Pipiet Senja

Mereka Bilang Coy Kin!

Causeway Bay, HK, 28 Septermber 2011

Ketika menulis catatan ini, sesungguhnya ada yang hilang dari dalam dada si manini. Pagi buta, biasanya, jika daku berada di Hongkong, akan kudengar ketukan perlahan tapi tegas dari jari-jemari Melani. Mengingatkanku agar bergabung dengan taklimnya DD HK, Bidadari Fajr.

Biasanya pula akan ada semangkuk dim soy, buburnya dari warung si Jackie Chan di depan sana, menanti di meja kerjaku. Dan sapa manis Ustadz Ghofur; lagi nulis apa, Teteh? Hari ini mau diantar ke mana? Nanti malam kita ke shelter anu, ya di sana, de-el-el.

Sekarang tidak ada lagi yang menyediakanku hal-hal yang “remeh-temeh”. Hehe, dasar yah si manini, biasa di rumah diasistenin si Butet cintaku, gadis tangguhku. Whoaaa!

Kemarin, kami melepas kepulangan pasustri Abdu Ghofur-Melani pulang ke Indonesia. Tugasnya di negeri beton telah usai, katanya, ditunggu tugas baru di DD Pusat.

Kami yang mengantar, aku, Ratu Bilqis, Endang Dwi dan Umi Amaniah nyaris tak henti berbincang sepanjang perjalanan dengan mobil bagus. Ini semacam taksi, kena tagihannya juga sekitar 250 dollar HK. Kubandingkan jika taksi dari Depok-Cengkareng (jauhnya tak beda) bisa 300 ribuan dengan Blue Bird.

Oya, kalau naik MTR per orang sekitar 250 dollar HK, jadi jatuhnya dengan taksi lebih hemat sebab lima orang. Ada juga bis 22 dollar HK, hanya lama kuatir macet karena hujan atau taifung yang suka dadakan datangnya.

Baik, lanjut, tak lupa kami mengabadikan saat-saat terakhir ini dengan foto-foto.

Sementara kenanganku acapkali kembali ke setahun yang silam. Pertama kali ke negeri beton ini, diundang oleh DD HK, mengajari BMI menulis, memperkuat motivasi untuk tim majalah IQRO, dan tentu saja sebagai pendamping atau apapun istilahnya itu.

Namun yang jelas hampir tiap malam aku ikut bersama rombongan Ustadz Ghofur, berkunjung ke sheltershelter yang ada di Hongkong. Ada 7 shelter yang menjadi tempat kami menyebar syiar dakwah, lebih tepatnya memberikan pencerahan, kemudian mendengar curhatan mereka yang tengah tertimpa masalah.

Kulihat sendiri sosok itu, Ustadz Ghofur (satu-satunya lelaki dalam rombongan kami) memanggul, menggotong karung atau kardus sembako dan makanan mentah. Sedangkan kami, biasanya 4-5 orang relawan Dompet Dhuafa, karena berjenis perempuan hanya mengangkat bawaan ringan saja; keranjang buah atau kantung berisi buku.

Pernah satu kali kami terjebak taifung, beberapa saat lamanya terpaksa tinggal di sub way, dijaga ketat oleh sekuriti. Itulah untuk pertama kalinya aku menyaksi bagaimana suasana warga Hongkong jika taifung datang.

“Ustadz, bagaimana kalau datang tsunami, meluluh-lantakkan negeri beton ini?” tanyaku usil, demikian pula ketika kami pergi ke Macau kulemparkan pertanyaan serupa.

Dengan senyumannya yang khas, dia menjawab kira-kira begini:”Kita tidak perlu bertanya bagaimana-bagaimananya, ya Teteh. Karena Allah sudah mengatur segalanya yang terbaik bagi ummat-Nya.”

Kepingin kudesak kembali dengan pertanyaan;”Kira-kira apa yang mau kita lakukan?” Tapi setelah kurenungkan, mengaitkannya pula dengan peristiwa lainnya, ya, memang benar sekali. Kita tak berhak juga mempertanyakan; mengapa begini, mengapa begitu kepada Sang Pencipta.

Intinya, terima sajalah dan bersyukurlah senantiasa atas apapun yang diberikan-Nya kepada kita. Insya Allah, bahwa Dia Sang Maha Pengasih telah memiliki rencana, skenario untuk tiap makhluk ciptaan-Nya.

Pendek cerita, kami telah melepas pasustri berbahagia yang belum dikaruniai keturunan ini memasuki pintu imigrasi. Dadah-dadah dan assalamualaikum, tak lupa peluk erat dan saling mendoakan. Kupandangi terus bayangan keduanya hingga hilang dari pandangan.

Ketika membalikkan tubuh, dan kami mulai bergerak perlahan menjauhi pintu Imigrasi, kami lama terdiam, tak ada yang berkata-kata sesiapapun. Saat menuruni eskalator, barulah kupecahkan kebisuan kami bertiga dengan kalimat:”Duhai, rasanya ada yang hilang, senyaaap di dada Manini nih….”

Eh, Umi Amaniah kembali sesenggukan, heboh menyusuti airmatanya. Demikian pula Ratu Bilqis, matanya memerah menahan sedih perpisahan.

Endang Dwi berbisik di tengah linangan air matanya:”Dulu, sekitar dua setengah tahun yang lalu, sayalah yang menjemput mereka di Airport HK ini. Sekarang sayalah pula yang melepas mereka di sini….”

Aku menyambungnya di dalam hati:”Dan dirimu masih jua tinggal di sini. Kapan engkau akan kembali ke kampung halaman, Dek?”

Baiklah, selamat jalan, Ustadz Ghofur dan Melani. Di manapun kelak bertugas, semoga Allah Swt melimpahi kekuatan dan keberkahan kepada kalian.

Sedikit testimoni; kutahu di bawah kepemimpinanmu, DD HK melaju pesat sebagai institusi dari Indonesia yang banyak membantu para perantau bermasalah. Betapa banyak program kemanusiaan, ide-ide yang sangat inovatif dan kreatif yang telah engkau sumbangkan dan dedikasikan di negeri beton ini.

Spesial, doa manini, semoga segera diberi momongan yang banyak. Mhuuuaaa, luuuuv!

Jadi, sejak hari ini, sepertinya manini harus urus diri sendiri. Ah, tapi anak-anak shelter heman-heman juga. Tanpa diminta pun mereka mendatangiku dan menanyaiku, apa saja yang kubutuhkan. Dan itu semua berkat Dompet Dhuafa HK, spesial Ustadz Ghofur yang telah menyambungkan diriku dengan berbagai hal tentang negeri beton.

Hanya satu ucapan lagi dariku;”Terima kasih, Ustadz Ghofur dan Melani!” (Haven Street, di tengah taifung 8)

(Visited 20 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Aktif Mentor Literasi untuk para santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

2 thoughts on “Ustadz Abdul Ghofur: Coy Kin!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *