Oleh: Gugun Gunardi*

Pada tahun 1962, penulis mulai belajar di SD. Sekolahnya diberi nama sama dengan nama pahlawan Bandung Selatan, yaitu SDN Mochammad Toha. Sosok ini pernah diangkat dalam sebuah film layar lebar dengan judul “Toha Pahlawan Bandung Selatan” dengan pemeran utamanya (alm) Rachmat Hidayat. Pada saat itu, sekitar tahun 1970, Rachmat Hidayat adalah bintang film kelas atas di negeri kita, ditandai dengan beberapa penghargaan yang beliau peroleh dari dunia seni peran tersebut.

Sosok (alm) Mochammad Toha sendiri adalah pahlawan saat perjuangan melawan penjajahan Belanda, sungguh mengagumkan. Almarhun wafat secara syahid di gudang mesiu tangsi Belanda di Dayeuh Kolot Kabupaten Bandung. Beliau gugur dengan meledakkan diri untuk mengurangi kekuatan pasukan penjajahan Balanda di Bandung Selatan.

Penulis sendiri tahu dan mengagumi sosok Mochammad Toha (Pahlawan Toha) lewat lagu yang digubah oleh seniman cerdas (alm) Mang Koko Koswara dengan judul “Pahlawan Toha”. Sekadar mengundang kenangan, kita coba flashback untuk mengenang sosoknya melalui lirik lagu tersebut.

Pahlawan Toha

Getih suci nyiram bumi
Tulang setra mulang lemah
Babakti ka lemah cai
Cikal bugang putra bangsa

Nyatana Pahlawan Toha
Pahlawan Bandung Selatan
Patriot ti Dayeuh Kolot
Tugu ngawangun ngajadi ciri
Tarate nu mangkak ligar na empang
Jadi ciri gugurna Pahlawan Bangsa.

Pahlawan Toha

Darah suci membasahi bumi
Tulang belulang kembali ke tanah
Berbakti ke Ibu Pertiwi
Yang gugur putra bangsa

Dialah Pahlawan Toha
Pahlawan Bandung Selatan
Patriot dari Dayeuh kolot
Tugu dibangun menjadi tanda
Teratai yang ada mekar di kolam
Jadi tanda tempat gugur Pahlawan Toha.

Kenangan tentang Pahlawan Toha yang dihadirkan atau diabadikan lewat lagu tersebut antara lain Kota Kecamatan Dayeuh Kolot, Tugu Pahlawan Toha di kota kecamatan tersebut di pinggir kolam, dan bunga Teratai yang mekar di tengah kolam. Dahulu, entah karena tidak ada yang tahu sosok Mochammad Toha atau apa, saya kurang hapal. Tetapi, di atas tugu perjuangan ada (saya namakan ) bom pepaya. Waktu itu belum dibuatkan patung pahlawan Toha.

Saat ini, tugu dengan bom di atasnya sudah diganti dengan patung pejuang dengan pakaian ala Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Sedangkan kolamnya, meski agak sedikit kurang, masih ada. Bunga teratainya saja yang tidak ada. Tempat tersebut ada di sudut timur Tangsi Tentara Kujang 331 (saya ingat namanya yang dulu), sekarang jadi Tangsi Zipur.

Masyarakat Bandung Selatan, Kabupaten Bandung, harusnya bangga memiliki tempat bersejarah yang tercatat dalam sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia ketika melawan Penjajah Belanda. Tetapi, daya tarik wisata alam di Bandung Selatan lebih menjanjikan secara finansial, seperti Situ Cileunca, Kolam Air Panas Pasir Junghun, Situ Patenggang, Ranca Walini, Ranca Upas, Cimanggu, atau yang lebih dekat Gunung Puntang.

Semua tempat wisata itu menjadi lebih ramai dengan berbagai kuliner khas Bandung Selatan. Para investor pun sepertinya tidak segan menanamkan modalnya di tempat-tempat tersebut. Malahan, ada lagi tempat wisata Kampung Batu di daerah Pameungpeuk, kurang lebih 5 km dari Tugu Pahlawan Toha.

Sayangnya, Tugu Perjuangan Pahlawan Toha belum dibangun secara siginifikan. Entah karena kurang daya tariknya (padahal bisa diciptakan oleh para seniman) atau kesulitan mengundang investor untuk memodalinya. Padahal, monumen tersebut harusnya menjadi kebanggaan masyarakat Bandung Selatan yang menggambarkan bagaimana jiwa heroik tertanam dalam pribadi Mochammad Toha (Pahlawan Toha).

Dalam kondisi saat ini, rasanya layak bila monumen Pahlawan Toha direnovasi menjadi sebuah tempat wisata sejarah perjuangan bangsa yang menarik. Dengan demikian, generasi muda (khususnya di Bandung Selatan) dapat mengambil contoh yang baiknya dari Pahlawan Toha. Jangan sampai monumen tersebut sekadar menjadi hiasan untuk ditengok sambil lewat, sekadar dipertahankan agar tidak hilang, atau justru menjadi monumen yang terlupakan.

Pada tanggal 16 April 2021, jam 11, saya berkunjung ke monumen tersebut. Ternyata belum ada perubahan yang berarti di monumen tersebut. Hanya tugunya sudah diganti dengan ukiran api. Di dinding sebelah timur ada diorama perjuangan Pahlawan Toha. Kolamnya pun cukup bersih, tetapi tidak ada bunga teratainya.

Kita titipkan harapan kepada Bupati Bandung Bapak H. Dadang Supriarna, M.Si. agar ke depannya dibangun ruang diorama yang lengkap. Lingkungan sekitar monumen pun dibuat teduh dengan pepohonan yang rindang.

Dengan demikian, diharapkan Momumen Pahlawan Toha dapat menjadi salah satu tempat wisata sejarah di Bandung Selatan, seperti halnya masyarakat mengenal lagu “Bandung Selatan di Waktu Malam” dan “Saputangan dari Bandung Selatan”. []

*Dosen Unfari Bandung

(Visited 95 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: