Pipiet Senja

Melaka-Makassar-Jakarta-Singapore. November-Desember 2011.

Satu bulan ini merupakan hari-hari yang sangat padat untukku. Undangan seminar dan workshop kepenulisan mengalir bak tiada berujung. Mulai di sekitar Jabotabek, Bandung, Jogja, Solo, Surabaya, Pekanbaru, Padang, Medan hingga mancanegara.

“Di mana sekarang, Teteh?” SMS Donie Perdanawati, sahabat fesbukerku yang baik hati dan rajin mengirimiku kopi putih Negeri Jiran, tempat mukimnya kini. Kubaca selintas ketika aku menuju Bandara Cengkareng.

Saat kubalas tentang keberadaanku, dia segera menelepon dan menertawaiku. Geli sangat terdengar di kupingku.

“Hadeuh, si Teteh meuni marema pisan nya alias laris manis banget. Hihi!”

Ïya nih, hayu, mau ikutan?”

“Hiiih! Teu puguh urusan atuh, Teteh. Wilujeng ngalayap we, hihi!”

Alkisah, aku diundang ke Melaka bersama rombongan sastrawan dari Sumbar. Seperti biasanya, aku datang mendahului acara. Jadi, kali ini bisa raun-raun menikmati transportasinya Kuala Lumpur. Mereka menyebutnya MTR apa MRT,ya. Pokoknya comuterline ala Negeri Jiran. Uenaaak tenan!

Bersih, nyaman dan damai. Jangan samakan dengan KRL Bogor-Kota, apalagi jika pagi hari. Jauhlah, Bo!

Ifendayu dan Anazkia, dua anak BMI Malaysia. Ketika itu istilahnya Buruh Migran Indonesia. Mereka setia mendampingi, membawaku ke komunitasnya. Memintaku untuk menyebar virus menulis di kalangan teman-temannya.

Puncaknya, ketika pulang dari Melaka, rombonganku berkoar-koar jualah di hadapan audiens para BMI. Panitia dadakan mengambil tempat di Es Teller. Seruuuu!

Nah, dilanjutkanlah lima hari lima malam pusing-pusing di Negeri Jiran. Banyak kudengarlah cakap Melayu. Sampai terngiang-ngiang terus di telingaku gaya cakap mereka tuh. Ipin-Upin sangatlah; selamat pagi, Cikgu!

Pulang dari Kuala Lumpur, tidak langsung ke rumah mengingat esoknya harus terbang pula ke Padang. Terbayang saja bagaimana akan ribet alias repot luar biasa, jika ke Depok pada tengah malam itu. Bisa dua jam di jalan, sedangkan pesawat yang akan menerbangkanku ke Padang pukul sembilan pagi. Hadoooh!

Malam itu, setelah urusan delay-delay lebay; gheeerrrr!

Tibalah diriku yang hanya gendol-gendol ransel berisi laptop kecil di Bandara Cengkareng. Biasalah langsung dirubung-rubung kuli, calo dan sopir taksi liar.

Nah, detik-detik inilah sempat terjadi insiden yang lumayan menguras enerji seorang Manini, perempuan 55 ini. Apa pasalkah, Puan?

Di pesawat aku janji kepada dua anak BMI Malaysia yang kabur dari kilang untuk bantu mereka, supaya luput digiring ke Terminal 4.

Ternyata aku luput, lupa mengingatkan dua anak itu agar menyembunyikan paspor mereka. Begitu kami sudah melewati Imigrasi, dan tinggal selangkah lagi keluar pintu, mendadak dua petugas berjaket BNP2TKI menyergap kami!

Ternyata salah satu anak BMI itu lupa menyembunyikan paspornya. Jadilah keburu kepergok si mata alap-alap, alamaaak!

Hampir satu jam aku berusaha ngotot, mengatakan bahwa kedua anak itu adalah muridku, dan sudah janji akan tinggal bersamaku di Depok.

“Tidak bisa, Bu, ini sudah prosedurnya. Dua anak ini TKW, kami akan mengumpulkannya dengan TKW lainnya di Tetminal 4.”

“Sekalian saja bawa aku ke Terminal 4,” pintaku nekad.

“Tidak bisalah. Ibu kan bukan TKW. Sudahlah, Bu, jangan mempersulit, kami hanya menjalankan tugas. Apa Ibu mau dipanggilkan sekuriti?”

“Sebentar, Pak, mereka sama sekali tidak punya duit loh. Nanti mohon jangan dilama-lama, ya. Jangan perlakukan mereka seenaknya, ya Pak, pliiiis…..”

Jangankan didengar, sepertinya dilirik pun tidak. Lepaslah dua gadis BMI Malaysia yang malang itu. Entah bagaimana pula nasibnya. Aku hanya bisa berdoa, semoga mereka sampai di kampungnya masing-masing dengan selamat.

Kulirik jam di tembok, sudah menunjukkan tengah malam. Letih, kesal, marah, kecewa sekaligus pusing tujuh keliling, seketika menyergapku dengan telak. Beberapa saat lamanya aku menenangkan diri, beli capucino dari mesin minuman. Sepuluh ribu, sungguh capucino dingin pertama kalinya yang kuminum.

 Uheeeek deeeh, gak puguh urusannya di lidah. Lah iyalah, di mana-mana juga kopi mah enaknya panas atuh, Gan!

“Rosi, boleh ta Teteh singgah di kosanmu?” pintaku kepada adikku di Rawamangun. “Masya Allah, siapa nih, ooh, Teh Pipiet? Nya mangga atuh, Teteh, sok we ka dieu, duh meuni karunya teuing,” balasnya terdengar ngadaregdeg alias menggeletar.

Mungkin kasihan sekaligus bingung. Tumben, si Teteh sok bergaye resmian, dalam logat aneh pula. Alhasil, malam itu mobil yang kurental jenis Avanza, meluncur ke kawasan Rawamangun.

Ini ditipu juga dengan cara yang halus. Awalnya sopir itu bilang hanya 100 ribu ke Rawamangun. Namun, ternyata di pertengahan jalan, tiba-tiba dia bilang harus ditambah dengan 100 ringgit. Entah tahu dari mana kalau aku baru kembali dari Malaysia.

“Saya gak bawa ringgit, Pak, lagian tadi kan mintanya hanya 100 ribu. Gimana sih si Bapak ini?” sergahku dalam nada galak.

Yowis, sekalian saja, pikirku, kalaupun dia mau turunkan aku di jalan tol, masa bodohlah! “Tahu gak, Pak, kurs satu ringgit itu 3700 rupiah?”

“Gaklah, seringgit Malaysia itu kan cuma seribu rupiah,” bantahnya sok tahu nian.

Iiih, kepingin nabok aja jadinya!

“Bapak maunya sekarang ditambah berapa sampai Rawamangun?”

“Ya sudah, 70 ribu lagilah.”

Daripada berantem terus, ya, sudahlah, hitung-hitung sedekah saja, pikirku.

Akhirnya sampailah di belakang kampus UNJ tepat pukul dua dinihari.

“Duh, Teteh, karunya teuing,” sambut adikku saat melihatku menggeloso saja di ujung gang, bersama satu koper penuh oleh-oleh pemberian anak-anak BMI Malaysia.

Ya, karena rumah kosannya terletak di dalam gang sempit. Hanya bisa dilintasi motor atau jalan kaki. Di situlah si sopir taksi kacrut itu menurunkanku.

(Visited 11 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Aktif Mentor Literasi untuk para santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

2 thoughts on “Menyebar Virus Menulis di Negeri Jiran”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *