Pipiet Senja

Anno, 1989

Pagi itu, baru pukul tujuh, tapi aku sudah nongkrongin ruang tunggu poliklinik kandungan, RSCM. Aku tahu memang ada suatu misteri kehidupan, kembali tumbuh di dalam rahimku, setelah dua kali mengalami keguguran. Namun, aku belum tahu persis kondisinya. Kemarin diharuskan periksa laborat. Rencananya hari ini akan di-USG.

Sungguh aku tak sabar ingin segera mengetahui jenis kelamin bayiku!           

“Kira-kira kapan Ekal punya adik, Ma?” terngiang pertanyaan anakku yang berumur sembilan tahun.

Entah ke berapa kalinya Haekal menanyaiku tentang “dede”. Teman-teman sebayanya banyak yang sudah punya adik dua-tiga orang. Pada usia sebayanya aku telah diberi adik sebanyak lima orang oleh orang tuaku.

“Doakan, ya Nak, doakan Mama,” hanya itu yang terucap dari bibirku.

Dengan penyakit genetik, kelainan darah bawaan yang kusandang, memang terlalu riskan bagiku untuk memiliki keturunan. Ketika mengandung Haekal selama 8 bulan 2 minggu, perjuangan keras harus kulakoni. Bolak-balik diopname, hampir seminggu sekali ditransfusi. Hanya Allah yang Maha Pengasih, bagaimana pada akhirnya buah hati itu terlahir jua dengan selamat dari rahimku.

“Rajin amat, Bu?” seorang petugas yang baru datang menyapa. Sementara beberapa petugas cleaning service mulai bergerak dari ujung koridor sana.

“Eh, itu loh, tadi kebetulan bareng suami ke kantor, saya didrop di sini,” jawabku tersipu. Tentu saja, sekaligus berbohong, sebab mana pernah sosok itu berkenan mengantar-antarku untuk urusan rumah sakit begini, kalau tidak terpaksa sekali?

“Dokternya saja baru datang jam sepuluhan nanti, Bu.”

“Kemarin dokter Laila bilang saya harus datang pagi-pagi.”

“Pasien dokter Laila, ya! Kalau dia sih memang selalu pagi datangnya. Bentar lagi juga datang,” kata petugas lelaki itu sambil sibuk membukai kaca jendela loket.

Benar saja, selang kemudian dokter wanita berparas rupawan itu tampak bergegas memasuki poliklinik kandungan. Senyumnya mengembang begitu melihat keberadaanku. Melihat blus di balik jas dokternya yang serupa dengan kemarin, kutaksir dia memang belum sempat pulang. Mungkin tugas piket di ruang perawatan atau UGD.

“Kita langsung ke belakang saja, ya Bu,” mengajak tanpa basa-basi.

“Ke belakang, bagaimana?”

“Saya akan USG dulu, nanti Ibu akan saya ajak ke seminar. Kan kemarin sudah saya jelaskan rencana kita pagi ini.”

Aku terdiam tak paham. Memang kemarin sempat kudengar tentang seminar-seminar begitu. Tapi aku tak mengira kalau akan diajak dokter muda ini ke tengah-tengah rekannya, dan para guru besar untuk sebuah seminar.

“Silakan berbaring, Bu, sebentar saja kok,” ujarnya begitu kami sampai di ruang USG. Kemarin tidak sempat dilakukan karena aku harus antri di laborat, ketika kembali dokternya sudah pergi.

Dengan cekatan dia melakukan pemeriksaan ultrasonografi. Sebelum aku sempat menanyakan tentang kondisi janin, beberapa rekannya tahu-tahu sudah bergabung, mengerumuniku, kemudian memberi komentar dengan istilah-istilah medis.

Ternyata rekan-rekannya pun membawa pasien. Ada empat pasien termasuk diriku, semuanya dengan kelainan genetik atau janin. Seorang ibu muda hamil enam bulan dengan kasus toksoplasma, tiga kali keguguran karena virus yang ditularkan oleh kucing. Seorang ibu paro baya dengan kehamilan anggur. Satu lagi ibu sebayaku dengan kembar air, satu janin sungguhan lainnya berisi air. Kecuali aku, mereka didampingi suami masing-masing.

Tak berapa lama kemudian kami bergerak menuju perinatologi, yakni tempat seminar diselenggarakan. Tepat pukul delapan seminar pun dimulai, ibu hamil anggur dipanggil lebih dahulu. Kemudian ibu hamil rentan tokso, disusul ibu kembar air. Kurasa mereka diperiksa sekitar 15-20 menit, kecuali yang kembar air langsung dibawa ke UGD. Usia kehamilannya memang sudah memasuki waktunya.

“Aku akan dicaesar,” ujarnya sebelum berpisah dan kami saling mendoakan, merasa senasib sepenanggungan.

“Silakan masuk, Bu,” ajak dokter Laila membimbingku masuk ke ruangan, di mana para calon dokter sedang mendapatkan pembelajaran langsung.

Kulihat para mahasiswa kedokteran berada di balkon atas, sementara seorang profesor memberikan kuliahnya, yakni berupa kasus pasien yang dibawa koas ke sini. Ternyata profesornya sudah tak asing lagi bagiku. Ketika aku mengandung Haekal, dia juga menjadi konsulen dokter yang merawatku. Tapi aku yakin, dia sudah tak ingat lagi dengan kasusnya sembilan tahun yang lalu.

Seraya memeriksa dia menanyaiku dengan suaranya yang ramah, kebapakan, hingga aku merasa tidak terganggu. Meskipun di atas kulihat puluhan mahasiswa kedokteran serius mengamati.

“Ini anak ke berapa, Bu?”

“Kedua, eh, maksudku kehamilan keempat, tapi dua keguguran.”

Profesor mengulang untuk mahasiswa dalam istilah medisnya, kemudian bertanya lagi; “Berapa usia Ibu sekarang?”

“Tigapuluh dua, Prof.”

“Sejak kapan Ibu mengetahui mengidap penyakit kelainan darah bawaan?”

“Sejak kelas lima SD, eh, sepuluh tahun…”

“Kapan mulai ditransfusi?”

“Ya, sejak sepuluh tahun itu…”

Terdengar sayup gumaman. “Ooo…” Menggaung dari arah balkon atas.

Bagaimana tidak, Anda bayangkan saja secara berkala aku ditransfusi selama 21 tahun. Mungkin, jika digabungkan darah orang itu akan mengolam, atau setidaknya menjadi danau!

“Yang pertama anaknya apa, Bu?”

“Laki-laki, Prof, dan sehat!”

“Baik, baik, baguslah. Ibu kepingin anaknya yang ini laki-laki apa perempuan?”

“Perempuan!” jawabku cepat.

“Bagaimana kalau laki-laki lagi?”

“Eh, tapi kepinginnya perempuan sajalah, Prof, biar jadi, eh!” Kutelan ujung kalimatku. Iiih, ngapain sih pake curhatan di depan banyak orang?

“Biar jadi apa, Bu? Lanjutkan saja, jangan takut-takut, di sini bukan lagi Kelompencapir. Jadi, tidak bakalan ada yang nangkep Ibu biar mau ngomong apapun.”

Geeerrr, tawa menggema ke seantero ruangan ful AC, beratap tinggi bulat, dan dilengkapi peralatan medis canggih itu. Sesaat aku ikut merasa geli. Profesor ternyata suka bercanda sekalian menyindir gaya Pak Harto, jika sedang temumuka dengan para petani, disiarkan langsung oleh TVRI dan RRI.

“Bagaimana, Ibu kepingin anaknya kelak jadi apa?” ulangnya.

“Menjadi dokter, seperti Profesor!” jawabanku disambut tepuk tangan yang riuh, entah kenapa.

Usai seminar, dokter Laila masih sempat mengantarku sampai loket Askes. Ia menyelipkan amplop mungil ke tanganku. Kubuka, ternyata berisi sejumlah uang; sepuluh ribu rupiah. Alhamdulillah, uang sejumlah itu (1989) bagiku sangat berarti, bisa dipakai belanja dua hari.

Honor cerpenku di koran-koran masih duapuluh lima ribu. Aneh sekali memang, sepuluh tahun sebelumnya (1979) pun nominalnya sama. Mengapa harga karya tulis, seni sastra ini tidak naik-naik, ya? Tidak ada yang menghargainya dengan baik dan benar. Tak seperti di negara jiran, menurut rekan sesama penulis di sana mereka dihargai dengan sangat baik.

Begitu aku mengetahui bahwa janin dalam kandunganku berjenis perempuan, alangkah bahagia hatiku. Rasanya ingin kuwartakan kabar gembira ini kepada seluruh dunia. Dengan lugunya kusalami orang-orang yang sedang menunggu di loket Askes itu.

“Aduuuh, ibu-ibu, dengar yah! Kabar gembira ini, tadi kata dokter Laila, bayi saya ini perempuan. Ya Allah, saya teh meuni senang sekali, ibu-ibu. Mohon ikhlasnya, ya, mohon doanya, ibu-ibu yang baik,” demikian ceracauku niscaya tampak aneh dan norak sekali. Tak ubahnya si Iteung, istrinya si Kabayan.

Sejak saat itu, kulakoni hari demi hari dengan semangat tinggi. Meskipun aku harus setiap saat memeriksakan kandungan, melalui perjalanan panjang dan melelahkan antara Depok-Jakarta.

Biasanya jika pergi pukul enam pagi, maka pulangnya sekitar pukul enam sore. Tak jarang harus pergi seorang diri, tiga atau empat hari berturut-turut dalam sepekannya. Tapi aku sudah merasa lebih pengalaman, hingga bisa menjalaninya dengan tenang dan lebih percaya diri.

Lagipula, saat inilah di mana aku sedang ghirah-ghirahnya menuntut ilmu agama kepada Ustazah Saanah dan Kyai Harun di kampung Cikumpa. Ada Sang Khalik yang senantiasa melindungiku, keyakinan ini menancap dalam dada dan imanku dengan sangat kuatnya. Aku mulai mengenakan gamis dan jilbab, meskipun ditentang oleh suamiku sendiri.

“Semoga saja hasil USG-nya salah,” cetus suami ketika mengetahui bayi kami kemungkinan sekali perempuan.

“Kenapa begitu?”

“Aku lebih suka punya anak laki-laki, semuanya laki-laki!”

Kacau-balau, sungutku terheran-heran.

Gusti Allah sudah mengaruniai kami seorang anak laki-laki, dan kini anak perempuan. Bukankah itu telah melengkapi? Sepasang buah hati, sepasang bintang, dan itulah kemudian yang menjadi benteng kekuatan diriku, demi menghadapi gelombang badai kehidupan.

Anehnya lelaki itu, sampai hari-hari terakhir pun, masih juga menyatakan keinginan; “Siapa tahu dia berubah menjadi anak laki-laki!”

Semakin gendut perutku terasa semakin tersiksa, sebab limpa yang sejak kecil bengkak jadi ikut pula membesar. Masalah demi masalah pun timbul secara menggelombang, tiada putusnya. Kalau bukan karena kesulitan ekonomi, tentu disebabkan rasa cemburu membuta dan iri-dengki dari ibu mertua yang tinggal bersama kami.

“Bah! Macam-macam sajalah penyakit kau itu!” sungutnya setiap kali melihat diriku harus meninggalkan rumah, demi pemeriksaan kehamilan ke rumah sakit.

Dia tak bisa diberi pengertian bahwa kondisiku tidak sama dengan ibu-ibu hamil lainnya. Bahwa diriku punya penyakit menahun, secara berkala harus ditransfusi. Baginya, aku hanya mengada-ada saja supaya lebih diperhatikan, lebih disayangi oleh putranya.

Kecemburuan membuta, rasa iri dan dengkinya itu sungguh nyaris membuatku sinting. Acapkali ditumpahkannya tanpa tedeng aling-aling, baik kepadaku maupun kepada Haekal yang notabene adalah cucunya, darah dagingnya juga.

“Wooi Hamdan! Biar aku pulang sajalah itu! Di sini aku tak disayang siapa-siapa, tak punya apa-apa!” Demikian setiap kali dia mengajuk hati suami, kemudian mengancam hendak pulang kampung.

Beberapa jam lamanya akan terjadi aksi tahan-menahan antara suami dengan perempuan tua itu. Suami bersikeras menahan ibunya dan buntalan-buntalannya. Sementara ibunya bersikeras pula hendak pergi, sekaligus mengangkut buntalan-buntalannya.

Adegan mirip di sinetron pun tergelar sudah. Suara-suara keras khas halak hita seketika menggema ke seantero rumah, bahkan menggaung keluar, dan terdengar oleh para tetangga.

Aku sungguh terheran-heran dengan sikap ibu mertua yang selalu sinis, tak pernah menyukai diriku itu. Hanya karena aku bukan satu suku dengan dirinya, bukan menantu pilihannya, dan banyak lagi hal yang menimbulkan ketaksukaannya.

“Dasaaar, halak Sunda itu sundaaal!”

“Bah! Kalau halak Sunda itu, tak bagus itu!”

“Hei, jangan sayang sama halak Sunda itu! Jahat-jahat mereka itu!”

“Lihat di tipi itu, banyak orang Sunda yang jadi pencuri, membunuhi orang…”

Banyak lagi umpatan serta sumpah-serapahnya yang bukan saja menyakitkan hatiku. Boleh jadi bisa menimbulkan perang antarsuku, jika terdengar oleh orang-orang Sunda lainnya. Mujurlah tak ada orang Sunda lainnya kecuali diriku di sekitar rumah kami saat itu.

Nah, di antara kebencian ibu mertua itulah, bayiku tumbuh di dalam kandunganku. Bila ceracauan dan umpatan tak senonoh berdenyaran di atas kepalaku, biasanya aku akan bergegas masuk kamar. Aku akan menarik lengan Haekal agar tidak banyak menyerap aura kebencian di sekitarnya.

Kuusap-usap permukaan perutku seraya kupanjatkan selaksa doa dan pengharapan milikku, untuk bayiku, buah hatiku, bintangku.

“Mending Mama masuk rumah sakit sekarang saja,” saran Haekal suatu kali. Adakalanya bocah sekecil ini bisa bersikap bijak bestari, tak jarang melindungi ibunya dan calon adiknya.

“Tapi kan masih lama melahirkannya, Nak.”

“Tidak apa-apa, Ma, biar saja. Di sini tidak aman buat Mama, buat si Dede juga, kasihan kan Ma. Bagaimana kalau dia denger juga omongan Ompung yang suka ngaco itu?” kesahnya dengan air mata mulai berlinangan. Tubuhnya masih gemetaran, karena baru saja disumpah-serapahi oleh neneknya.

“Bagaimana nanti Ekal tanpa Mama di rumah ini?”

“Biarin, Mama, Ekal bisa jaga diri,” dibersitnya hidungnya, seketika memperlihatkan semangat dan ketegaran hatinya. “Yang penting selamatkan diri Mama dan adik Ekal ini, ya?”

Kemudian diusap-usapnya permukaan perutku sepenuh sayang. Titik air mataku melihat rasa tanggung jawab yang mengental di wajah imut-imutnya.

Jika esoknya aku dirawat juga, bukan karena mengikuti sarannya, melainkan disebabkan kondisiku yang memburuk. Asmaku kambuh, jantungku dinyatakan tidak aman, maka dokter menahanku di UGD.

Usia kehamilan 28 minggu, sejak itulah aku dirawat di IRNA B, lantai enam. Sejak itu pula aku terpaksa jarang melihat putraku. Hari demi hari kulalui dengan sepenuh kesabaran, ketabahan dan kepasrahan diri. Aku harus memusatkan segenap perhatian dan pikiran semata demi keselamatan bayi dalam kandunganku.

“Hanya ini yang Emak dapat, Teteh,” lapor ibuku yang banyak membantu memasarkan atau mengirimkan tulisan-tulisanku ke berbagai media. Hasil ketikan di kamar mandi, sambil sembunyi-sembunyi dari perawat dan dokter.

“Alhamdulillah, segini juga sudah bagus, Mak, kita harus bersyukur,” ujarku terharu sekali.

Ibuku ini sungguh hebat, ke mana pun dan di mana pun berada kantor redaksi yang mau membeli tulisanku, maka dia akan mendatanginya. Sungguh aku banyak terbantu oleh rupiah demi rupiah yang kami terima dari honor tulisanku itu.

Tak jarang rekan-rekan redaksi dan sesama penulis, terutama dari komunitas Aksara seperti Titie Said, La Rose, Rayani Sriwidodo, Sin Soekarsono, Lastri Fardani, mengulurkan bantuannya. Seorang penggemar setiaku, Susi Joeni juga menjadi donatur tetapku sejak Haekal bayi sampai beberapa tahun kemudian.

Ia hanya memberi uang belanja secara harian dan biaya sekolah anak. Kami sedang membangun rumah yang layak, dan itu selalu dijadikan alasan ke mana semua gajinya dihabiskan. Untuk keperluan pribadiku, bahkan baju anak, membantu orang tua dan adik-adik, sejak menikah pun aku harus mencarinya sendiri.

Selama hamil itu, aku hampir tak bisa menulis yang lebih baik, lebih produktif seperti sebelumnya. Hanya cerpen-cerpen anak untuk majalah Bobo, cerpen untuk majalah Sunda, Mangle dan beberapa artikel kewanitaan. Penghasilanku anjlok drastis!

“Tidak apa-apa, wajar saja kalau kamu tidak bisa produktif. Ada masanya seperti ini untuk beberapa penulis,” hibur ayahku jika mendengar keluhanku.

Aku selalu memercayainya, bagiku ayahku seorang yang bijak dan berwawasan luas. Jadi, kuterima saja kondisi “tak mampu menulis” selama kehamilan itu sebagai suatu kewajaran. Sangat berharap “penyakit” itu akan sembuh, pada saatnya kelak aku kembali mampu berkarya. Semangat!

@@@

(Visited 31 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: