Pipiet Senja

Minggu, Guangzhou, 2 Oktober 2011
Berangkat dari Causeway Bay menuju station MTR pukul 06.30, lanjut dengan kereta menuju Admiralty. Ganti lagi MTR menuju Yao Ma Tei, dan masih pindah lagi kereta menuju Lo Wu, perbatasan Hongkong dengan China. Kereta-kereta ini konon melintasi terowongan bawah laut, daratan dan seperti jembatan layang di atas.

Saya ditemani Lea (Heni) seorang BMI HK yang belum lama sukses diwisuda sebagai sarjana pada St. Mary’s. Lea pun diundang sebagai perwakilan penulis di kalangan BMI HK ke Ubud Writter, sebuah even internasional di Ubud, Bali. Nanti akan saya tulis profilnya.

Semalam sebelumnya kami menyaksikan pesta kembang api dalam rangka Hari Kemerdekaan China di Star Ferry. Kondisi masih terkantuk-kantuk, tetapi semangat tetap tinggi, spesial saya yang penasaran dengan propinsi bernama Guangzhou di selatan China.

Sempat browsingan tentang RRC, menemukan cuplikan sbb;

Menurut definisi resminya, RRC merupakan suatu negara komunis abad ke-20. Secara resmi ia masih dikenal sebagai negara komunis, meskipun sejumlah ilmuwan politik kini tidak mendefinisikannya sebagai negara komunis.

Tiada definisi yang tepat yang dapat diberikan kepada jenis pemerintahan yang diamalkan negara ini, karena strukturnya tidak dikenal pasti. Salah satu sebab masalah ini ada adalah karena sejarahnya, Cina merupakan negara yang diperintah oleh para kaisar selama 2000 tahun dengan sebuah pemerintahan pusat yang kuat dengan pengaruh Kong Hu Cu.

Setelah tahun 1911 pula, Cina diperintah secara otokratis oleh KMT dan beberapa panglima perang dan setelah 1949 pula didobrak partai komunis Cina.

Rezim RRC sering dikatakan sebagai otokratis, komunis dan sosialis. Ia juga dilihat sebagai kerajaan komunis. Anggota komunis yang bersayap lebih ke kiri menjulukinya negara kapitalis.

Memang, negara Cina semakin lama semakin menuju ke arah sistem ekonomi bebas. Dalam suatu dokumen resmi yang dikeluarkan baru-baru ini, pemerintah menggariskan administrasi negara berdasarkan demokrasi, meskipun keadaan sebenarnya di sana tidak begitu. (Wikipedia)

Kami bergabung dengan rombongan travel Alibaba. Pemandunya bernama A Chin, perempuan China Selatan berfostur sedang ramping, berambut pendek dan fasih bercakap bahasa Indonesia.

Meskipun aksennya tetap aneh di kuping kita, cadel dan bernada khas Mandarin, tetapi masih bisa dipahami. Terutama karena A Chin yang mengaku belum pernah ke Indonesia ini suka humor.

“Ibu-ibu, tamu dari Indonesia ini terkenal suka belanja, ya. Naik bus niatnya syoping-syoping, turun dari bis eeeh, cari tempat kencing,” katanya memulai berceloteh.

Berbagai anekdot diceritakan dengan lancar dalam bahasa yang segar. Umpamanya begini: ”Ibu-ibu, tahu kan uang China? Semuanya pake gambarnya Bapak Mao, ya, ibu-ibu. Itu Bapak Mao adalah bapak kami yang dihormati. Biarpun sudah lama turun, sudah lama meninggal, Bapak Mao tetap saja dihormati orang China.”

Kemudian dia melanjutkan:”Kami orang China kalau beli mobil tidak mau buatan Jepang. China pernah disakiti Jepang. Sampai saat ini kami orang China tidak suka produk Jepang….”

“Oke, A Chin, lantas apa hubungannya dengan Bapak Mao tadi?” tanyaku jadi penasaran juga.

“Oya, begini, jadi kalau orang China beli mobil, itu gambarnya Mao Ze Dong selalu dipajang di mobil, digantung depan kemudi.”

“Buat apa, A Chin?” tanya turis lainnya.

“Kami bangsa China masih sangat percaya, dengan digantungkannya gambar Mao Ze Dong di mobil, selama tiga bulan ke depan, biar indreyen baru dipake, tidak akan kena celaka. Tidak akan ada yang mati….”

“Bagaimana, A Chin?” tanyaku tak paham.

“Iya, ibu-ibu.” sahut A Chin serius.”Kami orang China percaya, karena saktinya, kharismanya Bapak Mao, bahkan Malaikat Kematian pun takut sama dia!”

Wuakakakaka, gubraaak deh, aaah!

“Iya, segala setan pun takut sama Bapak Mao,” ujar A Chin santai.

“Tapi kalau dikirim ke Indonesia gambarnya gak bakalan laku,” kataku berlagak serius.

“Begitu, ya, why?” buru A Chin, penasaran pula rupanya dengan kelanjutan opiniku.

”Kayaknya kalah sama gambarnya segala kuntilanak, suster ngesot, jin, tuyul, buto ijo dan genderewo!”

Giliran A Chin ketawa, katanya dia pernah lihat film hantu Indonesia, dampaknya hebat; berhari-hari dia gak berani ke kamar mandi sendiri.

Nah loh, A Chin; rasain, kaciaaaan deh lu! (Guangzhou-China Selatan)

@@@

(Visited 17 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Aktif Mentor Literasi untuk para santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *