Pipiet Senja

Rela Menjadi Pelayan Toko

Pada 1978, namaku sebagai penulis muda dari Cimahi mulai berkibar di koran-koran Bandung, Jakarta, Padang dan Medan. Puluhan cerpen telah kutulis, mejeng dengan indahnya di koran-koran dan majalah. Kali ini aku telah bergabung dengan komunitas pekerja seni, Teater Braga pimpinan (alm) Uddin Lubis.

Kami mangkal, nongkrong di gedung Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. Bagiku tempat ini merupakan kampus sejati. Ibarat kawah Candradimuka, di mana karya kita bisa setiap waktu didiskusikan bahkan dibantai rame-rame oleh para senior.

Suatu hari Uddin Lubis mengabarkan bahwa adiknya telah diterima bekerja di Penerbit Karya Nusantara. Penerbit ini memiliki sebuah toko buku besar di kawasan jalan Asia-Afrika, tak jauh dari Gedung Asia Afrika yang bersejarah itu.

“Mereka lagi butuh naskah novel untuk diterbitkan. Ayo, bikinlah novel, Pipiet,” cetus Uddin Lubis.

Ketika usai novel berjudul Biru Yang Biru itu, maka berangkatlah aku ke kantor Karya Nusantara, letak para stafnya di sebelah toko buku. Bertemu dengan adik Uddin Lubis, dia malah menyarankanku untuk melamar kerja saja di situ.

“Biar urusan novelmu cepat diterbitkanlah di sini, Piet,” sarannya mengompori sekali.

“Tapi, Bang, aku ini tak punya ijazah SMA.”

“Memangnya ke mana ijazah kau?”

“Tamat pun taklah aku ini, Bang… Maklum, penyakitan,” kataku terus terang.

“Ijazah apa pula yang kau punya?”

“SMP… bisa tak?”

“Biar aku aturlah itu. Kau kan sudah jadi seorang penulis.”

Maka, berkat dukungannyalah aku kemudian dengan mudahnya diterima bekerja. Jabatanku hebat juga, euy, pramuniaga, secara cuma ijazah SMP!

Hari-hari pertama aku merasakan langsung ada gap antara diriku dengan pramuniaga lainnya. Mereka bersikap dingin, acuh tak acuh bahkan sinis terhadapku. Apalagi waktu mereka melihat aku sering berbincang akrab saat rehat dengan orang-orang tim editor.

“Kamu ini, memangnya siapa sih?”

“Keluarganya si Bos, ya?”

“Somse, iih, meuni somse pisan!”

Dan banyak lagi cercaan, sindiran yang melukai mereka lontarkan, langsung mengarah kepadaku. Meskipun aku telah berusaha keras agar tidak melakukan kesalahan. Masih saja mereka, pramuniaga yang menor-menor dengan rok mini itu, bersikap judes dan galak kepadaku.

Hari demi hari kulalui dengan riang dan hepi-hepi saja. Bagaimana tidak hepi dan riang? Coba saja, si kutu buku ini ditaruh di gudangnya buku, beragam buku ada di sini. Serasa di sorga atuh, euy. Hoho!

Karena mereka nyaris tak memberiku kesempatan untuk meladeni pembeli, maka diam-diam aku memilih sibuk di bagian gudang yang letaknya di lantai dua. Mengatur buku yang keluar dan masuk di tengah-tengah tumpukan buku, duhai, sumpe deh; sorga beneran!

Di sini ternyata aku bisa membaca buku apapun yang kuinginkan, alamak, nikmatnya!

Gaji pertama kuterima setiap akhir pekan, hari Sabtu. Untuk ukuran seorang penulis, nilainya sungguh tak seberapa. Karena satu cerpenku saat itu diberi honor dari media Ibukota sekitar 15 ribu, di daerah 10 ribu. Sementara gajiku jika ditotal sebulan hanya 13 ribu rupiah, belum dikurangi ongkos dan makan. Sungguh tidak balik modal sama sekaleee!

Biarlah, aku harus bertahan, setidaknya sampai novelku diterbitkan, pikirku nekad. Sementara ibuku berulang kali mengingatkan kondisiku, waktu itupun setiap dua bulan sekali aku sudah harus ditransfusi darah.

Sampai suatu hari seorang rekan yang selalu merasa dituakan alias senior, mendatangiku dan mencak-mencak, mengomeliku.

 “Heeei…. Kamu, kamuuuu! Enak-enakan saja ya nyantey di sini. Kita pada sibuk di bawah, banyak pembeli, tauk! Sana, bantuin kita di bawah!”

“Siaaap, Bos!” sahutku, buru-buru terbirit menuruni tangga.

Aku ditempatkan di bagian konter paling depan, tempat buku-buku sastra. Agaknya ada satu bis wisata yang menurunkan sekitar 100-an penumpang. Aku segera sibuk meladeni pembeli, membuatkan notanya.

Malangnya, banyak buku yang tak kutahu harganya!

Sempat aku minta seorang rekan daftar harganya, tapi ia sama sekali tak menggubrisku. Waktu itu belum ada komputer dengan program penjualan marketingnya. Lumayan ribet, kewalahan, sebelum kutulis, kutanya dulu harga, sementara yang beli mengantri.

Agaknya kelambanan kerjaku dicermati betul oleh rekan senior, bos jejadian itu. Ketika antrian mulai mengular, sementara aku semakin kewalahan, sampai tak tahu pula apa yang harus kucatat, keringat bercucuran sebadan-badan. Kepingin mewek rasanya!

Tiba-tiba dia mendekatiku, tepat di belakangku berkata lantang:”Eh, ari maneh bisa digawe henteu ieu teh, hah? Meuni leleda pisan, siah, nya, dasar beleguuuuug!”

Deeegggh!

Serasa seketika ada yang menonjok ulu hatiku. Jika diterjemahkan sebagai berikut: “Kamu ini bisa kerja gak sih, lu, hah? Lemot banget lu, dasar beleguuug!”

Nah, itu istilah belegug adalah cacian yang sangat kasar, dan hanya diucapkan oleh seorang barbar saja. Bego banget!

Sebagai anak pertama di rumah aku dituakan, diperlakukan santun dan respek oleh adik-adik. Ibu dan Bapak pun mana pernah mengasariku, bahkan acapkali mereka memperlakukanku tak ubahnya bagai endog beubeureumna, telor merahnya, barang berharga, mungkin karena penyakitan pula.

Untuk beberapa jenak aku hanya tertegun, jantungku serasa hendak lepas, ada yang runtuh jauh di relung hatiku. Harga diri, kehormatan, duhai, dimanakah gerangan diletakkan?

Sebelum aku bereaksi, seketika ada sesosok tinggi ramping, rambut gondrong, celana jins dan t-shirt berlogo Dapur 23761, sosok khas seorang seniman, menghampiri kami berdua.

Ia menuding ke arah si bos jejadian dan berkata lantang: “Wooooi! Yang belegug bego dan tak punya hati nurani itu, siapa? Ya kamu itulah, neng anu beleguuuug!”

Yan Hartland, anak buahnya Remy Sylado!

“Buat apa sih kamu kerja beginian, Pipiet Senja? Ayo, ikut aku!” katanya sambil menghela tanganku, menggiringku keluar toko buku terbesar di kawasan Asia-Afrika itu.

Aku tak bisa mengelak, sekali ini, lebih baik ikut mengintil di belakang anak indo Jerman-Sunda itu, yah, daripada kudu meladeni si biangnya belegug tea. Ops!

Esoknya aku tak bisa masuk, tubuhku lemas sekali. Takaran darahku anjlok, langsung diangkut ke UGD RS. Dustira, ditransfusi. Sepekan tidak masuk, akhirnya aku mengundurkan diri. Karena sungguh tidak balik modal, lagipula sudah kudengar dari Bos bahwa novel perdanaku siap cetak bulan depan.

Demikianlah, gara-gara visi dan misinya kepingin menerbitkan novel perdana; Biru Yang Biru, Karya Nusantara. Pekerjaan pertama yang hanya kulakoni sebulan lebih beberapa hari saja.

@@@

(Visited 25 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

2 thoughts on “Demi Novel Perdana”
  1. Assalammu’alaikum .. Panggilan apa yang harus saya panggil untuk anda? Jika ada alamat anda di Bandung, insya Allah saya akan menyambung tali silaturrahim. Saya Zulkifli Lubis, anaknya (alm.) Uddin Lubis. Tinggal di Bandung di Griya Permata Asri Blok C2 No.68. Nomor whatsapp 0852.2427.9388

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: