Model pembelajaran bermain peran (role playing) merupakan salah satu model pembelajaran sosial, yaitu suatu model pembelajaran dengan menugaskan siswa untuk memerankan suatu tokoh yang ada dalam materi atau peristiwa yang diungkapkan dalam bentuk cerita sederhana.

medianeliti.com


A. Urgensi Peran Guru
Unesco mencanangkan empat pilar belajar yaitu
1). learning to know,
2). learning to do,
3). learning to be dan
4). learning  to live together

Merupakan pendekatan yang perlu digunakan dalam pembelajaran sains.

Dalam pembelajaran sains dianjurkan agar bukan guru yang mendominasi pembelajaran melainkan peserta didik.

Peserta didik harus diberdayakan agar memiliki pemahaman dan pengetahuan (learning to know) terhadap dunia nyata, dengan pengetahuan maka peserta didik dapat berbuat (learning to do).

Kemudian kemampuan berbuat dan bekerja sama maka peserta didik dapat membangun kepercayaan diri dan membangun jati dirinya sehingga dapat hidup mandiri (learning to be).

Kemudian dari pengalaman belajarnya melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya serta  menjalin kerja sama antar sesama manusia (learning to live together).

Empat pilar pendidikan yang dicanangkan oleh UNESCO bertujuan agar perkembangan sains selalu memiliki keterkaitan dengan perkembangan teknologi dan berpengaruh terhadap pendidikan sains.

Peran guru sebagai sumber belajar berkaitan erat dengan penguasaan materi pelajaran.

Guru yang baik adalah guru yang menguasai materi pelajaran dan jika peserta didik bertanya maka guru akan menjawab dengan penuh keyakinan.

Tugas utama guru adalah mendidik, membimbing, dan membantu keberhasilan peserta didik dalam proses belajar mengajar.

Role playing adalah berpura-pura menjadi orang lain dengan memainkan peran tertentu sesuai skenario yang ditentukan. Simulasi adalah mereplikasi suatu situasi nyata dalam pembelajaran. Role playing dan simulasi bertujuan untuk meningkatkan keterampilan sosial dan pemecahan masalah siswa.

sdm

B. Model Pembelajaran
Model mengajar merupakan salah satu cara yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar dan model mengajar sangat berpengaruh dalam pembelajaran.

Guru harus memiliki aneka ragam model pembelajaran yang akan diterapkan di dalam pembelajaran agar peserta didik tidak merasa bosan dan merasa senang mengikuti pelajaran karena guru menyampaikan pembelajaran sangat menarik.

Fenomena yang terjadi dalam proses belajar mengajar di dalam kelas adalah  guru yang tidak menguasai materi pembelajaran yang akan di ajarkan pada peserta didik yang akan ditunjukkan dengan perilaku-perilaku tertentu misalnya teknik penyampaian materi yang monoton, guru hanya duduk membaca materi pelajaran, suaranya lemah, tidak berani mengadakan kontak mata dengan peserta didik, dan sebagainya.

Perilaku guru yang demikian dapat menghilangkan kepercayaan diri pada peserta didik sehingga guru akan sulit mengendalikan kelas.

Untuk mengatasi hal tersebut , maka guru harus menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan membuat peserta didik betah berada dalam kelas.

Pembelajaran di Kelas adalah pembelajaran yang kompleks. Agar pelaksanaan pembelajaran kelas menjadi pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM) maka salah satu solusinya adalah dengan menggunakan model pembelajaran simulasi.

Model  simulasi adalah suatu model peniruan yang nyata beserta  keadaan sekelilingnya.

Menurut Betts (2009)  Simulasi adalah satu set teknik pendidikan dan pelatihan yang melibatkan individu dalam kehidupan nyata melalui role playing, sosiodrama, peer teaching, dan psychodrama, untuk mengembangkan dan memperkuat pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari di dalam kelas dan tempat kerja yang berkaitan dengan pemecahan masalah, pengambilan keputusan, kolaborasi, dan komunikasi.

Peranan guru dalam model simulasi sangat penting karena tugas guru adalah membangkitkan kesadaran peserta didik tentang konsep dan prinsip yang disimulasikan. 

Pada dasarnya dalam simulasi ini peran guru adalah eksplaining, refereeing, coaching, dan discussing.

C. Simulasi Role Playing


Dalam tulisan ini akan membahas simulasi role playing.

Role playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Hasil belajar didapat oleh siswa setelah dia mengikuti pembelajaran yang dilakukan di kelas.

sudirman muhammadiyah
(dosen sosiologi pendidikan)

Menurut Saptono (2003) simulasi role playing adalah simulasi yang menyenangkan, selain siswa harus memerankan peran tertentu siswa juga dapat mengembangkan kemampuan bersosialisasi dengan temannya.

Apron atau karton yang bertuliskan nama peran  yang dikalungkan pada siswa sesuai perannya digunakan untuk memperjelas peran seorang siswa.

Menurut  Cassidy (2009 ) Role playing atau bermain peran adalah bentuk simulasi yang bertitik tolak pada permasalahan yang berhubungan dengan tujuan untuk mengkreasi  kembali peristiwa-peristiwa sejarah masa lalu, mengkreasi kemungkinan masa depan, mengekspos kejadian masa kini dan seterusnya.

Menurut Saptono (2003) simulasi roleplaying adalah simulasi yang menyenangkan, selain siswa harus memerankan peran tertentu siswa juga dapat mengembangkan kemampuan bersosialisasi dengan temannya.

Apron atau karton yang bertuliskan nama peran  yang dikalungkan pada siswa sesuai perannya digunakan untuk memperjelas peran seorang siswa.

Urgensinya :

1). Simulasi role playing adalah simulasi yang menyenangkan, selain siswa harus memerankan peran tertentu siswa juga dapat mengembangkan kemampuan bersosialisasi dengan temannya.

Apron atau karton yang bertuliskan nama peran  yang dikalungkan pada siswa sesuai perannya digunakan untuk memperjelas peran seorang siswa.

2). Sintaks atau langkah-langkah pembelajaran dalam simulasi role playing adalah fase orientasi, fase latihan, fase pelaksanaan simulasi, dan debriefing.

3). Peran guru dalam simulasi adalah sebagai explaining, refeering, coaching, discussing.

4). Materi pembelajaran sistem peredaran darah pada manusia akan lebih mudah dipahami oleh siswa dengan menggunakan model simulasi role palying.

Disarankan :
1). Diharapkan pada materi pelajaran lain juga dapat diterapkan model simulasi dengan tipe yang lain selain role playing misalnya sosiodrama, peerteaching, dan psikodrama.

2). Selain simulasi masih banyak model-model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar.

D.Cara Simulasi Role Playing

Soebrata (dalam Sutino 2011: 37) mengemukakan penyajian langkah-langkah dalam menggunakan metode bermin peran adalah sebagai berikut :
1). Dideskripsikan skenario kajadian atau situasi yang dipentaskan

2). Mempelajarai karakteristik peranan yang akan dipentaskan

3).Memilih pemeran dan menugaskan untuk menghayati peran yang harus dibawakan

4). Melaksanakan kegiatan bermain peran

5). Kegiatan mendiskusikan hasil bermain peran

Dr.Sudirman, S. Pd., M. Si.

Dosen Sosiologi Pendidikan

E. Referensi Sunting
Djamarah, S. 2005. Guru dan Anak Didik dalam Interaktif Edukatif suatu Pendekatan Teoritis Psikologis. Jakarta : PT Rineka Cipta

Departemen Pendidikan Nasional 2005. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Julie Cassidy. 2009. Journal of The Australian Tax Teacher Association.Australia
Jenny Jones, 2012. International Journal of Evidence Based Coaching and Mentoring. Canada.

Kristen Betts, 2009. Asia Pasific Journal of Cooperative Education. New Zealand
Rustamam dan Nuryani, 2003. Strategi Belajar Mengajar Biologi . Bandung : UPI

Sudjana Nana, 2000. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar Bandung : Sinar Baru Alegesindo

Uno B. Hamzah, Mohammad Nurdin 2011. Belajar dengan Pendekatan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan (PAIKEM).Jakarta:Bumi Aksara

(Visited 2,495 times, 4 visits today)
Avatar photo

By Sudirman Muhammadiyah

Dr. Sudirman, S. Pd., M. Si. Dosen|Peneliti|Penulis| penggiat media sosial| HARTA|TAHTA|BUKU|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.