Cetakan Pertama Zikrul Hakim

Bab 2: Berkah Kepergian Nenek

Ada bagusnya bagi Rumondang ditinggalkan oleh neneknya. Karena perilaku dan keinginan sang nenek sangat berbeda dengan nenek teman-temannya. Apabila nenek temannya punya keinginan melihat dan memajukan anak-cucu, mengejar cita-cita. Seperti Ompung si Liani, meskipun sangat miskin, bersikukuh menyekolahkan anak dan cucunya hingga ke perguruan tinggi. Dibela-bela walau harus berutang sana-sini, menggadaikan, bahkan sampai menjual seluruh harta benda. 

“Kalau Ompungboru masih ada, tentu aku tak kan bisa sekolah di Sidempuan macam sekarang, ya, Pung?” cetus Rumondang ketika diantar oleh kakeknya ke tempat kos di Kabupaten. 

Saat itu dia akan melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA. Di kampungnya belum ada SMP. Jadi ketika SMP pun dia harus berjalan kaki 10 kilometer pergi dan pulang ke Kecamatan. 

“Iyalah. Aku pun takkan kawin lagi sama si Joruk, bekas teman kau itu,” sahut kakeknya sambil terkekeh. 

Rumondang mesem dan menggoda kakeknya. “Jadi, lebih suka mana, Pung? Saat masih ada Ompungboru atau sekarang?”

“Ah, macam mana pertanyaan kau itu? Menggoda aku saja, ya?” elaknya tersipu malu, tapi sesaat kemudian dilanjutkannya. “Tapi, Butet, kalau aku pikir-pikir pula, bah! Enakan sekaranglah kita ini, ya, Butet?”

Rumondang tertawa geli melihat kelakuan kakeknya. Belum 40 hari meninggal Ompungboru, ketika Ompung menikah lagi. Joruk, bekas sobat kecilnya, teman bermain di sungai dan mengaji di surau. Tentu saja mulanya tindakan kakeknya itu menjadi gunjingan orang sekampung. Namun, kemudian reda sendiri. 

Siapa pula yang berani ganggu gugat kakeknya? Orang yang paling berkuasa, paling banyak harta, baik budi, ringan hati, dan selalu berbagi dengan masyarakat sekitarnya. Seorang pelopor pendidikan di desa mereka. Karena pernah berkelana ke Malaysia, Makkah, Jeddah, Iran dan Irak. 

Biarlah Sang Khalifah punya istri lagi, pikir mereka. Lagi pula, memang diwenangkan meski dia ingin punya istri sampai empat sekalipun. Iya kan? Apalagi ini sedang melajang kembali. Siapa pula yang mau kedinginan sendirian, menjelang hari-hari senja dalam hidupnya? Nah, yang penting dia tetap baik hati, selalu ikhlas berbagi hartanya dengan masyarakat. 

Walau mendapat tentangan hebat juga dari anak-anaknya. Ompung tetap melanjutkan niat dan hasratnya, menikahi remaja belasan tahun sebaya cucunya. Dia merasa sudah cukup adil, membagikan sebagian hartanya dengan anak-anaknya. Hidup akan terus berlanjut baginya. Setelah dua per tiga hidupnya dihabiskan dengan seorang istri nyinyir. Dia masih ingin menikmati sisa-sisa hidupnya dalam suasana yang sangat berbeda. 

“Hmm, Ompung, Ompung,” gumam Rumondang sambil mesem-mesem sendiri. Teringat kembali bagaimana saat kakeknya begitu keras kepala, mewujudkan keinginannya menikahi Joruk. “Tak takut dimusuhi anak-anaknya, tetap bersikeras menikahi Joruk. Hm, sebenarnya alasan apa, ya, Ompung itu? Segitu umurnya konon sudah 105 tahun?”

Ah, tapi meskipun sudah lebih seabad begitu, penampilan kakeknya tampak tegar,tangguh masih gagah. Gigi-giginya masih banyak, rapi, dan kokoh. Matanya pun masih awas, tanpa kacamata. Perawakannya juga sama sekali tidak bungkuk, apalagi peot. Ompung masih gagah, kuat, dan perkasa sekali. Kemudian suaranya bila sedang mengajari anak-anak mengaji atau markobar itu; subhanallah, begitu lantang dan bening! 

“Hei, tunggu!” 

Di atas sebuah rambin bambu. Ada seseorang yang menyapanya lantang. Rumondang merandek dan kehilangan seluruh lamunannya. Di depannya menjulang seorang wanita separuh baya. Dia meletakkan bawaannya berupa sekarung padi, yang semula dijunjung di atas kepalanya. Agaknya hendak dibawa ke poken. Hari Kamis memang hari pasar di kampung mereka. 

“Ya?” Rumondang menatapnya.

 Peluh bercucuran di sekujur tubuh wanita perkasa itu. Wajahnya yang persegi, wajah khas wanita Batak, tampak memerah dan kehitaman. Seraut wajah yang akrab dengan sengatan matahari. 

“Cucunya si Ompung Ni Sahat kau ini, ya?” cetusnya sambil tersengal-sengal, berusaha meredakan napasnya. 

“Eee, iya… Siapa, ya?” Rumondang balik bertanya. Dia sungguh mengagumi kekuatan dan kemandirian wanita-wanita perkasa di kampungnya. Termasuk wanita di hadapannya, juga mendiang neneknya. 

“Alaaah kau ini….” Ditepuknya pipi Rumondang agak keras, hingga gadis itu terkejut. “Sombong ‘kali, bah! Aku ini Inangboru kaulah itu kan?” 

Oh, Rumondang baru teringat lagi. “Mamak Bang Sagala yang di kampung seberang itu, ya?”

“Iyalah itu! Masa pula kau lupa sama anakku itu? Calon suami kaulah dia itu, Butet… Kapan kau datang dari Sidempuan?”

“Eh, eh, tadi malam….” Rumondang menggeragap.

Orang tua ini tanpa tedeng aling-aling ‘kali’ bah! 

“Pake mengaku-ngaku anaknya calon suamiku?” Rumondang mendumel dalam hati. 

“Sudah lulus kau sekarang, ya, Butet?” 

“Sudah, eh, maksudku lagi tunggu pengumumanlah…”

“Kalau kau ini pastilah lulus. Pintar… He, mau ke mana memangnya kau ini?” 

“Ke kubur Ompungboru, Bou.” 

“Jangan lupa nanti mampir ke rumah kami, ya. Abang kau, si Sagala, lagi di rumah. Menganggur dulu dia sekarang, motor ojeknya lagi ngadat…” 

Berkata begitu tangan-tangannya yang kokoh mengangkat kembali karung bawaannya. Peeng, blek, ditempelkan kembali di punggungnya. Tanpa minta bantuan siapa pun. Selang sesaat perempuan itu sudah berjalan cepat melintasi sisa rambin menuju poken. 

Rumondang geleng kepala. Kekuatan perempuan itu mengingatkannya pada mendiang neneknya. Kuat bagai banteng ketaton neneknya itu. Kalau musim panen, neneknya akan turun langsung sendiri. Sering mengangkuti padi berkarung-karung dari persawahan ke rumah mereka. Perjalanan jauh lima-enam kilometer, terus mengikuti bolak-balik dan berhari-hari demikian. Sejak muda hingga tua. Aneh, padahal neneknya seorang istri dari orang berada. 

“Menyuruh halak kau bilang, Butet? Bah! Baiknya aku kerjakan sendiri. Biar hematlah kita!” Begitu dalihnya selalu setiap kali Rumondang mengasihaninya. 

Menurut cerita Ompung, saat pertama kali mereka menikah pernah neneknya diajari membaca dan menulis. Sekali-dua masih mau mematuhi suami. Namun, hari-hari selanjutnya neneknya lebih suka memilih mengambil cangkul dan pergi ke sawah. 

“Mendingan mencangkul tanah keras bagai cadas daripada belajar baca-tulis,” katanya. 

Hingga akhir hayatnya neneknya tetap seorang buta huruf. Namun, anehnya dalam hal hitung-menghitung penjualan hasil panen. Tak perlu kalkulator lagi. Orang sekampung sudah mengetahui hal itu. Kakek gemar membaca, mencari ilmu dunia-akhirat seakan tak pernah henti. Sebaliknya, neneknya mengelola harta peninggalan leluhur dengan telaten dan cermat. 

Sering pula neneknya mengeluh. “Mau tahu kerja Ompung kau itu, Butet? Begitu sajalah dari dulu, baca buku, kitab, mengaji. Kalau bosan, pergi dia ke lapo tuak sama teman-temannya!”

“Apa saja kerjanya di lapo tuak itu, Pung?” tanya Rumondang ingin tahu.

“Entah-entahlah itu!” elak neneknya, melanjutkan pekerjaannya, menyiangi sayuran yang baru diangktnya dari kebun.

Demikianlah pekerjaan nenek yang selalu melibatkan dirinya setiap hari. Rumoandang tak bisa mengeluh. Tepatnya dilarang mengeluh. Kalau tidak, ia akan merasakan pukulan di punggung, kaki dan tangannya.

@@@


(Visited 2 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Aktif Mentor Literasi untuk para santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *