Pipiet Senja

Haji Akbar, 2006

Kegiatan selama mabit di Mina boleh dikatakan dimulai dengan qiyamul lail, pukul tiga dinihari. Dilanjutkan dengan berdzikir, tilawah Quran hingga saatnya sholat subuh. Usai sholat subuh dilanjutkan dengan membaca Al-Matsurat, kemudian tausiyah dari Ustad Satori dengan dialog interaktif.

Dilanjutkan dengan santap pagi dan rehat, biasanya dimanfaatkan untuk sholat dhuha dan mendaras Qur’an. Banyak juga jamaah yang melakukan target-targetan dalam tilawahan.

Adapun lempar jumrah yang pertama dilakukan sekitar pukul sembilan malam. Ini setelah perjalanan dari Mekah untuk tawaf ifadhah dan sa’i. Secara teoritis, rasanya tak masuk logika, apa sanggup kami melakukan prosesi yang sangat panjang dan menguras tenaga demikian?

Allah Maha Besar, ternyata tak ada seorang pun jamaah Cordova yang gentar atau undur diri melakoni kumparan rukun haji. Semua menjalaninya dengan ghirah yang tinggi sebagai ungkapan kepasrahan total kepada Sang Khalik, dan berharap senantiasa limpahan maghfirah-Nya.

Lokasi lempar jumrah tahun ini sudah jauh lebih bagus, demikian yang kudengar dari para jamaah yang pernah berhaji sebelumnya.

Malam itu, kami mulai bergerak dari depan pintu gerbang Maktab 110. para muthowif Cordova tampak sudah siap memandu. Mereka merupakan ujung tombak sukses tidaknya prosesi muhibah spiritual kami.

Kami diberi batu-batu yang diambil dari Muzdalifah. Seorang muthowif dengan gagah membawa panji Cordova, dan berjalan di depan sebagai penanda bagi jamaah, supaya mudah dikenal oleh jamaah yang terpisah dari rombongan.

Takbir digemakan sejak di depan Maktab, berlanjut sepanjang perjalanan menuju jamarat secara terus-menerus. Gema takbir ala bangsa Indonesia agaknya berhasil memikat hati para jamaah yang berpapasan dengan kami.

Mereka tergerak untuk mengikuti langgamnya dan sama-sama menggemakan kebesaran Ilahi. Wajah-wajah tampak berbahagia, acapkali tersenyum sumringah. Sungguh, sirna sudah segala letih!

Kusaksikan banyak jamaah suami-istri yang berjalan berdampingan, santai dan tampak harmonis sekali. Beberapa kali pasangan Faisal-Sari melintas di sebelahku. Air mataku tanpa sadar menitik melihat suami-istri yang sedang diuji Allah dengan penyakit itu. Tanpa ditanyakan pun sudah terlihat bahwa kondisi saudaraku Faisal mulai membaik. Buktinya dia masih bisa berjalan kaki, meskipun harus ditopang oleh tongkat dan digandeng erat istri tercinta. 

“Seberapa jauh jaraknya nih, Dek?” tanyaku kepada seorang muthowif.

“Mmm, kalo gak salah sekitar 15 km pulang-perginya.”

Ha? Perjalanan panjang terakhir yang pernah kutempuh, 1983, saat  aku dan Butet pergi ke kampung halaman mertua di Tapanuli Selatan. Aku hampir tak pernah melakukan jalan kaki kecuali di sekitar mall atau supermarket. Beberapa bulan menjelang keberangkatan ke Tanah Suci, aku sengaja sering pergi ke mall. Bukan untuk belanja melainkan untuk olah raga.

Lempar jumrah pertama hanya dilakukan di Aqabah. Saat itulah, ketika kami sudah siap melakukan lempar jumrah, sekonyong-konyong barisan jamaah dari Tajikistan melintas, tepat dari sebelah kananku.

Barisan manusia lanjut usia kakek-kakek dan nenek-nenek. Kaki-kaki mereka yang sengkang dan kurus-kurus itu, terdengar berderap solid sekali. Suami di depan, istrinya mencekal bagian punggung suami erat-erat. Begitu harmonis, begitu kompak, begitu indah rasanya.

Aku tertegun, kaki-kakiku jadi terpacak di jalan aspal menanjak yang menuju jumrah Aqabah. Ada yang bergemuruh seketika dalam dadaku.

Ya Allah, berapa usia mereka saat dipersatukan-Mu? Mungkin masih remaja, masih belia. Dan kini, berapa usia mereka? Kutaksir para pasutri Tajikistan itu berusia 70-80 tahun. Dan selama itu pula mereka bersatu, hingga maut yang akan memisahkan mereka.

Ya Allah, mengapa diriku tidak seperti mereka? Mengapa pernikahanku selalu digoncang gelombang badai berupa pengkhianatan dan kekerasan? Mengapa kami tak bisa menjadi pasangan harmonis? Seharusnya suamiku pun mengajakku ke sini setahun yang lalu.

Namun, dia tak sudi melakukannya, meskipun kuyakin dia mampu, andaikan sungguh menyanyangi diriku. Aduuuh, aku benci, aku benci, aku benciii!

Dadaku sungguh bergolak, sekujur tubuhku bergetar hebat. Benci dan dendam seketika merejam dadaku. Sangat bergolak, bergemuruh dan serasa berderak-derak, seakan hendak meluluh-lantakkan keberadaan diriku. Ya Allah Rabb, demi asma-Mu, hamba sungguh tak ingin menyimpan benci dan dendam ini berlama-lama, jeritku mengawang langit Mina.

“Teteh, ayo, lakukan! Mumpung lowong!” seseorang mengingatkanku.

Aku tersentak. Kulihat barisan lansia Tajikistan telah usai melakukan kewajiban, mereka mulai bergerak meninggalkan Aqabah. Giliran kami memang. Maka, membawa beban benci dan dendam yang menggelantung dalam dadaku, seraya bercucuran air mata, kaki-kaki pun bergerak menuju Aqabah.

Setiap kali lemparan diawali dengan kalimat; “Bismillahi Allahu Akbaaar!” Hingga tujuh kali lemparan, batunya diwajibkan mengenai Aqabah dan meluncur ke bawah. “Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, kutukan bagi segala setan dan ridha bagi Allah Yang Maha Pengasih. Ya Allah Tuhanku, jadikanlah ibadah hajiku ini yang mabrur dan sa’i yang diterima.”

Begitu usai ketujuh lontaran, dalam sekejap dadaku serasa plooong!

Apalagi setelah ditambah dengan doa bersama, kami menghadap kiblat, dipimpin oleh Ustad Satori. Ya, telah kubuang segala benci dan dendam yang selama ini meruyak dalam dadaku, acapkali timbul-tenggelam dan serasa sungguh menyiksa. Semuanya terbuang bersama air mata, bersama tujuh lontaran ke arah setan penggoda manusia, yang disimbolkan dalam bentuk jumrah Aqabah.

Malam itu, saat kembali ke tenda, kudengar tentang kabar kelaparan yang menimpa jamaah reguler. Sesungguhnya tentang kelaparan itu sudah kuketahui dari SMS Asma Nadia saat kami masih di Arafah. Selain menanyakan kebenaran berita, dia mendoakan agar aku tidak termasuk dalam rintangan kelaparan. Dari Khairina di Belanda, beberapa kali menanyai kabarku dan mendoakanku.

Akhirnya, dari waktu ke waktu semakin banyak yang mengirimkan ucapan simpati dan doa via SMS. Mereka mengira seluruh jamaah Indonesia mengalami kelaparan. Butet pun beberapa kali mengirimkan SMS, mendoakanku agar tidak kelaparan dan baik-baik saja. Meskipun lebih sering dengan bahasa gaulnya yang gress dan kocak.

“Kalo kelaparan sebut saja nama Utet… cepe kali, laparnya ngilang kalee!”

“Jangan maksain desek-desekan, entar kegencet Arab. Jangan lempar-lemparan juga, ya Mom! Apalagi ngelemparin Arab pake kulkas, mesin cuci, ranjang…. Kacooow, ihiiikkk!”

“Pssst, kalo ada Arab kece, angkut atu ya Mom buat oleh-oleh Utet…xixixi!”        

“Pakabar bundaku sayang, dadaku rindu bukan alang kepalang, tapi jangan lupa bawa gelang, buat kenang-kenangan anandamu tersayang…”

Maka, seketika segala kelelahan, kesakitan dan nyaris ambruk. Terima kasih, ya Allah, telah mengaruniaiku seorang anak salehah, kocak dan selalu siap menyemangati bundanya.

Acapkali aku berbagi SMS-nya dengan rekan-rekan dekatku. Erna akan terkikih-kikih setiap kali membaca SMS putriku. Ya, Butet adalah sumber semangatku di kala diriku merasa terpuruk.

(Visited 10 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: