Pipiet Senja

#RomansaDuaBenua

Sesungguhnya Soli ingin bisa memposisikan dirinya sebaik mungkin. Sesuai harapan anak-anak dan suami. Pada kenyataannya ia tak sanggup melepas semua yang diyakini telah menjadi miliknya. Buah perjuangan kerasnya bertahun-tahun.

Bagaimana mungkin ia harus melepas singgasana yang bergelimang  intan berlian itu? Hanya demi memenuhi harapan anak-anak yang tak tahu terima kasih? Agar tak melangkahi suami yang naif dan lugu?

Tidak!

Soli merasa tak sanggup berhenti total. Apalagi harus mundur kembali ke posisi seperti puluhan tahun silam. Nonsens!

Ia pun melanjutkan perjalanannya sebagaimana apa adanya, bersama ambisi dan target hidupna. Berharap di ujung perjalanan kelak, ia akan menemukan kesempurnaan. Sesuatu yang sesungguhnya hanya mimpi belaka, bagaikan mengejar bayangan. Ia tahu itu, tetapi, entahlah. Ia memutuskan untuk tak mempersoalkannya lagi.

Dan terjadilah tragedi pertama yang menimpa keluarga besar Hartland.

Soli bersama kolega, rekan bisnisnya sedang menyelenggarakan pesta di chateau milik Baron Piere del Calvin. Berita itu ditayangkan di saluran-saluran televisi Eropa.

“Nuwa Van Hartland tenggelam di perairan Australia bersama kapal pesiar pribadinya. Jennifer Hamilton, istrinya, artis Hollywood yang sedang naik daun selamat dari kecelakaan. Bersama putranya, Maxmillian Van Hartland, lima tahun, sedang menanti uluran tangan dari mertuanya. Sejak awal pasangan aneh ini tak diakui oleh ibu kandung Nuwa, Soli Van Hartland….”

Malam itu juga Soli terbang dengan jet pribadi sang Baron, mitra bisnisnya. Ia menemukan perempuan genit itu sedang menyelenggarakan konferensi pers. Jennifer mendramatisadi tragedi yang telah menimpa dirinya. Padahal, di belakang hari ia menuntut Soli agar mengurus Max. Harus memberinya imbalan yang sangat tinggi, karena telah rela menyerahkan si kecil kepada neneknya.

“Biarlah aku akan merawatnya seperti dulu pernah kulakukan terhadap ayahnya,” ujar Jan Van Hartland, terdengar ikhlas.

“Kali ini aku akan ikut mengawasinya,” janji Soli.

Kenyataannya selalu dengan dalih terlalu padat jadwal kerja, ia pun mengandalkan kelembutan hati Jan. Persis seperti yang terjadi dengan anak-anaknya, langsung mendapat pengawasan lelaki lugu itu. Kecuali Nuwa yang cepat sekali membebaskan dirinya dari pengaruh Jan.

“Oma sayang, sekali-sekali ajaklah Opa berlibur,” pinta Max suatu kali.

Soli tersentak dari kesibukannya mengejar bayang-bayang. Meleburkan segala pedih-perih masa silam, luka yang ditinggalkan oleh anak kesayangan. Dipandanginya wajah sosok tinggi tegap di hadapannya.

Inikah putra Nuwa? Cucu semata wayang, hampir tak sempat disayangi dengan kebersamaan. Melainkan hanya limpahan kemudahan dan fasilitas kemanjaan berlebihan semata. Persis, seperti dirasakan oleh ayahnya!

Bagai orang yang baru terbangun dari mimpi dan tidur panjang, Soli lama sekali termangu-mangu. Max, remaja ini baru memperlihatkan ijazah SMA-nya. Ia melapor tentang Jan yang semakin sering jatuh sakit.

Lelaki lugu dan terbelakang itu memang jadi sakit-sakitan. Terutama sejak kepergian kedua orangt tua angkatnya. Jan seperti kehilangan sumber semangat jiwa, kekuatan yang selama itu membentengi kesehariannya.

Dalam beberapa pekan itu Soli lebih banyak tinggal di apartemen, sebelah kantor pusat bisnisnya di Amsterdam. Sedangkan Jan tinggal di rumah peninggalan Johan Van Hartland di pinggir kota Blaricum.

“Apa yang terjadi dengan kakekmu, Cinta?” tanya Soli lelah sekali.

Seluruh enerjinya tercurah semata demi kelanggengan bisnisnya. Beatrice telah lama mandiri, membuka rumah mode sendiri di Paris. Anak gadisnya itu tetap bertahan melajang, terang-terangan menyatakan dirinya sebagai feminis. Berganti-ganti pasangan hidup dengan gaya amburadul.

Sedangkan Martin seperti sudah menjadi garis takdirnya, bolak-balik ke panti rehabilitasi kecanduan narkoba. Belakangan ia memutuskan bergabung dengan komunitas sekte Kristiani di Irlandia. Masih jauh lebih baik daripada terus-menerus menjadi cibiran orang, bahkan dianggap sampah masyarakat.

“Opa sangat merindukanmu, Oma,” himbau Max.

Akhirnya ia berhasil juga mengeluarkan neneknya dari lingkaran setan; imperium bisnis La Soli.

“Mari kita tengok kakek kesayanganmu,” ajak Soli, menerima jemputan cucunya di kantor pusat bisnisnya.

“Semoga tidak terlambat,” lirih Max, menerawang hampa ke langit musim dingin di luar mobil mewah neneknya.

“Apa maksudmu? Bukankah ada suster yang selalu menemaninya? Kalau ada apa-apa tentu dia akan mengabari kita.”

Max tidak menjawab. Rasanya tak perlu disampaikan kepada neneknya. Jan tempohari telah mengusir perawat yang dikirim neneknya itu. Bukan perawat yang dibutuhkannya, melainkan istri yang sangat dikagumi dan dicintainya.

Dan ternyata mereka memang terlambat!

Jan Van Hartland ditemukan telah terbujur kaku di atas ranjangnya yang dingin. Seorang diri. Bakat epilesi yang diidapnya sejak kecil, komplikasi dengan darah tinggi, pneumonia dan jantung bengkak. Luar biasa!

Bagaimana mungkin Jan sanggup bertahan, bahkan tanpa mengeluh kepada siapa pun? Demi rasa cintanya yang maha terhadap istrinya, itulah agaknya yang telah membuat Jan sanggup menanggung deritanya seorang diri.

“Opa, duhai, Opa…. Mengapa tinggalkan aku, mengapa?” Max meratap pilu, tatkala jenazah kakeknya dikremasi sesuai pesannya.

“Ini semua karena salah Mom!” tuding Martin kepada ibunya dengan mata nyalang, memerah dan menyala-nyala.

“Kalau saja Mom lebih perhatian, tentu ayah kita akan panjang umur.” Beatrice menambah gugatan adiknya.

Sekilas Soli bisa menangkap kilatan aneh di mata kedua anak kandungnya. Duhai, kilatan kebenciankah itu? Seketika ia merasakan sekujur tubuhnya gemetar hebat. Ia tahu, hari-harinya sejak saat itu akan terasa hampa. Mengawang bak selembar daun kering yang mengapung di musim gugur, tak tentu arah.

Bayangan yang sangat mengasihi dan mengaguminya itu sekilas bak melayang di atas kepalanya. Betapa ingin Soli menggapainya, memegang tangannya erat-erat. Agar ia tidak meninggalkannya. Namun, bayangan pemilik sejuta cinta dan pengaguman itu melayang, melayang, melayang terus…. Menjauhinya!

Selamat jalan, Jan Van Hartland!

(Visited 18 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: