Pipiet Senja

Andre di sudutnya, masih sibuk dengan laptopnya.

Garsini geleng-geleng kepala menyadari akan sikap keras kepala sepupunya. Entah ada apa dengan laptop itu, gumamnya membatin dalam ketakmengertian. Beberapa kali mereka sempat mendiskusikan perihal keberadaan benda yang telah menguras waktu dan pikirannya itu.

Kadang Andre pasrah, ingin meninggalkannya begitu saja di Hiroshima, bahkan membuangnya ke tong sampah. Namun, kali berikutnya ia bersikeras memperbaikinya, memperjuangkannya sedemikian rupa agar benda itu bisa dimanfaatkan kembali. Kalau bisa akan dibawanya kembali ke Holland.

Iiih, aneh-aneh saja sepupuku ini, pikir Garsini.

“Belum menyerah juga, ya Broer?” Garsini bangkit dan menghampirinya.

“Ini benda elektronik pertama yang sanggup kubeli dengan jerih payahku sendiri,” sahut Andre terdengar penuh nostalgia. “Kamu tahu, sejak duduk di kelas dua aku sudah berjuang cari nafkah sendiri. Uangnya sebagian kuserahkan kepada Mami, sebagian lagi kutabung untuk memenuhi keperluanku sendiri…”

“Baik, jadi kapan sesungguhnya kamu beli laptop kesayanganmu itu?”

“Hmm, sekitar lima enam tahun yang lalu,” sesaat Andre menghentikan kesibukannya, menerawang ke langit-langit kamar. ”Kukira saat aku kelas tujuh, Itu setara dengan kelas  tiga SMP kalian, Non. Ha, kenapa kamu mesem-mesem begitu? Mengejekku, ya?”

Garsini  tak menyahut, cepat-cepat berlagak sibuk dengan Al-Quran mungilnya. Dalam hati ia sempat bertanya-tanya, adakah Andre menyadari bahwa benda itu sesungguhnya telah usang, rongsokan? Dan itu justru ingin dia hadiahkan kepada sepupu kesayangan? Untuk Kagume sekalipun, Garsini akan menyesalinya.

Memberikan sesuatu kepada orang haruslah yang terbaik yang kita miliki. Ah, tapi mana paham Andre? Ia tak memercayai agama perihal itu?

Melihat Garsini tak bereaksi, bahkan asyik membaca kita sucinya, Andre agaknya tergerak pula. Tiba-tiba ia sungguh menghentikan kegiatannya.

“Baiklah, aku akan membuang benda rongsokan ini, Garsini!” sentaknya mengagetkan gadis yang begitu teguh mengenakan kerudungnya itu.

Garsini meliriknya sekilas dengan gerakan acuh tak acuh dan seulas senyum bijak di sudut bibirnya. Kepalanya mengangguk perlahan,  kemudian ia kembali dengan mushaf pemberian Om Adi.

Andre memandanginya dengan gemas. “Mungkin kamu berpikir, alangkah pelitnya aku, mirip Yahudi saja, ya begitu kan?” cetusnya.

“Bukan aku yang bilang demikian.”

“Dengar, aku tak sepelit yang kamu duga! Ini hanya soal benda kesayanganku yang pernah susah payah kubeli dari jerih payahku sendiri….”

“Sudah kudengar ratusan kali tuh!” usil bibir Garsini meningkahi. ”Jadi, ini soal benda yang menyimpan banyak kenangan untukmu, ya?”

“Dengar, Garsini,” suara Andre seketika terkesan mengeras dan dingin. ”Kamu takkan pernah memahami bagaimana perjuanganku di masa kanak-kanak. Kamu tahu, hingga saat ini, statusku, penampilanku yang nyeleneh di mata orang-orang Belanda? Aku ini korban diskriminasi, dipinggirkan. Bahkan oleh ayah kandungku sendiri, dengar itu Garsini, kamu dengar?!”

Garsini meletakkan mushafnya dengan sangat menyesal dan kecewa. Ia tak ingin mendengar keluh-kesahnya lagi. Karena otaknya sudah pepat oleh segala keluh-kesah sepanjang kebersamaan mereka. Seberapapun dia menghiburnya, rasanya Andre tetap takkan pernah puas untuk selalu mengeluh.

Masa kanak-kanak yang pedih!

Mengapa itu saja yang selalu dijadikan tamengnya? Seakan-akan hanya dirinya yang paling menderita di jagat raya ini. Betapa ingin Garsini meneriaki kuping sepupunya itu. Tentang penderitaan orang lain, derita anak-anak para pengungsi Aceh, Ambon, Sampit, Palestina. Anak-anak para TKW yang tak pernah mengetahui siapa ayahnya. Bahkan tentang derita dirinya, sempat tak diakui ayah dan diragukan eksitensinya.

“Kamu egois, Broer, kamu selalu merasa hanya dirimu yang pernah punya masa kelam saat kanak-kanak. Sadarlah, Broer, eliiing!” Garsini merasa sesak dadanya. “Cobalah meningkatkan empatimu terhadap orang-orang di sekitarmu, jangan hanya menengadah ke langit-langit. Tenggoklah juga ke bawah, aduuuh, bagaimana kujelaskan semuanya ini kepadamu?”

Beberapa detik keduanya berhadapan secara frontal, saling menatap. Ada amarah dan geram di mata Andre. Ada kecewa mendalam di mata Garsini.

“Intinya, bukan hanya kamu yang pernah menderita, memiliki traumatis jiwa yang hebat, Andre. Ada banyak derita anak-anak di dunia ini, ribuan, jutaan, tak terhingga…”

Garsini bangkit karena merasa tak tahan lagi. Dadanya kian sesak dan kepalanya mulai berdenyar-denyar. Ia tak memedulikan sorot amarah yang masih tersisa di mata sepupunya. Ia pun mengabaikan akan kemungkinan percakapan mereka bisa saja membangunkan Kagume.

“Astaghfirullah adziim, ampunilah hamba-Mu yang naif ini, Allah,” gumamnya sambil terhuyung-huyung menggapai kamar mandi.

Lama ia hanya diam seribu bahasa di dalam kamar mandi itu. Mengherani kelakuan sepupunya yang ternyata amat kompleks dan sulit ditebak. Kadang tampak riang, mandiri dan mudah ketawa-ketiwi. Namun, adakalanya muram, banyak ketakpuasan, keluh-kesah dan menyimpan kepedihan masa silam.

Ia tersentak kembali begitu mengingat tujuan keberadaan Kagume di kamar mereka. Ketika dengan tergopoh-gopoh Garsini keluar, didapatinya Kagume tetap tertidur lelap. Sementara sepupunya entah pergi ke mana. Mungkin mencari hawa segar di luar.

Baru disadari Garsini, hal itu mulai menjadi kebiasaan Andre, terutama bila dirinya gelisah dan sulit tidur. Itulah malam terakhir kebersamaan mereka di sebuah kamar hotel terbaik di Hiroshima.

Esok paginya ketika cuaca mendadak cerah, Andre berhasil mendapatkan transportasi ekslusif bersama rombongan turis Belanda. Mereka pun terbang dengan pesawat carteran kembali ke Tokyo.

(Visited 4 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: