Pipiet Senja

Anno, 1975
Kalau bicara urusan hantu, jin belau, kuntilanak, genderewo, rasanya tidak bakalan ada habisnya, ya Saudara?

Ada yang mengalaminya sendiri, ada juga yang sekadar mendengar kisah dari temannya yang entah benar atau tidak, wallahualam.

Ini pengalamanku yang sering bolak-balik ke rumah sakit, dan tiga kali mengalami masa yang disebut “in-coma” oleh paramedis.

Rumah Sakit Dustira di Cimahi, pertama kali menjadi pasiennya ditempatkan di kamar untuk kelas perwira menengah, karena waktu itu ayahku seorang Kapten.
Dari kamarku bisa kulihat bangunan bangsal 13, tempat pasien sakit jiwa.

Entah mengapa harus ditempatkan di bangsal bernomer 13, tapi kutahu, beberapa rumah sakit menempatkan mereka memang di ruangan bernomer 13.

Acapkali kudengar lolongan menyayat dari arah bangsal 13, mereka menyebutnya Blok Zal. Tepatnya meratap, tak sudi menerima diri mereka disebut orang gila.

Suara-suara jeritan, lolongan yang terdengar mengerikan itu terutama akan semakin sering menggema dari Blok Zal ini, menjelang tengah malam sampai subuh.

Acapkali kubayangkan mereka sengaja saling sahut-menyahut, mungkin menjeritkan kekecewaan dan kemarahan terhadap dunia.

Mulailah segala imaji liarku bermain-main di benak, meskipun saat itu aku tak bisa menuangkannya. Namun, suasana macam itu sungguh melekat dalam kenangan dan memori otakku.

Kelak, bertahun kemudian aku akan menuangkannya dalam bentuk cerpen, novelet atau novel.

Suatu hari, aku ditransfusi, entah untuk ke berapa kalinya, lah wong sudah 17-an, sedangkan aku ditransfusi sejak umur 10 tahun.

Emak sedang gering, adik-adikku sibuk sekolah dan ujian. Jadi, aku harus membiasakan diri tidak ada yang menjaga. Harus mandirilah sebagai pasien kelainan darah bawaan, cacat genetik dan seumur hidup!

Oya, waktu itulah aku baru menyadari betul bahwa diriku ini pasien yang takkan tersembuhkan. Intinya, jika disiplin berobat bisalah bertahan, tetapi jika tak pedulian dipastikan bakal gameover sebentar lagi.

Aduhai, dokter Prie keturunan Tionghoa, dialah yang menanganiku ketika itu, kecebadai euy. Kayak artis Drakor masa kini. Aku suka memandanginya. Hehe, tengkiyuuuu, mhuuuaaa!

Nah, di sebelah kananku pasien entah apa penyakitnya, sudah sepuh dan kabarnya telah tiga minggu dalam kondisi; mati ogah, hidup pun enggan. Dia pun tidak ditunggui keluarganya. Padahal, konon beliau ini ibu seorang Gubernur di Sulawesi sana.

Oya, dulu belum ada ruang yang disebut ICU. Jadi ditaro saja pasien gawat pun di pavilyun.

Kalau suuzon, kemungkinan sekali keluarganya sudah tak bersedia merawatnya, maka dititipkanlah si Oma di rumah sakit nun jauh di mata. Bayangkan saja jarak Cimahi-Sulawesi, wow, apa bukan dibuang tuh namanya, Tuan Gubernur?

Aku sedang menerima botol yang keempat menjelang malam itu. Darahnya belum dicuci, jadi masih darah lengkap yang sering membuatku menggigil setengah mati, berhenti sebentar diganti infusan.

Biasanya kemudian dilanjutkan kembali setelah reda demamnya. Demikian berhari-hari dan bermalam-malam.

Pukul sepuluh malam, kudengar bunyi dentang lonceng dari kejauhan.Di Cimahi ada beberapa gereja tua peninggalan Belanda, maklum kota tentara sejak zaman kolonial. Nah, mendadak dari arah pasien di sebelahku terdengar ngorok yang berbunyi keras sekali; groooook, groooook, groooook!

“Oma, ngoroknya pelankan saja, ya Oma,” pintaku bagai orang gila saja, kan tak mungkin juga disahuti.

Wong sudah koma berpekan-pekan.
“Gheeeerrrrr!”
Ops, dia menyahuti, meeen?!

Iseng kusibak pelan tirai putih yang menghalangi kami. Oya, bangsal itu terdiri dari tiga pasein, ya, aku di tengah-tengah. Ranjang sebelah kiriku kosong melompong. Hmm, dia ternyata masih dalam posisi semula yaitu; terbujur tak berdaya dengan selang oksigen menempel di hidung, selang-selang lainnya menempel di mana-mana.

Ya, di bagian perut, di bagian bawah juga untuk mengalirkan urine ke kantongnya, selang infus berwarna kuning dan putih. Halaaah!

“Oma, marah, ya?” tanyaku pula masih iseng.
“Gheeerrrrr!”
Syeeet dah, etaaaah saha?

Benar loh, ada yang menyahutiku begitu saja; gheeer, gheeer, tetapi tak tahu dari mana munculnya. Wong hidungnya dan mulutnya ada selang-selang!

Mendadak bulu kudukku meremang. Kayaknya bukan si Oma yang menyahuti. Hiiiy, kutarik selimut yang melorot, kututup wajahku. Bruuuuk!

Kemudian aku berusaha keras tak mau peduli dengan sekitarku.
Yo wis, merem, mereeeem!

Eh, ndilalah, beberapa saat kemudian ada yang berdehem;”Eheeeeem!” demikian bunyinya.
Tanpa sadar kubalas;”Eheeem!”
Mendadak ada yang balas dehemku:”Ehem! Eheeeemmm!”
Seriuuus, apaan sih?

Darah mudaku sontak naik ke ubun-ubun. Meskipun lagi ditransfusi dan takaran darahku cuma 5 saja, tetapi aku dididik gaya militer oleh bapakku sang pejuang ‘45.

Jadi, kukuakkan selimut, tanganku kembali menggerayang tirai pembatas, kuintip si Oma. Kelakuannya, eh, maksudku posisinya masih seperti sebelumnya, terbujur kaku dan lemah, kunampak. Napasnya tinggal satu-satu, woaaaa!

Lantas siapa itu yang dehem-dehem dan bilang; gheeer-gheeer?

Lelah sudah memikirkannya. Malam terasa sangat panjang. Mataku sungguh tak bisa terpejam barang sedetik pun. Perawat datang memeriksaku. Seorang perawat cantik, aku biasa memanggilnya Teh Elly.

“Teh, temani aku saja di sini, ya, pliiiis,” pintaku memelas.
“Sebentar saja, ya sayang. Di kamar sebelah ada pasien gawat baru datang. Aku ditugaskan di sana.”
“Memang yang jaga berapa orang?”
“Hanya tiga orang…”
“Untuk 50 pasien?” seruku kaget.

Dia mengangguk dan tersenyum. Beberapa saat aku punya teman. Kami ngobrol ngalor-ngidul sampai sekitar pukul satu malam, seketika si Oma kembali ngorok keras-keras.
Ghroooook, ghrooook, heeekkkkk!

Tiba-tiba terjadi kesibukan luar biasa. Suster Elly memanggil teman-temannya dan dokter jaga.

Mereka pun melakukan tindakan, entah apalah nama medisnya, yang jelas, aku tak mau menyaksikannya.

Kututup mata, meskipun kubiarkan suara-suara itu memasuki gendang pendengaranku.

Innalilahi, si Oma akhirnya pergi juga menghadap Sang Pencipa pukul 01.36. Demikian perawat Elly menyatakan. Ia kemudian dibantu temannya mengurusi Oma, sehingga rapi dikafani.

“Oke, selesai. Tunggu dua jam lagi kita angkat ke kamar jenazah,” entah suara siapa itu yang jelas mendesir di telingaku.

Setelah para perawat pergi, tinggallah aku dengan jenazah si Oma di kamar yang semakin hening itu.

Kurasa hatiku sudah kebas dari rasa takut dan ngeri. Ini bukan kali pertama diriku berada satu kamar dengan jenazah. Bahkan pernah di dalam satu kamar untuk tiga orang, dirikulah yang masih bernapas.

Artinya, aku berada di antara dua jenazah!
Malam itu, masih kuingat adalah malam Selasa.

Aku pun berusaha melanjutkan sisa waktuku, meskipun aneh bin ajaib, secara samar-samar kupingku masih saja mendengar suara aneh itu; “Gheeerrrr, ghrooook, gheeeer, ghrooook!”

Entahlah, suara apakah gerangan itu. Sampai pulang sekalipun, bahkan sampai detik kutulis postingan ini dan kusajikan kepada kalian, sobatku di manapun; aku tak pernah tahu milik siapakah suara itu.

(Visited 6 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Aktif Mentor Literasi untuk para santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *