Pipiet Senja

Mengapa Merah Putih tidak berkibar?
Hanya bendera PBSI saja.
Ternyata Indonesia sedang mendapat sanksi masalah doping.

Selama setahun MERAH PUTIH dilarang berkibar di even Internasional kecuali Olompiade.

Menpora lupa memberitakan hal ini agaknya dengan alasan Pandemi?

Merembes airmataku.
Tetap, Jayalah Indonesiaku.

Bagaikan Habis Gelap Terbitlah Terang.

Bulu Tangkis ini telah menjadi cabang olah raga rakyat Indonesia.

Saya pun sejak kanak-kanak sudah kecanduan melihat pertandingan Bulu Tangkis. Menyimak suara bariton penyiar olah raga melalui RRI; Olan Sitompul. Nah, bagi yang pernah mengikuti siaran pandangan mata Olan Sitompul, artinya kini sudah Lansia. Ngaku, hayoooo!

Ketika mulai ada televisi, tetapi kami belum punya. Maka saya dan adik-adik harus jalan kaki jauh, demi bisa menonton tim Bulu Tangkis Thomas Cup. Jika mereka menang, serasa diri sendiri yang menang. Tak cukup mengucap hamdalah, hayooooo; jejingkrakan berjamaah. Duhai, masa keemasan Bulu Tangkis.

Dari masa ke masa, tim Bulu Tangkis sering merajai Internasional. Ketika pertama kalinya regu Indonesia kalah, lama saya memendam dukalara. Hingga saat Ginting mulai mengibarkan nama Inonesia, serasa dada Lansia ini menggelegak, bahagia.

Tadi malam untuk pertama kalinya warga perumahan berkumpul, nontonbareng di depan Posko RW. Dari kejauhan saya, nenek-nenek sendirian mengawasi mereka yang riuh berkomentar. Tanpa terasa airmata merembes, membasahi pipi-pipi keriput.

Semesta Doa Untuk Indonesia

Badan Anti Doping Dunia (WADA) telah menjatuhkan sanksi pada Indonesia.

Sanksi itu dijatuhi WADA pada pekan lalu lantaran Indonesia tak mematuhi aturan terkait doping. Salah satu hukumannnya tak diperbolehkan menjadi tuan rumah kejuaraan regional, kontinental atau dunia jika tidak segera membenahi aturan tersebut sesuai yang dijadwalkan.

Selain itu, sanksi tegas lainnya yakni tidak mengizinkan atlet Indonesia untuk mengibarkan bendera Merah Putih turun di bawah nama negara, kecuali di Olimpiade dan Paraolimpiade.

(Visited 9 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Aktif Mentor Literasi untuk para santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *