Dapat puisi anakku saat dia dihina habis sebagai lelaki

Maafkan Aku, Ibu
Haekal Siregar

Ketika kau ayom aku menapaki terjalnya kehidupan
berhiaskan curam jurang kiri dan kanan
dan yang ku mampu hanya menjadi beban

Tanpa keluh kau lanjutkan perjalanan,
mengajari, membesarkan, memberikan kasih sayang
cuma bekal satu tujuan anakmu harus kau jadikan!

Ketika langkah kaki ini lebih banyak menapaki rimba belantara
ketimbang menjalani kunjungan ke tempatmu berada
Maafkan aku ibu!

Ketika hati ini lebih banyak mendoakan keselamatanku sendiri
ketimbang meletakkan harapan atas kesehatan dan ketenanganmu
Maafkan aku ibu!

Ketika dengan bangga aku tunjukkan betapa besar cintaku kepada alam Indonesia
Namun terlupa untuk menunjukkan betapa jauh lebih besar cintaku kepadamu
Maafkan aku ibu!

Terlupa aku
bahwa setiap langkah yang kuayun menjelajahi indah negeriku
Adalah hasil semua cucur keringat dan tetes air matamu

Terlupa aku
bahwa indah surga negeriku
tak seindah surga di telapak kakimu

Kumohon
terimalah maafku ibu!
Teriring terima kasihku padamu
atas semua perjuanganmu untukku

Ibu
Walau hari ini adalah hari ibu
tapi bagiku setiap hari adalah harimu
karena hidupku, langkahku, puncak pencapaianku
semua hasil perjuanganmu ibu

Hari ini adalah hari ibu
tapi hari ini hanyalah satu dari sekian banyak hari
dimana aku bisa dengan bangga menyebut
My Mom is Super Mom!

Selamat hari ibu bagi seluruh Sahabat IM!
Imbangi langkah menuju puncak dengan langkah mengunjungi ibumu
Tundukkan kepala ketika perjuanganmu membawamu menggapai puncak tertinggi karena sebesar apapun perjuanganmu tak sebesar perjuangan ibumu membesarkanmu

(Visited 33 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.