Pipiet Senja

Ketika aku memulai karier sebagai penulis pada 1975, nama-nama seperti Marga T, Mariane Katopo, Handrawan Nadesul, Kurniawan Junaedhi, Korrie Layun Rampan, disusul oleh adik-kakak Yanie Wuryandari dan Astuti Wulandari. Mereka jelas telah mapan sebagai penulis muda yang patut diacungi jempol.

Karya-karya mereka dengan megahnya menghiasi majalah dan media papan atas kala itu. Sehingga nama-nama tersebut menjadi ikon bagi para penulis seangkatan, termasuk penulis pemula seperti diriku.

Aku terpesona bahkan bisa dikatakan tersihir oleh Raumanen, novelet karya Mariane Katopo yang meraih penghargaan DKJ, kemudian menyabet Ramon Magsasay dari Philipina.

Sebuah karya yang menurutku “perempaun banget”’ dan “gender banget”’ mewartakan; penulisnya begitu banyak pengalaman spiritual, dan jenjang akademis di berbagai pelosok dunia itu, hingga posisi penting di khazanah kesusastraan Indonesia.

Suatu kedudukan yang paling didambakan oleh para penulis kita tentunya, selain mengundang decak kagum juga bisa timbul rasa iri membuta.

Mariane Katopo bisa begitu, apa aku juga bisa?

NH. Dini dengan Pada Sebuah Kapal, menolak penghargaan dari DKJ, (pada tahun yang sama) tidak mau datang ke acara resepsi pembagian hadiah sastra tersebut. NH. Dini tak sudi disejajarkan dengan penulis pop seperti Mariane Katopo, yang notabene tak lebih sebagai ‘anak bau kencur” di matanya. Begitulah rumor yang beredar di kalangan himpunan penulis Aksara, paguyuban pengarang tempat aku bergabung sepuluh tahun kemudian.

Aku pun tersihir oleh Bukan Impian Semusim-nya Marga T yang mejeng dengan indahnya di majalah Femina. Kemudian berturut-turut karya lainnya dimuat secara bersambung pula dan dibukukan; Karmila 1 dan 2, Submarine dan cerpen-cerpennya di majalah Gadis.

Sementara cerpen-cerpen remaja karya Handrawan Nadesul, Kurniawan Junaedhi, Yanie Wuryandari dan Astuti Wulandari semakin berkibar di harian dan mingguan Ibukota. Semuanya bernuansakan Katolik dengan segala aura gereja, pastor, biarawati, komuni, selibat, kidung-kidung, puji-puji. Berhamburlah istilah Bible, Rohul Kudus, Yesus Kristus, Haleleuyah!

Terus terang, karya para penulis noni itu sempat sangat memengaruhi jalan pikiranku. Bahkan sampai terbawa-bawa ke alam mimpi. Membuat diriku tergelitik untuk mengikuti jejak mereka, menginspirasi dan menggedor motivasiku untuk menulis.

Maka, lahirlah beberapa cerpen karyaku yang (ikut-ikut!) bernuansa Nasrani, dalam rangka Natal, dimuat di harian-harian Ibukota. Orang pun mengira aku seorang penulis Nasrani. Hal ini tak pelak lagi membuat bapakku (walaupun tentara, hatinya sungguh Ajengan) gundah dan lumayan berang.

“Kenapa ikut-ikutan pengarang non Islam, Teteh?” gugat bapakku.

“Yah, habisnya gimana lagi ya, Pak. Kayaknya karya-karya begitu yang gampang dimuat di majalah bergengsi dan harian terkenal,” sahutku.

Jujur apa adanya saja yang mengganjal di tenggorokanku, mengalir terus ke ujung saraf mata yang menerbitkan butiran bening. Penyesalan!

Rasanya mendadak aku telah menzalimi nama bapak, menjadi seorang pengkhianat, munafik. Waduh, apakah benar aku sudah munkar? Hanya karena ingin punya nama sebagai pengarang, menulis karya yang bernuansa Nasrani?

“Kita ini kan muslim, Teteh. Banggalah sebagai seorang muslim,” ujar bapakku sambil memberikan buku-buku karya Hamka, Muhammad Diponegoro, Rosihan Anwar, Achdijat Kartamihardja, Ajip Rosidi dan Mochtar Lubis.

Buku-buku yang sesungguhnya sudah kubaca saat aku kelas tiga SD itu, disarankan bapakku agar dibaca ulang. Meskipun tak paham maksudnya, sebagai anak yang selalu patuh, aku pun mengikuti sarannya. Ternyata hasilnya sungguh mencengangkan, Saudara!

Tentu saja, sudut pandang seorang anak sembilan tahun sangat jauh berbeda dengan pengamatan remaja yang sedang beranjak dewasa. Kalau dulu aku menikmati alur dan lakon ceritanya belaka. Setelah melewati masa ABG, ditambah wawasan yang kuperoleh dari forum-forum diskusi kepenulisan, cara pandangku terhadap sebuah karya lebih luas lagi.

Aku merasa mulai bisa memaknai apa yang tersirat dari yang tersurat, sebagai inti, saripati dan visi-misi penulisnya.

Misalnya, aku menikmati Siklus-nya Mohammad Diponegoro dari sisi mejisnya, agamisnya, bukan hanya sebagai lakon anak manusia yang mengalami perputaran atau pengulangan sejarah belaka. Diponegoro jelas-jelas seorang penulis muslim yang berhasil menanamkan nilai-nilai Islami di dalam karyanya. Demikian pula dengan Hamka yang kental sekali menancapkan nilai-nilai religinya (Islami!) di setiap tulisannya.

Ya, lihatlah, Hamka, Diponegoro, Mochtar Lubis, Achdijat Kartamihardja, nyatanya mereka berhasil. Ke mana-mana para sastrawan itu diundang dan menyabet penghargaan, disejajarkan sebagai sastrawan tingkat internasional.

Inilah satu bentuk kesadaran awal bagiku untuk segera menghentikan total, menulis cerpen, puisi dan novelet bernuansa Nasrani.

Ah, masa-masa remaja memang saat di mana kita mengalami proses pembelajaran, terkadang serasa menakjubkan atau sebaliknya memalukan.

@@@

(Visited 12 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Aktif Mentor Literasi untuk para santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *