Pipiet Senja

#3Jam3SetengahMilyar #GeriBusye

Tak berapa lama rombongan mereka mulai jalan dengan mobil Ranger milik Dito. Berawal dari pembahasan saling ledek antara Dito dan Bara, kecenderungan sesama jenis, perjalanan rombongan tiba-tiba diputuskan memasuki kawasan Taman Lawang. Sekedar lucu-lucuan untuk memperlihatkan kepada Bara dan Ara. Mereka dianggap masih polos dengan sisi-sisi hitam kehidupan Jakarta.

“Ara pindah ke belakang. Setomboy-tomboynya kamu, mereka bisa bedain mana cewek dan mana cowok,” perintah Dito.

“Kita coba jual saja Ara di sini, Bang. Siapa tahu bisa jadi primadona baru,” goda Bara yang berakhir dengan tonjokan maut Ara di perutnya.

Dude, Valen dan Bimbim tertawa melihat keakraban mereka.

“Nah, Bara. Sekarang kamu yang nyetir. Valen pindah ke depan di samping Bara,” perintah Dito pula.

“Hah? Kenapa Bang?” protes Bara bingung.

“Soalnya kalian yang paling ganteng di sini. Jadi biar para bencong pada ngerubutin nih mobil.” Dito tertawa sambil pindah ke sebelah Ara.

“Sial, kita dijadikan pancingan,” gerutu Valen walau mematuhi perintah Dito.

Bara pindah ke belakang setir. Tapi melalui kaca spion dan gaya duduk Dito yang merapat dengan Ara, dia tahu tujuan sebenarnya dari pengaturan ini. Entah kenapa, dada Bara terasa agak panas.

Begitu memasuki kawasan Taman Lawang, melihat muka-muka bening Bara dan Valen, para bencong berebutan mengerumuni mobil mereka.

“Aiiiih, unyu-unyu bangeeet!”

“Sini! Sini! Ayooo, sinilah Aa!”

Berbagai tawaran dari kerumunan waria berlintasan memeriahkan gelapnya kawasan. Beruntung kaca mobil Dito tidak tembus pandang. Ara dan yang lain tidak terlihat berada di belakang.

“Sebentar, itu kayaknya gua kenal deh!” Ara tiba-tiba menunjuk sosok paling seksi di antara para waria itu.

“Ih, iya! Itu kan Susi! Penata rias kita. Ngapain masih kerja seperti ini, ya?” Bara terbengong-bengong.

Bara membuka kaca mobil sedikit sambil melambai ke arah Susi. Susi yang tadinya tidak ikutan kerumunan, ge-er juga dipanggil sosok ganteng dari dalam mobil mewah. Gelapnya malam membuat ia tidak mengenali Bara. Dengan lenggak-lenggok gemulai, ia mendekati mobil mereka.

“Gaya kamu jalan barusan, Ra. Kayak gitu!” goda Valen yang dibalas keplakan Ara di punggungnya.

“Tapi tampang kamu jauh lebih cantik kok, Ra,” ujar Dito kalem penuh pesona yang tiba-tiba membuat Ara tersipu dan Bara manyun.

“Hallooo ganteeeng, jalan yuuu!” cerocos Susi sambil melongok ke dalam kaca mobil.

“Ngapain jauh-jauh ke sini, Su? Kalau mau ajak sih di studio saja kaleee!” Bara sambil membuka kaca lebar.

“Aiiih, kamu, kamuuu, semuanya saja, yaaa…. Bikin jantungan, tauuuk!” Susi menjerit histeris seraya menggerepeh-gerepeh centil.

Entah benar kaget, entah berlagak saja. Namun, yang jelas tingkahnya itu telah mengundang reaksi teman-temannya. Mereka mengira Susi telah dilecehkan cowok yang membawa mobil Ranger.

Sekonyong-konyong saja ada yang mengomando.

“Serbuuu!”

“Hajaaar!”

“Lawaaan!”

Hilanglah suara-suara centil kemayu digantikan nada-nada bariton penuh testosterone. Persis seperti rusuhnya tawuran antar preman. Beberapa bahkan ada yang sudah mengangkat rok berlari, mendekat sambil mengacungkan sepatu hak tinggi sebagai senjata.

“Otot betis! Itu sih otot betis tukang becak!” teriak Valen di tengah kagetnya rombongan melihat reaksi para penghuni Taman Lawang.

Bara antara panik dan ingin tertawa mendengar komentar Valen, sudah mulai menekan pedal gas. Namun kerumunan telanjur berada di depan mobil. Tidak mungkin juga Bara melindas mereka.

“Jalan, weeeei, jalaaan, Bara!”

“Ngebuuut!”

“Buruaaan!”

“Jiiiiiaaaah, malah dimatikan?”

“Masa ngadepin preman kita bisa, ngadepin waria malah kabur?” Bara tenang sambil melirik ke arah Ara.

Ara yang melihat reaksi Bara seperti teringat ketika mereka menghadapi rombongan preman. Ia dan Bara kemudian turun dari mobil.

“Su! Piye iki?” tanya Bara kepada Susi yang berasal dari Magelang.

Susi puni terlihat gugup melihat reaksi teman-temannya.

“Tenang, tenang…” Ceracau Susi lebih menenangkan dirinya ketimbang teman-temannya. Sementara para waria mulai merubungi Bara dan Ara.

“Rupanya mereka bawa bences dari luar!”

“Jangan-jangan dari Cipinang? Mau ngerusuh di sini!” Seru suara lain menyebutkan kawasan saingan mereka.

Bara dan Ara berpandangan kebingungan mendengar kata-kata mereka.

“Gelo! Siapa yang lo sebut bences, hah?” teriak Ara sambil merangsek ke arah mereka.

“Sabar, Ra. Sabar! Mau dipukulin rame-rame?” Bara geli juga ketika menyadari maksudnya.

“Semuanya tenang! Awas! Minggir!” Sebuah suara bariton berwibawa terdengar di tengah kerumunan.

Kerumunan membelah memberi jalan ke sumber suara. Dari tengah kerumunan, muncul sesosok waria tinggi seksi yang bersuara bariton. Cantik sekali. Terus terang Bara sampai terpana melihat kecantikan sosok yang baru datang ini.

“Eh, benar juga! Ganteng lho…” Tiba-tiba suara bariton ini kembali berubah menjadi nada tinggi yang anehnya, benar-benar mirip suara wanita.

Bahkan tanpa aksen genit atau berlebihan yang biasanya digunakan oleh para waria. Ini sudah seperti nada suara wanita anggun. Wanita yang memiliki dan tahu bahwa ia punya kuasa!

“Halo ganteng! Aku Lince, maminya anak-anak. Bisa kamu cerita ada apa ini semua?” selidik Lince berwibawa.

“Errr… Aku Bara, ini Ara.” Bara masih terpana dengan gaya dan kecantikan Lince yang jauh berbeda dengan waria lainnya.

“Banci saingan!” Seru sebuah suara dari arah kerumunan yang mengundang reaksi amukan  Ara lagi.

Bara susah payah menahan Ara, agar tidak menerjang ke arah kerumunan.

“Cewek. Kebetulan aja mirip banci!” Lince tenang walau ada nada merendahkan.

Ara terlihat bingung antara mesti ngamuk dibilang mirip banci, atau mesti lega setelah ada pengenalan bahwa dia cewek tulen. Serasa terintimidasi oleh kepercayaan diri dan aura berkuasanya Lince.

“Kamu bisa jadi primadona baru di sini bahkan jadi pasanganku. Pilih mana?” lanjut Lince lagi, kali ini sambil menunjuk ke arah Bara.

“Eh? Anu. Orientasiku masih normal.” Bara terbata.

“Oh ya? Jadi kami yang abnormal? Kami sekerumunan orang aneh?” Lince dengan nada dingin.

“Maksudnya, aku masih seperti cowok kebanyakan. Masih suka cewek.” Bara buru-buru meredakan amarah Lince yang hampir naik.

“Oh ya? Kalau kamu cowok normal, coba sebutkan kenapa bisa memeluk cewek seperti ini? Tapi kamu bisa merasa biasa-biasa saja?”

Bara baru tersadar selama ini memeluk Ara dari belakang. Berupaya menahan dia agar tidak menerjang kerumunan. Bara buru-buru melepas pelukannya. Ara pun buru-buru menjauh dari Bara. Mereka berdua terlihat malu.

“Aha! Menarik!” Lince seperti bisa melihat sesuatu di antara mereka berdua.

“Mom, mereka teman-teman aku. Tadi aku gak diapa-apain kok. Aku cuma kaget aja melihat mereka. Suer deh Mom! Jangan diapa-apain yaaaa!” Susi sepertinya baru selesai menenangkan diri, maju ke depan kerumunan.

Valen, Bimbim, Dude dan Dito terlihat di belakang Susi. Rupanya selama Bara dan Ara jadi sasaran perhatian kerumunan. Mereka sibuk menenangkan Susi agar bisa memberi penjelasan kepada teman-temannya.

Lince melihat ke arah rombongan Dito, Susi, Bara dan Ara. Ia seperti menilai kebenaran penjelasan Susi.

“Oke. Kalau memang tidak ada apa-apa. Kalian bebas pergi.” Lince akhirnya memberi keputusan.

“Ayo bubar! Bubar! Balik kerja sana!” Lince tiba-tiba mengeluarkan suara bariton komandonya sambil membubarkan kerumunan.

Kerumunan membubarkan diri, beberapa misuh-misuh karena kehilangan waktu untuk menjaring pelanggan.

Setelah kerumunan bubar, Lince berbalik ke arah Bara.

“Kalau kamu berubah pikiran,” ujarnya sambil mengerdipkan sebelah mata dan menyelipkan secarik kertas ke saku baju Bara.

“Kalau kamu pada akhirnya patah hati karena cewek ini, lalu memutuskan berpindah haluan, telepon aku aja, Bos!” lanjutnya sambil melirik Ara.

Ara hendak menjawab, namun entah kenapa, memutuskan untuk berhenti. Wajahnya hanya menunduk merah. Sesekali matanya melirik ke arah Bara.

Bara masih agak terpana melihat Lince. Kata-katanya, kecantikannya, sikapnya yang bisa tiba-tiba penuh komando. Makhluk langka!

Lince berjalan anggun menjauh. Beberapa langkah kemudian, ia berpaling dan mengedipkan mata ke arah Bara, meniupkan ciuman jarak jauh.

“Maafin Susi, teman-teman. Gara-gara aku, kalian jadi kena masalah begini,” ujar Susi ketika mereka sudah berada di dalam mobil kembali.

Bara yang masih di belakang kemudi, hanya mengangguk. Sikapnya masih seperti linglung.

“Nanti kita ngobrol ya, Su. Pengen tahu kenapa kamu masih perlu kerja di sini. Padahal honor penata rias lebih dari cukup,” kata Dito dari belakang.

“Iiih, iya. Nanti aku ceritain deh, Bang Dito. Serulah pokoknya.” Susi sambil melambai ke arah Dito.

Rombongan perlahan meneruskan perjalanan.

“Bencong dari kawasan saingan!” Celetuk Valen mulai  berani menggoda Ara yang disambut ketawa terbahak-bahak.

“Cewek tulen, tapi mirip banci!” Bimbim kembali menggoda Ara yang dibalas sikutan ke rusuknya dan tawa mereka semakin keras.

Berbagai celetukan godaan kembali keluar. Masing-masing seperti menemukan senjata untuk menggoda yang lain untuk reaksi mereka atas kejadian ini. Hanya satu yang berbeda. Entah kenapa, Bara dan Ara tidak saling mengejek sepanjang perjalanan pulang.

Bara tak pernah mengira, jika kelak di kemudian hari punya kesempatan menjadi pembimbing mereka, Lince dan kawan-kawan. Selain memberi pekerjaan, kesejahteraan dan kenyamanan, ia bersama tim relawan gerakan anti LGBT, mengarahkan dan menyembuhkan penyakit mereka.

(Visited 106 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.