Pipiet Senja

#MemoarGeriBusye #3Jam3,5Milyar

Bara tak kerasan lama-lama bersama sang Nenek. Ia pun pamitan, tanpa berbasa-basi minta doa dan restu segala.

“Tidak perlu, sama sekali tak perlu,” desisnya dalam hati.

Ketika keluar dari rumah neneknya, beberapa jenak Bara berdiri termangu-mangu di depan pintu gerbang. Sungguh, ia masih belum percaya bahwa segala kemegahan ini adalah milik neneknya, ibu kandung ayahnya.

Ada darahnya mengalir dalam dirinya melalui Bapak, bukankah begitu? Namun, apalah artinya jika pemiliknya jelas sekali mengabaikan keberadaan dirinya.

Ia teringat temannya si Agus yang punya nenek yang begitu menyayanginya. Setiap hari Agus akan dibekalinya uang saku juga makanan. Demikian terus sejak Agus duduk di bangku SD sampai SMA. Ketika SMA kelas satu, Agus satu-satunya pelajar yang punya sepeda motor dan itu diakuinya pemberian neneknya.

Saat Agus hendak melanjutkan kuliah ke Padang, neneknya mengadakan pengajian dan mengundang orang sekampung. Begitu sayang, begitu bangga si nenek kepada cucunya itu. Padahal cucunya bukan hanya Agus, tetapi ada banyak cucu.

“Semua cucu dimanjakan Nenek, ya, semuanya saja,” kata Agus jika sedang membanggakan neneknya di hadapan teman-temannya.

“Nenek satu ini memang lain!” Bara menghela napas menerima nasibnya. Tanpa disadari, ia belajar untuk jangan pernah menggantungkan diri kepada orang lain. Sesuatu yang sebisa mungkin masih terus ia terapkan hingga kini.

Beberapa tahun setelah kepergian Bapak, sebelum ia memutuskan untuk merantau, Bara mendapatkan informasi tentang keberadaannya.

“Kunampak Bapak kau itu suka berkeliaran di terminal Padang,” demikian informasi penting itu dari seorang keluarga ibunya di kampung.

Berbekal informasi itulah, Bara mengarahkan langkahnya menuju terminal Padang. Benar saja!

Ketika Bara sedang duduk di bangku melepaskan lelah, tiba-tiba matanya menangkap satu sosok yang tak asing lagi. Meskipun sosok itu telah berubah banyak, sangat kurus, berbaju kumal dekil, wajah semu kehitaman dengan rambut kusut-masai.

Namun, demi Tuhan, Bara masih mengenalnya!

“Bapak!” serunya tercekik di kerongkongan.

Lelaki berpenampilan mengenaskan itu, sosok yang tak ubahnya bagaikan seorang pengemis itu, seketika merandek. Sepasang matanya diarahkan kepada Bara. Boleh jadi ia juga tengah menimbang-nimbang, apa harus menghampiri ataukah berlari?

Bara bangkit dan memutuskan untuk menghampirinya. Biar bagaimanapun sosok ini adalah ayah kandungnya. Lelaki yang telah membuatnya ada di muka bumi ini. Seketika luapan memori membanjiri dirinya.

Ia pernah mengalami masa-masa indah bersama Bapak yang mengasihinya. Dibuatkan mainan dari bambu, layang-layang, memancing ke sungai, mencari buah-buahan aneh ke hutan, dan mengajarinya naik sepeda.

Terutama saat Bapak mencarikan Mantri, malam-malam jalan kaki berkilo-kilo di tengah guyuran hujan. Bapak rela melakukannya demi kasih sayang terhadap dirinya.

Ia dan anak-anak yang sudah besar telah memahami penyebab Bapak pergi dari kampung. Meninggalkan keluarga tanpa kabar berita selama bertahun-tahun. Bahkan Mamak sekalipun tak pernah menyesali, apalagi membencinya.

“Bapak kalian itu orang baik. Kalian jangan pernah menyalahkannya,” pesan ibunya wanti-wanti.

“Bapak, apa kabarnya?” tanya Bara sambil meraih tangannya, menciumnya dengan takzim.

Ia berusaha keras menahan gejolak perasaannya. Hancur sudah hatinya menyaksikan penampilan orang yang dulu sangat menyayangi dirinya ini.

“Alhamdulillah, Bapak baik-baik saja, Nak,” sahut Bapak, suaranya terdengar kaku.

Kentara sekali wajahnya seperti memendam penyesalan yang mendalam, rasa malu tak teperi.

“Syukurlah, Bapak sehat-sehat saja, ya,” ujar Bara, berusaha terus menormalkan nada bicaranya.

Sesungguhnya ia masih belum percaya bahwa lelaki berbaju dekil kumal, seperti tak pernah dicuci berbulan-bulan itu adalah ayah kandungnya. Ya Allah, sungguhkah ini ayahku, gumamnya membatin berulang kali dengan nestapa sekali.

“Kamu sudah besar, Nak.…” Suara Bapak terdengar parau.

Sepasang mata lelaki paro baya itu memandangi wajahnya lurus-lurus. Wajah yang terlalu mirip satu sama lain, seperti yang dibilang banyak orang.

“Kita duduk di sana saja, ayo!” ajak Bapak sejurus kemudian.

Detik berikutnya mereka telah berada di satu sudut terminal. Ada sebuah lapak kecil, pemiliknya seorang perempuan pincang. Lapaknya menjual berbagai makanan kecil seperti kue-kue, roti dan minuman.

“Ceklo Ros!” panggil Bara segera mengenalinya kembali.

Perempuan pincang ini, biasa dipanggil Ceklo Ros, adik ibunya yang telah lama menjanda. Ternyata selama ini Ceklo Ros yang telah membantu Bapak. Memberinya makanan minuman, adakalanya mencucikan pakaiannya.

Namun, Bapak lebih suka tinggal mandiri. Seringkali pula tinggal di salah satu sudut terminal. Terkadang pula tinggal di mushola atau masjid di kawasan terminal.

“Jadi kau hendak ke Jakarta, ya Nak?” tanya ayahnya untuk kesekian kalinya.

“Iya, Bapak, mohon doa restunya,” sahut Bara, mulai merasa bahwa dirinya telah berdamai dengan situasi kisuh-misuh begini.

Sementara Ceklo Ros menyuguhi mereka sarapan. Perempuan tangguh berhati mulia itupun melayani para pembeli yang berdatangan ke lapaknya. Bara sendiri tengah menghitung-hitung dalam hati seberapa lama ia sanggup bertahan dengan tak adanya uang di saku.

Bagaikan bantuan dari langit, Bapak seketika bangkit sambil berkata, “Ada banyak rumah kontrakan nenekmu di sini. Ayo, kita tagih uang kontrakan mereka. Beri Bapak kesempatan untuk setidaknya mencarikan uang sakumu,” ajaknya terdengar bersemangat dan berpengharapan sekali.

@@@

(Visited 53 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: