Ilustrasi

Pipiet Senja

#AnakGundikBabaOng

#RomansaDuaBenua

Malam merangkak di kaki bukit, tetapi mata Mak Kesih masih nyalang. Sekujur tubuhnya terasa ngilu-ngilu, tulang-tulangnya seakan berlepasan. Demikian selalu yang dirasakannya, apabila dirinya tetap memaksa bekerja keras sepanjang hari.

Soli telah merebuskan air jahe campur salam, sereh dan irisan gula aren untuk nenek tercinta. Orang Jawa menyebutnya empon-empon, di bumi  Parahiyangan namanya cijahe.

Kini anak itu telah lelap di atas bale-bale di sebelahnya. Mak Kesih bangkit, lama memandangi wajah elok itu. Perkataan Bah Dirja ada benarnya, pikirnya. Soli semakin besar dan bakal memikat mata para lelaki. Sementara dirinya semakin renta dan lemah.

“Ya, mungkin aku harus menghubungi ibumu. Bagaimana pun caranya. Biar kamu ikut ke kota, tinggal bersama ibumu,” demikian akhirnya Mak Kesih memutuskan.

Suara jengkerik mengkirik, burung-burung malam berbaur dengan kesiur angin gunung bak nyanyian kelam yang memilin hati Mak Kesih. Keresahan, kegamangan dan kekhawatiran kian menyergap kalbu rentanya.

“Aku harus melepaskanmu, Soli. Harus!” gumamnya pula sambil membetulkan letak sarung di atas tubuh anak baru gede itu.

Ada setitik bening jatuh dari sudut matanya, diikuti titik-titik bening lainnya. Mak Kesih akhirnya menangis, air matanya sebagian jatuh di wajah Soli. Namun, anak perempuan itu sedang merajut harapan, menyulam cita dalam dunia mimpinya.

Malam itu, Soli pulang dari pasar, seorang diri.

Seharusnya jangan lewat jalan ini!

Mak Kesih bahkan sudah pesan wanti-wanti, jangan pernah lewat jalan sepi ini. Ada banyak kuburan kuno di antara rimbun jati dengan kebun salak. Nuansa malam yang terasa angker dan menakutkan. Hiiiy!

Soli menceracau dalam hati. Ia menyesali dirinya, tidak pulang bareng rombongan. Namun, mengingat obat batuk yang dibelinya di pasar Cililin sangat penting untuk neneknya, hati Soli agak terhibur. Ia sudah tak tahan lagi setiap kali melihat neneknya batuk-batuk hebat.

Malam hanya diterangi cahaya rembulan. Jelas tak ada bintang gemerlap di langit biru bening. Soli terus melangkah cepat, melintasi kebun-kebun salak, kerimbunan pohon jati di jalan setapak menuju desanya. Ia mendekap buntalan berisi sedikit belanjaannya, erat-erat di dadanya.

Ini akhir pekan dan ia mendapatkan upah lebih besar dari biasanya. Ia telah bekerja keras dengan tenaga kudanya.

Kueeek, kueeek, kueeeek!

Tiba-tiba sebuah bayangaan melesat dari balik kerimbunan pohon jati.

“Sekarang…, kenaaa!”

“Haaapppss, aduuuh! Tolooooong, tolooooong….”

Suara Soli tenggelam dalam nyanyian kelam pedesaan yang mendadak mengerikan. Tenaga si penyergap sangat kuat, dipenuhi hasrat dan nafsu menggebu-gebu. Soli berusaha melawan, memberontak sekuat daya. Sisa-sisa tenaga setelah dipertaruhkan untuk memecah batu, pergi ke pasar Cililin jalan kaki. Ya, itulah enerji yang masih dimilikinya.

Ia masih bisa mengenalinya. Wajahnya tak asing lagi.Lelaki tu sering menatapnya bulat-bulat. Dalam dingin dan kemesuman si Dajal, kemurniannya direnggut secara keji. Soli hanya bisa merintih kesakitan, di bawah ancaman ujung clurit yang ditempelkan di lehernya.

“Kalau kamu berani buka suara, awaaaas! Bukan cuma kamu yang celaka. Sekalian nenekmu akan kuhabisi! Mengerti!” kata lelaki jahanam itu sebelum meninggalkannya di tengah kegelapan kebun jati.

Di kejauhan suara burung hantu terdengar menggukguk. Seperti tengah menangisi nasib malang yang menimpa Soli. Gadis malang itu berjuang keras untuk bergerak, meninggalkan tempat yang telah berubah bak neraka jahanam.

Beberapa saat ia hanya bisa merangkak, mengingsut-ingsut di jalan setapak yang senyap dan lengang. Hingga akhirnya ia sanggup bangkit. Kemudian ia berusaha berjalan terseok-seok.

“Aduuuh, Gusti Allah,” jeritnya pilu.

Betapa sulit ia menggapai gubuk neneknya yang seolah takkan pernah sanggup digapainya. Namun, ia terus bergerak disaksikan malam yang semakin kelam. Serta nyanyian hewan yang mengiringi rasa sakit tak tepermanai di sekujur tubuhnya.

Mak Kesih tak percaya begitu saja saat mendengar cerita Soli keesokan harinya. Ia menemukan anak itu sedang merintih kesakitan di pancuran. Beberapa jenak ia membujuknya agar berterus-terang. Namun, begitu Soli berterus-terang, perempuan tua itu justru berusaha menentangnya.

“Bagaimana ini, Mak?” Soli jadi bingung dan takut sekali.

Ia mulai mengisak perlahan. Mak Kesih seketika memandikannya, mengguyur air dingin pancuran ke sekujur tubuhnya, sebanyak-banyaknya. Seolah-olah ingin membersihkan najis yang telah mencemari kemurnian cucunya.

“Sudah jangan nangis lagi, sudah, cupppps!” bujuk Mak Kesih.

Namun, air mata Mak Kesih mulai berderaian membasahi pipi-pipinya yang keriput. Inilah air mata berlimpah yang pertama sejak bertahun-tahun berhasil dibendungnya.

“Mak, Soli takut, takuuuut!” tangis Soli pun pecah.

Bayangan-bayangan mengerikan semalam seolah berseliweran kembali di matanya. Mak Kesih cepat merangkulnya, menyelimutinya dengan kain. Lalu membimbingnya kembali ke gubuk mereka.

“Ini bukan bualan. Bukan pula khayalan Ini kenyataan!” pekik Mak Kesih dalam hati.

Air mata Mak Kesih terus berbuncah dan menyamudera. Ia tak bisa membayangkan kehidupan Soli selanjutnya. Seluruh harapan dan impiannya untuk melihat cucu tersayang menjadi perempuan terhormat, sirna sudah!

Perempuan tua itu kemudian segera menyusut air mata dengan ujung kebayanya. Ia tak ingin menambah jiwa mungil semakin pilu. Semakin bingung dan terguncang. Seketika ada kemarahan dan kebencian yang meruyak dalam dadanya yang kerempeng. Dajal jahanam itu, ya, dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal!

“Apa yang Mak lakukan?” Soli bertanya dari atas bale-bale.

Sementara neneknya sibuk membuatkan sesuatu untuknya.

“Ini minuman nyang sangat berkhasiat,” cetus Mak Kesih sambil terus memarut kunyit besar sebanyak dirinya mampu melakukannya.

Menurut pikirannya yang sederhana, perasan kunyit sebanyaknya bisa membersihkan rahim. Semoga ada keajaiban. Bisa merapatkan kembali rahim yang telah terkoyak-moyak. Ah, apa mungkin bisa?

“Kita harus berikhtiar!” gumamnya. “Ini minumlah, habiskan!”

Soli menurut saja saat disodori minuman yang terasa aneh di mulutnya.

“Sekarang Mak mau pergi dulu. Kamu istirahat saja di sini. Pintunya harus dikunci. Jangan dibukakan selain untuk Mak, ya!”

Soli mengangguk lemah. Ia ingin tidur dan takkan pernah membukakan matanya kembali.

“Dan ingat, jangan pernah katakan apapun kepada orang-orang!” pesan Mak Kesih sebelum berlalu.

Soli kembali mengangguk perlahan.

Demikian berlangsung sampai beberapa hari.

Mak Kesih tak membiarkan Soli keluar rumah. Soli tak ingin membantahnya. Jiwanya sangat terguncang. Ia bahkan tak tahu apa yang harus dilakukannya. Satu-dua kali Soli melihat Mak Kesih membawa serta Bah Dirja. Keduanya bercakap-cakap pelan di belakang punggung Soli. Kelihatannya mereka sedang merencanakan sesuatu. Kemudiaan terdengar istilah gantung diri atau semacamnya.

Soli memejamkan matanya rapat-rapat.

Sambung

(Visited 61 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: