Pipiet Senja

#9000Bintang

Siang itu Raja ada kesempatan ngobol dengan Lubenah.

“Mbak, kabarna sudah dapat kerja, ya?”

“Iya nih, alhamdulillah….”

“Kerja di mana? Sebagai apa?” Raja tak tahan mendesaknya. “Kenapa gak terima tawaran beasiswa dari Japan Foundation itu, Mbak?” 

Lubenah menggeleng. “ Mbak sudah mantap tinggal di sini. Sambil kerja Mbak masih bisa mengajari  mereka, insya Allah…”

“Sok idealis!” tuding Raja gregetan. “Tawaran bagus begitu! Kesempatan emas yang gak bakal datang siap saat, malah ditolak?”

“Pssst!” Lubenah meletakkan telunjuk di bibirnya.

“Mbak, heeei! Tahu gak sih, puluhan ribu anak sebaya kita antri kepingin dapat anugerah beasiswa begitu!” Raja masih gegetun.

“Iya, iya, tahu. Tapi bagi Mbak sudah final. Jangan dibahas lagi, pliiis!”

Wajah bulat telur itu meminta pengertian, sorot matanya tetap memancarkan kasih sayang. Aduuuh, mana tahaaan!

Beberapa jenak keduanya terdiam. Raja geleng-geleng kepala, menghela napas berat.

“Belum dijawab pertanyaanku tadi. Kerja di mana, Mbak?” tanyanya kini melembut.

“Pabrik tekstil, karyawati….”

“Ya Tuhaaan!” pekik Raja agak keras, sehingga beberapa anak menoleh, memperhatikan keduanya.

Lubenah tak urung melirik Raja, mengisyaratkan bahwa mereka tak patut mendiskusikan hal ini di depan anak-anak. Raja terpaksa harus menahan diri. Lagipula kalau dipikir-pikir apa haknya menuntut gadis ini, memutuskan pilihan? Mereka baru akrab dalam pekan-pekan terakhir.

“”Aku sayang, yah, seperti sayangku kepada kakakku,” Raja bergumam dalam hati.

Sementara Lubenah sudah asyik menuntun seorang anak perempuan membaca Juzzama. Raja pun mengikuti jejaknya. Ia kembali menghampiri anak-anak dan mencoba melanjutkan programnya hari ini. Ia ingin mengenalkan mereka dengan kekayaan alam. Meskipun sempat ditertawakan oleh Tuginah.

“Pake pengenalan kekayaan alam segala. Lagian, wuiiih, kekayaan alam apa? Ya, begini ini nih, gembeeel! Anak-anak di sini, termasuk aku, ya dengerin! Kami cuma butuh makaaan, tauuuuk!”

“Nggak jugalah, mereka butuh lebih dari itu!” bantah Raja.

“Haish, mau taruhan?” tentang gadis yang sudah mundur dari dunia ngamennya itu.

Sekarang dia malah luntang-lantung, semakin sering mampir di rumah Mami. Kelihatannya peringatan dan nasehat Lubenah tak berbekas sama sekali di kepala anak itu. Bulik Tarsih segera saja menggandengnya ke mana-mana.

Raja telah membawakan setumpuk buku cerita tentang kekayaan alam Tanah Air. Untuk itu ia rela menghabiskan uang sakunya bulan ini, memborong buku-buku baru dan bekas. Ditemani Niknok, sekarang mereka jadi akrab, berburu buku murah ke Pasar Jaya Senen.

Ini baktinya yang pertama. Raja melakukannya dengan penuh semangat dan sukacita. Tak peduli kemungkinan sekali diamuk ayahnya atau ibu tirinya atas kelakuannya ini.

 “Aku gak peduli dengan taruhanmu!” tanpa sadar Raja mengulang jawaban atas tantangan Tuginah yang melecehkan.

“Apa sih, Bang?” tanya anak laki-laki, Iyan. Ia mendongak dan memandanginya keheranan.

“Ehh, gak apa-apa,” sahut  Raja cengiran. 

“Makanya jangan ngelamun kalau lagi jadi Ngustad di sini,” sindir Tuginah, entah sejak kapan sudah  berada di belakang mereka.

Dalam sekejap bilik mendadak hening. Semua mata menatap takjub ke arah Tuginah. Mulut-mulut mungil dari selusin anak perempuan dan laki-laki itu pun melongo lebar.

Betapa tidak? Penampilan Tuginah sangat berbeda siang ini. Wajah ndeso Indramayu telah disulap menor. Baju merah menyala, memamerkan lekuk-lekuk tubuhnya yang sintal dan berisi.

Hening pecah ketika mulut Niknok tak bisa menahan komentarnya. “Wooow, Mbak sudah kayak seleb, nih yeee?”

Iyan tak mau kalah menimpali, “Iye, tuh! Sampe keliatan bodongnya, eh, pusernya mangaaap?”

Anak-anak tertawa. Raja melemparkan pandangannya jauh-jauh dan mengucap istighfar. Lubenah bangkit menghampiri sepupunya, ditariknya lengan gadis itu agar mengikutinya masuk ke ruang dalam.

“Lepaskaaan!” Sekali sentak ia berhasil melepaskan diri dari cekalan sepupunya.

“Dengar, ya, kamu gak berhak apa-apa atas diriku! Aku berhak meraih mimpiku sendiri. Mulai hari ini, detik ini, kita pilih jalan masing-masing okeee?”

“Waaah, gayanya kayak Mbak Susanan!” Niknok kembali nyeletuk.

“Nah, jangan begitu. Nah, eling, elinglah!” erang Lubenah.

Namun, sosok yang merasa telah mendapatkan celah mimpinya itu tak menggubrisnya. Ia membalikkan tubuhnya, meloncat dari panggung bernama Karomah, dipandangi mata anak-anak yang membelalak polos.

“Kejar dia, Raja, kejar,” pinta Lubenah.

“Mengejarnya ke rumah si Mami?” balik Raja bertanya.

“Jangaaan!” seru Iyan, Niknok, Lilis dan lainnya serempak.

“Mau digebukin apa sama tukang pukul si Mami!” Lilis bergidik.

Lubenah terduduk lemas.

Beberapa jam kemudian, ketika hendak meninggalkan kawasan Gang Molek, dan melewati rumah si Mami. Ekor mata Raja menangkap bayangan Tuginah di antara sosok-sosok menor lainnya. Mereka sedang bersiap mengemas malam, menawarkan gairah dan hasrat kepada lelaki hidung belang.

Raja mulai paham apa yang bakal terjadi pada gadis itu. Tuginah yang malang. Dia sedang mengejar mimpi dengan caranya sendiri. Seketika Raja seperti melihat segerombolan awan hitam berarak-arak dari arah selatan. Mendung agaknya mulai menyungkup kawasan kumuh ini.

Malam telah larut saat Raja turun dari ojek di depan pintu gerbang ibu tirinya. Langkahnya tertahan ketika matanya menangkap sebuah Porche silver memasuki pekarangan. Buru-buru ia menyelinap di balik kerimbunan pohon.

“Hm. Pasti Papa dengan Nyonya Besar,” terkanya mendadak sengak.

Oh, oow, tidak!

Suara mereka, ketawa-ketiwi itu, di kupingnya terdengar ganjil. Lebih seksi, lebih sensual dan lebih menggoda.

Aha, kena kau! Tante Maria bareng siapa?

“Oke, tenang saja, semuanya dalam kendaliku.…” Suara si Pelakor.

 “Bener gak takut siapa-siapa?”

“Yeah, sekarang dunia ini sungguh milikku! “

“Suamimu…”

“Cuma tameng, semakin ompong, peot.…”

“Dan gak berguna!”

“Hahaha…. Tahu saja kau!”

Raja menggisik-gisikkan matanya tak percaya. Dua sosok itu tidak seperti hubungan antar kolega, melainkan lebih sebagai sepasang kasmaran. Tawa keduanya menggema ke pelosok teman. Mengambang ke permukaan air kolam. Disaksikan hewan-hewan peliharaan di sekitar rumah. Jahanam!

Raja beberapa saat mengawasi mereka dengan perasaan ajaib. Suatu rasa yang bisa menghancurkan segala perasaan tak berdayanya, selama tinggal di rumah ini.

“Bodohnya gue!” rutuknya menepuk jidatnya sendiri, bibirnya mendadak tersenyum sinis.

Ya, kini ia sudah tahu kelemahan perempuan yang telah menghancurkan perkawinan orang tuanya itu. Pengkhianat, pezina, busuuuk!

Jeduuugh!

“Eee, eh, ngagetin! Ngapain di situ malam-malam?”

“Pssst, jangan berisik, sini!” Raja menarik tangan Pak To.

Agar ikut pula mengawasi kelakuan sepasang manusia yang bergerak terus menuju ruang dalam. Tak berapa lama kemudian tampak lampu di kamar utama berganti remang-remang.

Raja dan Pak To berpandangan di bawah cahaya lampu taman. Terdengar helaan napas berat dari keduanya.

“Mereka itu…. Hm, apa sudah lama begitunya itu, ya Pak To?”

“Hmm, beberapa kali….”

“Bagaimana?”

“Yah, sekitar dua bulan belakangan ini,” sahut Pak To masam.

“Sejak Papa gak pernah pulang ke sini, ya,”  gumam Raja yang segera diiyakan oleh lelaki paro baya itu.

Sesungguhnya Raja masih ingin menyelidiki tentang pasangan Tante Maria. Tidak, tentu saja Pak To lebih setia kepada majikannya, pikirnya. Tanpa bicara apa-apa lagi Raja pun mulai melangkah.

“Tunggu, Den!” panggil Pak To mengejarnya.

“Gak perlu ikut campur, Pak, nanti.…”

“Saya gak takut dipecat kok, Den!” tukasnya cepat dan itu sungguh mengagetkan.

Raja merandek, mengerling ke arah duda tua yang sering dipergokinya melamun itu. “Ada apa?” tanyanya ingin tahu.

“Mungkin saya lebih baik ikut anak ke seberang….”

“Sini, ikut saya!” Raja menggamitnya masuk, melalui pintu samping, menuju kamarnya di loteng.

“Bener, Den….”

“Jangan panggil Den, pliiis deh….”

“Eeeh, iya, Raja.” Pak To cengiran. “Saya sudah bulat mau pergi dari rumah ini. Tinggal waktu yang tepat saja.Takut terbawa dosa.

Raja mengunci pintu kamarnya. Dipandanginya sekilas wajah tua yang lelah. Mungkin memang betul dia sangat merindukan keluarganya. Anaknya semata wayang dan cucu-cucunya di Lampung. Ia duduk njemprak di lantai, meskipun Raja menyilakannya mengambil tempat di ranjang atau kursi.

“Rindu keluarga, hmm, hanya itu?”

“Ya, hanya itu….”

“Bukan lantaran kelakuan penghuni rumah ini?” Raja menohoknya dan itu ternyata memberi efek luar biasa.

Entah dengan pertimbangan apa, akhirnya Pak To membongkar kebusukan yang menurutnya semakin menyengat.

“Papa harus tahu ini!” gumam Raja saat sendirian kembali di kamarnya yang hening.

Ketika keesokan harinya Raja sengaja menemuinya di resor Anyer, lelaki itu malah balik memarahinya.

“Apa tak ada kerjaan lain selain memfitnah orang, hem? Sudah, pergi sana, anak tak tahu balas budi!” usir Mardo merasa sangat terganggu dengan keberadaannya di tempat itu.

@@@

(Visited 670 times, 5 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

2 thoughts on “Memergoki Ibu Tiri dengan Gigolo”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: