Agus Sopian – Penyaji Pipiet Senja

Note: Majalah Aktuil bagi penulis merupakan tonggak sejarah, saat mencatatkan nama Pipiet Senja di jagat Literasi. Karya pertama penulis hanya 3 puisi yang dikategorikan Puisi Mbeling oleh Remy Sylado. Jika tak ada Aktuil yang sudi memuat puisi penulis, bisa jadi takkan pernah ada nama Pipiet Senja di jagat Literasi Indonesia. Maka, sebagai penghargaan, rasa terima kasih dan nostalgia kepada majalah Aktuil, penulis posting catatan salah seorang editotnya; Agus Sopian.

Angin kering bulan Juni berembus di Jalan Lengkong Kecil, Bandung. Percetakan PT. Timbul yang menempati gedung nomor 57, bangunan eks kolonial Belanda berlantai dua, terasa sunyi. Di lantai satu, terlihat sebuah kamar kerja dengan perabotan tua yang menyita ruang. Hanya ada dua orang di situ: Maman Sagith, pemimpin kantor, dan Ina Herlina, satu-satunya tenaga administrasi.

Areal percetakan, yang terletak di ekor bangunan, hanya berjarak beberapa langkah dari ruang mereka. Di mulut pintu, tampak mesin absen ketok produk 1970-an yang sudah tak digunakan. Panas dan pengap. Dua kipas yang berfungsi membuang udara sudah pensiun. Sekurang-kurangnya ada dua meja dan empat meja kecil. Semuanya penuh cacat oleh goresan benda tajam dan lelehan tinta membatu.

Di atas meja, kertas-kertas tak beraturan, mulai kertas folio, afvaal, sampai doorslag, berceceran di sana-sini. Di tengah ruangan teronggok satu unit mesin cetak buatan Italia, Nebiolo Invicta 36. Tahun 1970-an, ketika dunia pers dijangkiti demam offset, impian besar para pengusaha percetakan dan penerbitan di negeri ini disandarkan padanya.

Di seberangnya terdapat mesin potong Polar-Mohr Standar 90. Tak jauh darinya, ada sebuah bangunan aneh, terpencil di pojok ruangan sebelah kiri. Isi bangunan mirip saung petani di sawah ini tak lain dari meja exposer uzur untuk mengerjakan plate. Di atas meja, tampak deretan lampu neon, yang bingkainya sudah dipenuhi kembang debu.

Bergeser ke sayap kanan, dua letter press, mesin cetak yang masih menggunakan klise pelat timah, mengundang perhatian. Original Heidelberg, demikian jati diri sang mesin, di hari tuanya, masih sanggup mencetak sampul buku atau majalah sebanyak 1.500 lembar per jamnya.

Seorang pria dengan uban putih tumbuh merata di kepalanya bekerja di sana. Namanya Kuswari. Dia tak menoleh ketika saya tegur. Pada teguran ketiga, baru dia menoleh dan tersenyum. Sesekali dia mengambil kuas dan mengkilik-kilik mesin. Kali lain dia memindahkan hasil cetak ke meja di sebelahnya. Kuswari dan mesin itulah yang melahirkan jabang bayi sebuah majalah fenomenal 1970-an: Aktuil.

Pada masa jayanya, ruang redaksi Aktuil menempati lantai dua percetakan PT. Timbul. “Mari ke atas,” ajak saya kepada Maman Sagith, layaknya tuan rumah kepada tamu. Saya menaiki tangga pendek. Ruangan redaksi benar-benar sudah berubah. Tak ada lagi meja tulis yang semrawut karena tumpukan kertas atau majalah-majalah luar negeri. Tak ada lagi Royal dan Remington, mesin tik berkelas pada 1970-an.

Ruangan berlantai teraso kerang luks warna abu-abu coklat seluas 250 meter persegi, yang semula tanpa sekat itu, kini jadi bilik-bilik kecil. Ada empat bilik di sana: ruang tamu, kamar tidur, studio, dan kantor studio.

Di pojok sayap kanan saya membayangkan seorang pria gondrong, berkaos oblong, dan bercelana jins sedang mengetik dengan cepat, karena harus mengurusi hal-hal lain yang menunggu sentuhannya dari koordinasi reportase, menyunting naskah, membayar honor tulisan, mengecek mesin cetak, distribusi majalah, sampai memegang kunci kantor. Pria yang saya bayangkan tak lain dari Maman Sagith, yang kini berdiri di samping saya.

Penampilan eks manajer Dara Puspita, sebuah kelompok musik asal Surabaya yang terkenal pada 1970-an ini, seperti pria kebanyakan yang sedang menghadapi senja, dengan sejumput kenangan masa jaya yang tak jelas lagi buat apa.

Seperti juga Kuswari, Sagith adalah awak Aktuil. Sagith bekerja sejak 1967, tahun pertama Aktuil dihadirkan ke hadapan publik. “Tapi saya tidak termasuk pendiri Aktuil. Yang mendirikan Mas Toto,” katanya. Mas Toto adalah Toto Rahardjo, sepupunya dari garis ibu, yang memiliki PT Timbul.

Aktuil memang lahir dari sebuah kesepakatan. Prakarsa bermula datang dari Denny Sabri Gandanegara, kontributor majalah Discorina, Yogyakarta. Putra pertama Sabri Gandanegara, wakil gubernur Jawa Barat periode 1966 – 1974 ini, tidak puas dengan majalah tempatnya berkarya yang hanya menyajikan profil pemusik dan chord lagu. Dia lalu bertemu Bob Avianto, seorang penulis lepas majalah perfilman. Dari obrolan ringan, mereka sampai pada perbincangan intens dan serius untuk membuat majalah hiburan.

Avianto menemui Toto Rahardjo, pemimpin kelompok musik dan tari Viatikara. Gayung bersambut. Rahardjo rupanya sudah lama mengidamkan sebuah media yang dapat memberikan panduan informasi, selain untuk mempublikasikan kegiatan-kegiatan seninya.

Di rumah Syamsudin – publik musik mengenalnya pemusik Sam Bimbo- mereka mencapai kata sepakat dan mengusulkan Aktuil sebagai nama majalah. “Ini bahasa Indonesia yang salah memang. Tapi, saat itu kami sedang gandrung-gandrungnya majalah Actueel,” kata Denny Sabri Gandanegara. Actueel adalah majalah musik terbitan Belanda, yang masuk ke kota Bandung melalui jalur bursa media Cikapundung. “Nama Aktuil diusulkan untuk pertama kalinya oleh Avianto, sedang logonya dibuatkan Dedi Suardi,” tambah Rahardjo.

Timbul persoalan bagaimana mereka mendapat tambahan biaya investasi, yang setelah dihitung ternyata memerlukan dana sekitar Rp 10 juta (kurs rupiah saat itu Rp 900 untuk US$1). Mereka kemudian mengajak Roy Sukanto dan Bernard Jujanto, keduanya anggota Viatikara.

Ramai-ramai menunjuk Toto Rahardjo sebagai pemimpin umum-cum-pemimpin redaksi,
mereka berencana meluncurkan edisi perdana pada Mei 1967. Namun, karena satu dan lain hal, terutama karena hampir sebagian besar dari mereka tidak memiliki latar jurnalistik, peluncuran nomor perdana molor. Ketika urusan redaksional teratasi, kerumitan lainnya muncul: mereka tak tahu tempat mendapatkan kertas.

Selebihnya, percetakan milik keluarga Rahardjo ternyata memerlukan tambahan listrik. Puncak kesulitan, tak ada seorang pun di antara mereka yang tahu persis bagaimana mengerjakan separasi dan opmaak. Toh, akhirnya, satu per satu kesulitan mereka singkirkan. Berbekal izin Penguasa Perang Daerah Jawa Barat, organisasi militer yang sangat berkuasa, nomor perdana Aktuil diterbitkan pada 8 Juni 1967.

Awak Aktuil yang hampir seluruhnya berasal dari keluarga kelas menengah kota. Tak urung mereka merasakan suka-duka mengecerkan majalah. Para pengecer dadakan ini berkeliling kota bersepeda motor. Sebagian bahkan melarikan majalah ke luar kota Bandung, seperti Sumedang, Garut, dan Cianjur. Oplah 5.000 eksemplar ludes dalam waktu kurang seminggu. “Siga kacang goreng kasarna mah (seperti kacang goreng kasarnya),” kenang Gandanegara.

Pada nomor kedua, mereka tak mau diganggu lagi problem keredaksian. Karenanya, Maman Sagith, mantan awak Harian Banteng, mereka comot. Pada nomor ini mereka baru berani menetapkan kebijakan periodisasi terbit: dwimingguan.

Denny Sabri Gandanegara, kelahiran Garut 1948, tidak perlu rumah sakit jiwa untuk mengobati kegilaannya pada Deep Purple, sebuah kelompok musik rock asal Inggris yang sedang merajai ingar-bingar blantika musik cadas. Maka, selepas edisi nomor tiga, dia siap-siap menuju Eropa. Kepada ayahnya, dia bilang bakal kuliah di sana. Kepada kawan-kawannya di redaksi Aktuil, dia janji akan mengirimkan laporan pandangan mata pentas para pemusik rock, terutama Deep Purple.

Sambung

(Visited 236 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: