Nukilan Novel Jejak Cinta Sevilla
Pipiet Senja

Anno 1999
Garsini turun dari KRL di Stasiun Pocin alias Pondok Cina.
Fheew… berdesak-desakannya luar biasa!

Kakinya yang sebelah pun rasanya belum sempat menapak sejak dari Stasiun Depok Baru. Menggelantung, diombang-ambingkan kereta bersama para penumpang lainnya. Anehnya mereka suka banget bergerombol di dekat pintu.

Buuukk! Tiba-tiba ada yang meninju punggungnya. Lumayan keras. Garsini sampai meringis kesakitan dibuatnya. Diliriknya orang lancang itu. Rika, si Bubble Gum.

Digelari begitu karena kegilaannya pada permen karet.
“Hei, Tomboi! Ngapain bengong aja di situ?”

Tomboi? Garsini melirik penampilan Rika. Wah, enak saja mengatai orang. Justru dialah yang ngoboy habis, tak pedulian, dan serba praktis. Gadis itu memakai miniskirt dengan atasan kaus ketat.

Ia sendiri hari ini memilih kemeja gombrang yang dipadankan dengan celana jins belel. Semasa SMA, dia lebih sinting soal penampilan. Dia punya grup band cewek, namanya Bujal Calawak, artinya pusar mangap.

Gengnya gadis semua, kuartet. Ada Dian, si Cemeng, yang bibirnya suka nyerocos. Norma Kribo dengan rambut superkeriting. Lalita Dower yang bibirnya seksi mirip Titi D.J. Terakhir dirinya yang digelari Tomboi, sang vokalis Bujal Calawak.

Begitu lulus SMA, semuanya bubar bertemperasan. Dian ke Unila, Lampung. Norma ke Unibraw, Malang. Lalita dapat Unpad, Bandung. Dia sendiri termasuk lima orang dari sekolahnya yang berhasil masuk UI. Siapa sangka anak-anak seliar mereka ternyata berkelas juga dan memiliki IQ tinggi?

“Ayo nungguin apa? Kok celingak-celinguk begitu?” Garsini menggoda teman sekuliahnya itu.

“Harusnya aku yang bertanya, ngapain kamu di sini?”
“Nunggu ojeklah…. Emangnya nunggu tukang cendol apa?” Garsini tak kalah membanyol.
“Iiih, gak bakalan ada ojek hari ini, tahu!”
“Emangnya kenapa?”
“Yeee… ketinggalan zaman!”

Garsini merengut merasa dikerjain Rika. Spontan tangannya terkepal, menyiapkan pukulan. Hiiiaat! Tak kena. Rika telah bersiap dengan pukulan balasan. Garsini buru-buru berkelit, hingga Rika kali ini memukul ruang hampa. Gadis tomboi itu cengengesan.

Garsini dekat dengan Rika sejak ikut LDK, Latihan Dasar Kader, pada organisasi mahasiswa Islam di Cipayung. Kemudian berlanjut saat mendukung angkatan ‘99 unjuk rasa soal DPKP, Dana Peningkatan Kualitas Pendidikan.

Garsini tersenyum mengenang masa itu. Sudah lesu-lelah demo, sampai memblokir jalan umum segala, tetap saja DPKP-nya tidak diturunkan. Sialnya, kakak-kakak kelas yang semula menggerakkan mogok kuliah dan demo, semua lenyap entah ke mana. Tinggal mereka yang ketiban pulung, didenda segala lantaran telat bayar.

Sistem swadana UI diterapkan sejak tahun 1999. Hatta, untuk otonomi kampus, agar tidak direcokin pemerintah. Bagi orang tua, tetap saja jadi beban. Uang kuliah yang asalnya enam ratus ribuan, jadi sejuta setengah. Untung masih ada bantuan buat mahasiswa yang tak mampu. Tak ada istilah mahasiswa di-DO gara-gara tak bisa bayar uang kuliah.

“Hmm… iya, ya? Biasanya mereka mangkal di depan kios itu,” gumam Garsini saat menunggu ojek yang tak muncul-muncul. “Memangnya mereka ke mana sih?”

“Mau ikutan demo besar-besaran. Demo nasional. Makanya gaul dong sama aktivis BEM!” Rika membalas seakan ingin balas dendam.

“Alaaah, kayak situ ikutan aja?”

Garsini mulai menyusuri jalan menuju gedung jurusannya. Ia berjalan cepat hingga Rika berlari-lari di belakangnya. “He, Say… tungguin gua dong!” seru Rika. Begitu berhasil menjejerinya, ditariknya tangan Garsini. “Mendingan ke Salemba, woooi!”

“Iiih, buruan, Rika! Tinggal lima menit lagi. Memangnya gak ikut ujian praktikum, ha? Kayak nilai kemarin kebagusan aja!”

“Alaaah… dosennya juga mau ikutan ke Salemba. Percaya deh!”

“Pak Kosasih?” dahu Garsini mengernyit. “Profesor serius gitu sih gak bakalan neko-nekolah!”

Garsini melambatkan jalannya. Hhh, lelah juga. Energinya sepagi ini sudah banyak terkuras di rumah. Dipandanginya wajah indo Betawi-Manado milik Rika.

“Kamu itu, ya, Non…. Tahu gak sih, tampangmu boleh, pokoknya eloklah. Tapi permen karetmu itu loh, Jeng, gak nahan deh!”

Rika cuek saja mendengar komentarnya. Ia meniup permen karet yang membentuk balon kecil. Fuuuh… bleeep!
Balon permen itu pecah dan menutupi sebagian wajahnya.

Dengan kalem Rika mengutiknya pakai kelingking yang biasa dipakai buat mengupil. Tak berapa lama kemudian, bleeep, dimasukkan kembali ke mulutnya.

Nyem, nyem, kunyah-kunyah-kunyah…. Hiiiy!
Garsini mendadak mual dibuatnya. Apalagi perutnya belum sempat diisi apa-apa. Rika seperti mengetahui jalan pikirannya. Kalem saja dia bilang, “Mau permen karetnya, Tomboi? Bekas gua, nih!”

“Sinting!” Garsini berlari kembali sambil menggerutu. “Kebiasaan di SMU udik dibawa-bawa ke sini. Ingat-ingatlah ini….”

“Universitas favoriiit!” Rika menyambung sambil mengacungkan jempolnya. “He, Say! Beneran nih gak mau ikutan ke Salemba?”

“Ogaaah!”

“Menyesal, Bo! Di sana banyak anak Fakultas Kedokteran. Ganteng-ganteng, tahu!”

“Tujuannya bukan demo, dong?”

“Sekali mendayung, seratus, seribu, sejuta, selangitlah cowok terangkul! Hihi!” Rika berlari menjauhinya.

Tentu si Bubble Gum itu menuju tempat kumpul anak BEM. Garsini hanya bisa menggeleng-geleng kepala.
“Terserahlah, semua orang punya pilihan hidupnya,” gumamnya sendiri.

Garsini mendapat soal ujian yang sudah dikuasainya. Ia bertugas membedah perut bajing, kemudian menyebutkan nama Latin organ dan struktur saraf binatang naas itu. Ini mata kuliah Struk-Hew, Struktur Hewan.

Baru semester I, belum sulit-sulit amat.
Lagi pula di Bio, Garsini adalah bintangnya. Belum lama ini dia berhasil menyabet juara Olimpiade Biologi Tingkat Asia.

Hadiahnya selain medali, juga uang senilai sepuluh juta rupiah. Siapa sangka gadis tomboi, terkesan cuek, ternyata memiliki prestasi luar biasa?

“Kalau sudah selesai, mendingan keluar saja, Non,” kata asisten dosen, Gilang Permana.

“Ngng, sebentar lagilah, Kang. Kepingin yakin seratus persen dulu, nih,” sahut Garsini rendah hati.

“Takut seperti tempo hari, ya?” Anwar, rekan Gilang, nyeletuk dari belakang rak percobaan.

“Habiiis, takabur dia itu!” Sintia tiba-tiba ikut nimbrung. “Mentang-mentang baru dapat award!” cetusnya pula sinis sekali.

“Bukan begitu, Mbak Tia,” bantah Garsini merasa tak enak. Senior yang satu ini entah kenapa, rasanya sering sekali sinis terhadap dirinya.

“Makanya jangan suka takabur,” tegur Gilang mengingatkannya.

“He-he!” Sintia makin sinis. “Biar bintang sekalipun, kalau lagi apes….”
“Dapat D juga. Ya, kan?”

Garsini terdiam dikeroyok begitu. Sementara itu, senior-senior pria berebut cari perhatian. Gilang memperhatikannya sekilas. Wajah cantik tanpa polesan apa pun, sungguh memesona. Biar cuma pakai jins belel dan kemeja kedombrangan, tetap saja Garsini terlihat jelita.

Padahal ada peraturan di laboratorium ini, mahasiswa yang sedang praktikum harus memakai pakaian yang rapi. Salah satunya harus bersepatu asli. Artinya bukan sepatu sandal. Sedangkan untuk mahasiswi, harus pakai rok, tidak boleh celana jins.

“Tempo hari itu,” cetus Garsini, perlahan. “Seharusnya A kalau gak dicurangi orang dengki.”

“Oya? Apa ada yang menjaili hasil penelitianmu?” tanya Gilang serius. “Siapa orangnya? Bilang saja! Jangan takut-takut. Ini kampus para demokrat dan reformis!”
“Plus liberal!” sambung Anwar.

Garsini tak menyahut. Dilihatnya Sintia yang galak itu melotot, geram sekali, jelas-jelas ditujukan ke arah dirinya.

“Assalamu’alaikum…. Hei, lagi pada ngapain? Kok ngumpul di sini?” sebuah suara renyah menyelip di antara mereka.
Selly, senior shalihah dan selalu berjilbab putih, ketua kelompok studi. Gadis ayu itu muncul di belakang Gilang.

“Tahu, nih, Gilang. Pakai bawa-bawa reformasi segala ke laborat!” gerutu Sintia.

Sejak pandangan pertama dengan Sintia, entah mengapa hati Garsini merasa tak nyaman. Aneh! Ada sesuatu yang tidak murni dalam penampilan kakak kelasnya yang satu ini.

“Ada apa sebenarnya?” desak Qania menatap Garsini.

“Katanya ada yang mencurangi hasil percobaannya tempo hari,” tukas Gilang.

“Benar begitu?” Qania meminta penjelasan Garsini.

Tapi Garsini keburu menarik diri. Kalau sekarang kecurigaannya dipermasalahkan, bisa-bisa heboh. Padahal ini ujian dan semua dikejar waktu. Bisa-bisa teman sekelas menyalahkan dirinya.

“Kenapa melototi gua?” sergah Sintia merasa ditatap sekilas oleh Garsini. “Kalau nilai jelek, ya sudah, jelek ajalah. Itu tandanya kamu bodoh! Mau berani unjuk gigi di sini rupanya, ya?”

“Tia!” Qania menegurnya agak keras. “Kenapa sewot begitu?”

“Dasar pemberang!” Anwar ikut mengecamnya.

“Kalian beraninya main keroyok. Hei, Garsini! Kamu mau fitnah aku, ya? Dan kalian mau belain dia?”

Garsini menatap wajah tenang dan berkarisma milik Qania. Dalam hati, dia berseru minta tolong, agar cepat terbebas dari situasi begini. Qania.seperti memahami pikirannya.

“Sudahlah. Kalau mau membicarakan masalah ini, nanti saja setelah ujian. Sekarang kita lanjutkan tugas masing-masing!” kata gadis itu berwibawa dan tegas.

Anwar mendukungnya. “Benar. Kasihan anak-anak. Sebentar lagi Pak Kosasih datang.”

“Ya, sudah. Kalian bubar, bubar!” Gilang menyokongnya pula.

Siapa yang tak kenal Qania Sholihat? Dia aktivis Canopy dan ketua keputrian Rohis FMIPA. Anak-anak Bio sangat menghormati dan mengaguminya.

Qania memiliki kharisma dan kemampuan untuk menggalang massa. Ini suatu kelebihan yang tidak dimiliki setiap orang. Presiden BEM amat respek terhadapnya.

Lantas Gilang? Belakangan Garsini baru mengetahui, ternyata Gilang dan Qania telah menikah. Gilang, putra bungsu Pak Kosasih, pakar Biologi lulusan Universitas Wisconsin, USA. Gilang tak pernah menyombongkan diri.

Pembawaannya tenang, serius, dan seorang kutu buku. Gilang bukan aktivis organisasi apa pun. Ia lebih pantas mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang peneliti di LIPI atau Eijkman.

Qania menghampiri Garsini. “Lupa lagi pakai roknya, ya?”

“Eee… iya, Teh…
“Cepat pake rok ini, sebelum Pak Kosasih datang!”

Garsini sesaat melempar pandangannya keluar jendela. Tampak Sintia masih penasaran terhadap dirinya. Soal tidak pakai pakaian yang rapi bisa dibikin besar sama si pendengki itu, pikirnya. Maka tanpa banyak bicara lagi diambilnya rok panjang yang disodorkan Qania kepadanya.

“Selesai?”
“Eh, ini cuma merangkapkannya ke celana kok,” kata Garsini tersipu malu. Dia membungkuk dan menggulung celana jinsnya. Saat berdiri kembali, ia sudah berpenampilan lain.

“Cantik,” gumam Qania. “Adik Teteh ini memang jelita. Apalagi kalau rambut terondolmu itu sudah ditutupi jilbab.”

“Terima kasih, Teteh. Insya Allah suatu saat nanti.”
“Amiiin,” sambut Qania.

Pak Kosasih adalah dosen idola Garsini. Profesor satu ini berumur enam puluhan. Memiliki lima orang anak dan semuanya laki-laki. Keempat anak Pak Kosasih memilih bidang yang berbeda dengan ayahnya. Ada yang menjadi politikus, pengacara, tentara, dan pebisnis.

Tinggal Gilang yang belum sarjana. Pak Kosasih sudah lama menyiapkan agar Gilang mengikuti jejaknya sebagai ilmuwan.

(Visited 43 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.