Ilustrasi saja

Pipiet Senja

#RomansaDuaBenua

Soli menyadari juga akhirnya bahwa dirinya telah ditinggalkan oleh orang-orang yang dipercayai akan selalu menyayanginya. Beatrice tak pernah mau mengangkat teleponnya. Tak sudi membalas tegur sapanya, jika kebetulan mereka berjumpa. Martin pun demikian. Tak sudi menemuinya saat ibunya mengunjunginya di Irlandia.

Max tahu-tahu mendatanginya di ruang kerjanya pada suatu siang musim gugur. Beberapa bulan mereka tak pernah jumpa sejak Jan berpulang.

“Apa yang terjadi denganmu, anak muda?” tanya Soli terheran-heran melihat penampilan cucunya.

Menurutnya penampilan cucunya sangat ekslusif, kemeja putih, celana hitam dan kafiyyeh. Suatu penampilan yang mengingatkan Soli kepada anak-anak muda di Islamic Centre, Amsterdam.

Ada sesuatu yang telah mengubah total gaya hidup anak muda ini, pikirnya.

“Bagaimana dengan kuliahmu di Sorbonne?”

“Sejak beberapa bulan yang lalu aku telah bersyahadat,” sahutnya tampak lebih fokus dengan pemikirannya sendiri.

“Apa itu, Sayang?”” Soli belum paham.

“Aku telah menjadi Muslim, Oma…. Ya, sekarang cucumu ini pemeluk agama Islam, Oma.” Suara itu terdengar bergetar di telinga Soli.

Meluncurlah segala idiom Timur Tengah; syahadat, hijrah, taubatan nasuha dan beberapa istiah Bahasa Arab lainnya.

“Namaku telah diganti, bukan Maxmillian Van Hartland lagi, Oma. Namaku sekarang Faizal Islam. Oma boleh memanggilku Faiz saja. Nah, kini aku pamitan kepada Oma. Mau melakukan muhibah, perjalanan spiritual. Pertama ke Tanah Suci Mekkah. Bisa jadi akan kulanjutkan cita-cita mendiang ayahku, mencari jejak kakek di bumi Papua, Indonesia….”

Ketika itulah mereka berbantahan dengan sangat hebatnya. Pertengkaran pertama dan terakhir yang pernah mereka lakukan.

“Baik, baiklah, terserah apa keinginanmu. Kalau itu sudah menjadi pilihan hidupmu, terseraaaah! Tapi, ingat, jangan pernah sebut aku nenekmu lagi!” desis Soli dalam puncak kekecewaannya.

“Oma, ya Allah…. Mengapa sampai begitu? Aku datang baik-baik ke sini, minta restumu Oma sayang.”

Bertahun-tahun ia hidup bersama neneknya. Jennifer Hamilton telah menikah berkali-kali dengan entah siapa saja. Ia tahu, anaknya hanya dirinya semata wayang. Namun, tak pernah sekalipun ibu yang pernah melahirkannya itu menengoknya. Nasibnya sama dengan neneknya, dibuang dan diabaikan oleh ibu kandung.

Ada  kepiluan yang dalam membersit melalui sepasang mata bening. Anak muda itu berurai air mata saat meraih tangan neneknya, menciumnya dengan takzim. Soli bisa merasakan butiran kristal membasahi punggung tangannya.

“Aku akan pergi dulu, ya Oma cinta. Suatu hari akan kembali dan menemukanmu dalam keadaan berbeda. Insya Allah,” janjinya sebelum berlalu.

“Bagaimana dengan kuliahmu? Bukankah tinggal ujian skripsi?” seru Soli mencoba mencegah kepergiannya.”Bukankah kau ingin menjadi seorang dokter spesialis jantung? Oh, Max, jangan pergi! Kembalilah, Naaak….”

Sia-sia  saja. Anak muda itu telah lenyap di balik pintu lift, seberang ruang kerjanya di lantai 33.

Tahun berikutnya terjadilah krisis ekonomi di seluruh dfaratan Eropa. Mata uang bersama, euro diberlakukan. Ini berakibat sangat dahsyat untuk bisnisnya.

Imperium La Soli dan Nuwa Otomotief telah banyak menanamkan investasi dalam bentuk gulden. Seperti kebanyakan bisnis lainnya yang melakukan kebijaksanaan serupa langsung gelepekan.

Ia pun harus kehilangan hampir seluruh asetnya, kecuali kondominium pribadinya di pinggir kota Huizen.

Ujian kehidupan kali ini sangat memukul jiwa dan raganya. Soli terkena serangan jantung, bahkan stroke ringan. Namun, itu hanyalah sekadar pemicu. Perasaan tak berarti, putus asa dan kepedihan maha, itulah sesungguhnya yang telah menggiringnya ke ruang ICU.

Tim dokter yang dipimpin Profesor Hansen, segera menemukan kejanggalan pada kasus pasiennya yang satu ini. Sesungguhnya secara medis Soli sudah dinyatakan telah melewati masa kritis pada pekan pertama di klinik Medical Cetrum.

Namun, pasiennya bergeming, tergantung dari peralatan medis penyambung kehidupannya. Ia seakan-akan telah memilih mati, dan tak ingin kembali ke alam kenyataan.

Keajaiban mendatanginya sejak kehadiran seorang gadis muda. Ia dikirim oleh cucunya dari komunitas kajian Islamic Centre, Amsterdam. Para medis pun terheran-heran dengan gaya gadis berbusana unik ini.

Meskipun demikian, demi kebaikan pasien, mereka memutuskan untuk membiarkannya menjadi perawat pribadi Soli Van Hartland. Sosok yang mereka kenal sebagai Dewi Timur yang tangguh. Namun, tak memiliki siapapun tatkala dirinya terpuruk, tak berdaya.

“Apa yang sudah kau lakukan itu sungguh dahsyat,” decak Profesor Hansen memuji Laila. “Kami kagum dengan caramu membangunkan pasien dari tidur panjang yang aneh begitu.”

Laila hanya menundukkan wajahnya, menyembunyikan rasa syukurnya yang tak terhingga di balik kerendahan hatinya.

“Semuanya ini berkat kemurahan Allah Swt. Dia yang Menggerakkan semua makhluk ciptaan-Nya. Jika Allah sudah berkenan apapun yang musykil bisa terjadi,” ujarnya kemudian terdengar lirih.

“Kamu belum menjawab keherananku. Apa yang kamu lakukan itu, sungguh hebat, Nak. Kulihat kamu hanya selalu mengajaknya bicara. Menyebut kalimat yang sama, apa itu namana?”

“Oh, itu zikrullah, Prof.” Laila semakin menundukkan wajahnya. Sehingga Profesor Hansen meninggalkannya dengan pengaguman tersendiri.

Siapapun pun tak ada yang menyangkal. Bagaimana anehnya perjuangan Laila mendampingi “mayat hidup” Soli Van Hartland. Mulai dari perilakunya yang unik, terkesan serba sahaja, tetapi jelas menyimpan suatu kekuatan maha dahsyat. Membacakan ayat-ayat suci Al Quran dengan suaranya yang lirih dan lembut. Dilanjutkan dengan membisikkan kalimat toyyibah ke telinga pasien.

Kemudian melakukan pijat refleksi di telapak kaki, dan hal lain di luar tindakan medis. Hingga suatu saat tiba-tiba sepasang mata yang selalu terpejam itu mulai terbuka, memberikan reaksi.

“Aku ingin pulang ke rumahku dan bertemu cucuku, Max, oh, Faizal Islam….”

Ituah kalimat pertama yang terucapkan dari bibirnya, setelah dua bulan terkapar tak berdaya di ruang ICU.

Sambung

(Visited 14 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: