Pipiet Senja

Bab 9

Jangan Menjadi Artis!

Tanpa terasa ia berhasil menyelesaikan novelnya yang bernuansa keindahan Pulau Seribu Masjid. Pagi itu usai sholat Dhuha, Saribanon kembali melakukan finishing naskahnya. Mencermatinya dengan tekun dan teliti sekali, mulai bab pertama hingga bab terakhir.

Tiba-tiba kupingnya mendengar suara-suara dari bawah. Tergerak untuk sekadar meluruskan pinggang, setelah duduk berjam-jam sejak dinihari, Saribanon pun bangkit. Melangkah menuju balkon, satu tempat favoritnya, jika petang ia akan membawa laptop ke sudut teras. Sambil menulis sesekali bisa memandang keindahan pantai dalam balutan cahaya keemasan, matahari senja.

Dari teras balkon kamarnya itulah ia bisa melihat pemandangan di bawahnya secara sempurna. Di kejauhan tampak pantai dengan lautan luas membentang. Tepat di bawahnya kolam renang bertingkat, satu kolam untuk anak-anak, satu kolam lagi untuk dewasa.

Biasanya berteman senyap selama sepekan ia tinggal di rumah pantai ini. Namun, pagi ini tampak sebuah keluarga kecil sedang bercengkerama, riang bahagia tergelar damai di bawahnya.

Saribanon menikmati pemandangan indah itu. Ada ayah, ibu muda dengan seorang Balita perempuan. Seorang kakek tampak sedang memperhatikan perempuan muda berkecipak di kolam dewasa.

Mungkin istri mudanya, pikir Saribanon. Lelaki Arab terkenal punya beberapa istri.

“Haaaaai! Siniiiiii!” teriak ibu muda cantik, melambaikan tangan ke arah Saribanon.

“Aku?” Saribanon menuding dadanya sendiri.

“Iyaaaa! Umah, ke sini, kita ngobrol di sini!” ajaknya melempar senyum menawah dan ramah sekali.

Saribanon tertegun bimbang untuk mengambil sikap. Namun, tiba-tiba muncul Fitri dari belakangnya.

“Mari, Umah, aku perkenalkan dengan pemilik bungalow,” ajaknya sambil mengulurkan tangan, agar ia bisa menggandengnya.

“Tetapi aku hanya begini saja?” gagap Saribanon. “Bahkan aku belum mandi.”

“Aduhai, tidak mengapa Umah. Sudah cantik dan segar seperti biasa.”

Seketika mereka telah berkumpul begitu saja di kolam renang. Mereka langsung bisa bercengkerama, berbincang ringan dengan akrab.

“Layla ini istriku,” kata Kamal, lelaki muda itu memperkenalkan perempuan cantik yang sedang menyuapi putri mereka. “Si kecil ini namanya Armina, anak kami baru dua tahun. Nah, kalau itu yang di kolam sana bersama ayahku adalah adik perempuanku.”

Lelaki paro baya itu menghampiri mereka. “Maafkan. Kedatangan kami sudah mengganggu Anda, ya Hajjah?” sapanya seraya mengangguk hormat. Tangannya disilangkan sekejap di permukaan dadanya.

Saribanon tersenyum malu, mengingat dirinya bukan membalas salam malah berlari. Tak ubahnya seorang anak kecil yang ketakutan saja. Sungguh mengherankan dirinya sendiri!

Sepanjang hari itu ia bisa bergaul dengan baik bersama keluarga Baba Kamal, demikian panggilan si kakek. Mereka mengajaknya singgah di dua pesantren di kawasan Lombok Barat.

“Silakan berbagi ilmunya dengan para santri, ya Ustadah Saribanon,” pinta Tuanku Guru Bajang Kyai Haji Satori, pimpinan pondok pesantren Ash Shofwah.

Dengan senang hati Saribanon memenuhi permintaannya. Di aula yang biasa digunakan untuk acara-acara besar, wisuda santri atau tablig akbar dari para pemuka agama, Saribanon menyebar virus menulisnya.

Pesertanya sekitar 1200 santri putri, terpukau mendengar paparan kiat-kiat menulis dan semangat berkarya yang dipompakan Saribanon. Sebuah film pendek yang diangkat dari noveletnya pun diputar.

“Film pendek Mimpi Garsini ini karya Dirman, seorang penulis asli Bima,” papar Saribanon. “Karena itulah dia mengambil latar Bima.”

“Nanti dari Lombok, ya Umi!” teriak seorang santri yang disambut gegap gempita rekan-rekannya.

“Baik, kalau begitu mari mulai menulis!” tantang Saribanon.

Acara diakhiri dengan pengumpulan karya para santri.

“Tenyata mereka suka menulis,” kata Saribanon usai memeriksa tumpukan hasil karya para santri

“Luar biasa, seru sekali sambutan anak-anak,” puji Umi Nadia sang Nyai, istri Kyai.

”Terima kasih, ya Teteh, terima kasih. Ini pertama kalinya mereka terlihat begitu antusias menerima ajakan menulis dari Teteh,” kata Ustadah Mariana, kepala sekolah setingkat Aliyah.

Ternyata aslinya dari Sumedang. Ia pun tersemangati untuk menulis buku memoarnya selama puluhan tahun menimba ilmu di Mesir, Yordania, Tunisia, Aljazair dan berakhir di pesantren Ash-Shofwah, karena bersuamikan sepupu Kyai Satori.

“Apa memungkinkan kalau Teteh tinggal saja di sini?” tiba-tiba Kyai Satori serius menawarinya.

Seketika ada yang nyeletuk di tengah perbincangan di ruang tamu kediaman Kyai Satori itu. “Tidak, tidak boleh begitu!”

Semua mata menoleh ke arah lelaki itu, Baba Kamal yang jelas-jelas sedang memandang Saribanon dari samping.

Menyadari dirinya menjadi pusat perhatian dan keheranan semua yang hadir di ruangan itu, ia pun segera menambahkan: “Karena beliau tentu sudah punya rencana sendiri. Bukankah begitu, Hajjah?”

Saribanon yang masih keheranan, mendapat pertanyaan yang tak pernah diduganya jadi gelagapan. “Hmm, sebenarnya tidak ada agenda khusus….”

“Semua orang apalagi publik figur seperti Hajjah tentu sudah panjang daftar agenda tahunannya,” tukas lelaki 65-an yang tampak sepuluh tahun lebih muda dari umur sebenarnya.

Saribanon semakin gelagapan, ketika Fitri ikut menimpali yang dimaksudkan untuk membantunya. “Setahuku Umah sudah ada agenda ke Qatar bulan depan.”

“Ya, tentu saja ada agenda ke Qatar….” Saribanon tidak melanjutkannya.

“Kapan itu? Dalam rangka apa, Umah?” kali ini putranya, Kamal yang antusias sekali. “Maksudku agar kita bisa mengundang Umah sekalian ke rumah kami di sana.”

Perbincangan yang tak disangka-sangka itu malah menjadi semakin terpusat ke arahnya. Saribanon mencoba menghindar, agar tidak merembet ke masalah pribadi.

Telanjur!

Lagi-lagi Fitri malah menambahkan informasi. “Anak sulung Umah kan bekerja di Qatar….”

“Oh, begitu ya! Di mana tepatnya, Umah?”

“Sebuah perusahaan Petrolum….”

“Iya, apa nama perusahaannya?” kejar Kamal kian penasaran.

Ketika Saribanon menyebut satu nama perusahaan di Qatar, seketika terdengar seruan tertahan secara kompak dari keluarga Baba Kamal. “Kebetulan yang sangat dahsyat ini!”

“Kami ada menanam saham di sana….”

“Tidak besar, yah, sekadar cukup makan dan sedekah saja….”

“Meskipun begitu, kami, maksudnya anakku ini tiap pekan ada pertemuan di kantor pusat….”

“Baba masih suka ke sana, banyak sahabatnya yang mengajak ketemuan. Biasalah bisnis orang lansia, hehe….”

Sedetik ada celah peluang bicara, Saribanon segera minta maaf, pamitan untuk pergi ke kamar kecil. Ia menggaet Fitri agar mengikutinya. Di belakang Saribanon menegurnya agar tidak banyak menginformasikan tentang dirinya kepada orang asing.

“Oh, maafkan, ya Umah, tidak sekali-sekali lagi,” kata Fitri menyesal. “Aku sudah lancang berlagak jadi asisten Umah. Tadinya kupikir Umah suka….”

“Untuk urusan yang bersifat pribadi, aku tidak ingin terlalu mengumbar informasi.”

“Selama ini Umah sudah banyak juga menulis buku berdasarkan kisah nyata sendiri?”

Saribanon terdiam, pernyataan Fitri serasa telak sekali menohok jantungnya.

“Tidak ada salahnya membuka diri, Umah. Sepertinya Baba….”

“Sudahlah, jangan dilanjutkan kalau tidak mau bertengkar!” tukasnya merasa sudah bisa menebak arah kalimat Fitri.

“Maafkan, ya, Umah,” kata Fitri buru-buru membalikkan tubuhnya, menyingkir jauh-jauh.

Bahkan ketika mereka hendak pulang, Fitri seperti sengaja tidak ikut bersama keluarga Baba Kamal.

“Masih ada yang harus diurus dengan koperasi pondok. Pulangnya nanti malam bareng Ustadah Mariana yang mau ke Mataram,” kilahnya mengejutkan Saribanon.

Tak ada rencana dari awal!

Jalan bersama keluarga Kamal dilanjutkan kembali ke bungalow. Ternyata mereka mengajak Saribanon bercengkerama, mengobrol ringan disertai tawa dan canda.

Terutama si cantik Zarina, putri Baba Kamal yang mengaku malas melanjutkan kuliah, pintar sekali melemparkan anekdot-anekdot segar. Bahasanya bisa gado-gado, ada Inggris, Arab campur Jawa dan Sasak. Sehingga siapapun yang mendengarnya dipastikan bakal tertawa terpingkal-pingkal.

“Seharusnya menjadi artis komedian,” cetus Saribanon tak tahan berkomentar. “Pernah ikut acara stand up comedy di televisi?”

“Oh, jangan salah, Umah. Kalau kami ke Jakarta diam-diam mengajakku keluyuran ke kafe. Hanya untuk bergaya di panggung!” kata Kamal spontan.

Baba Kamal tersedak, sepertinya terkejut sekali. “Serius, he Kamal?”

Dari jok depan di sebelah putranya yang mengendarai kendaraan, ia menoleh ke belakang. Matanya mencari putrinya yang duduk di jok belakang bersama si kecil Armina.

“Fitnah itu, fitnah!” Zarina menyangkal agak keras.

“Psssst, bangun nanti anakku,” kata abangnya mengingatkan.

“Segera tarik ucapanmu sebelum menjadi dosa,” dengus Zarina, menahan kesal.

“Eh, benar loh. Dia melakukannya dalam mimpi. Kalau sungguhan artinya membangkang Baba. Iya, kan, tidak mengapa dalam mimpi sekalipun. Pokoknya bisa mewujudkan cita-citamu, Dek,” ceracau kakaknya dibarengi tertawa.

“Alhamdulillah, hanya mimpi,” komentar Baba Kamal.

“Memangnya mengapa tidak mengizinkannya jadi artis, Baba?” tanya Saribanon ingin tahu.

“Tidak, tidak, jangan pernah mengikuti jejak ibumu!” dengus Baba Kamal terdengar serius sekali.

Seketika semua terdiam beku. Hening mengambang di dalam kendaraan yang tiba-tiba dikebut oleh Kamal, membelah jalanan menjelang buka puasa.

Bersambung

(Visited 9 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Aktif Mentor Literasi untuk para santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *