinya baru mereka sadari bahwa barang yang dibeli seharga 100 hingga 300 dollar HK itu, sesungguhnya jika dibeli di Mongkok; barang yang sama hanya seharga 10 dollaran saja.

“Aduuuuh, aduuuh, kita ketipu nih semuanya? Dasaaaar China!”

Entah siapa yang menggerutu, menyumpah serapah dari bagian belakang bis made in China itu. Entah benar entah tidak pula ini kendaraan keren buatan China. Meneketeheee, wkkkkkk!

Saatnya dibawa ke resto Abdullah, dan kami pun tanpa ragu lagi melahap semua hidangan, karena sudah diyakinkan pemiliknya adalah seorang muslim. Mangan, mangaaan, mangaaan.
@@@

(Visited 14 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: