Pipiet Senja

#JejakCintaSevilla

“Hari ini juga kita kembali ke Tokyo!” cetus Garsini keesokan harinya menegaskan tanpa bisa ditawar-tawar lagi.

Sepanjang malam ia merasa sangat tersiksa dengan situasi yang mereka hadapi, dan sama sekali tak pernah dibayangkannya. Andre tidur di atas tatami, bergelung kedinginan, bisa dipastikan sulit tidur juga.

Beberapa kali Garsini memergoki Andre terbangun, kemudian bangkit untuk minum teh, gelisah jalan mondar-mandir. Mujur, dia bukan seorang perokok. Melihatnya gelisah begitu, Garsini jadi lebih gelisah lagi.

“Angin badai begitu dahsyat di luar. Kita tak bisa ke mana-mana, saudaraku,” sahut Andre lembut.

“Bagus!” desis Garsini sesaat wajahnya tampak serius.

“Ada apa denganmu?” Andre bertanya cemas.

Garsini menggeleng, tapi ia sudah memutuskan sikap.

“Kalau begitu, pesankan kamar satu untukku. Jangan khawatir, kamar itu nanti akan kubayar sendiri.”

Andre terperangah. “Kamu ini mulai aneh-aneh saja,” sungutnya.

Garsini mengangkat bahu dengan tampang disetel serius sekali. Terpaksa Andre keluar untuk menuruti permintaannya, mendatangi pemilik hotel. Beberapa saat kemudian Andre kembali dengan tangan hampa. Ternyata hotel telah dipadati tamu yang terjebak angin badai di kawasan itu. Garsini agaknya telah siap mengantisipasi kemungkinan macam ini.

“Siapa dia?” Andre terheran-heran menatap seorang gadis asing di kamar mereka. Usianya sekitar dua-tiga tahun lebih muda dari Garsini.

“Ini Kagume, putri pemilik kedai kedai seberang itu,” jelas Garsini.

Kagume membungkuk takzim ke arah Andre, ekor matanya mengerling kagum. Garsini harus mengakui, penampilan sepupunya itu memang selalu memikat. Charming, gentle dan berwibawa. Dia sama sekali tak mirip selebriti yang arogan, siapa namanya itu yang suka dikejar-kejar para fansnya?

“Maksudku, apa urusannya dia di sini?” Andre menggiring Garsini agak menjauh Kagume yang berlagak sibuk menyediakan teh untuk mereka.

“Sejak saat ini sampai kita bisa melanjutkan perjalanan, Kagume akan menemaniku. Ibunya tadi mampir, menanyakan keadaanku. Kami ngobrol sebentar dan ia mengeluh perihal putrinya semata wayang. Agaknya dia lagi pusing dengan tingkah Kagume. Menurutnya anak itu suka mengundang perhatian turis asing di kedainya.”

“Jadi kau meminta ibunya untuk membawa putrinya ke sini?”

“Bukan begitu, ibu Kagume hanya meminta kesediaanku untuk menemani putrinya beberapa hari. Tak ada gadis sebayanya lagi di sekitar sini.”

“Apa urusan kita dengan semuanya itu?” seru Andre tak sabar.

“Ini hanya kebetulan yang amat baik buat banyak pihak. Buat kita juga buat ibu dan anak yang sudah tak punya ayah itu.”

“Aduh, kenapa kamu jadi sok pahlawan begitu, Garsini?”

“Bukankah itu lebih baik buat kita berdua? Supaya tak ada prasangka orang lagi?” Garsini bersikeras. Andre tercenung.

“Oke, aku tak mau berdebat lagi, huh! Terserahlah Kalau itu bagus menurutmu, ya Garsini?” suara Andre melunak.

“Setidaknya kita sudah berusaha untuk menunjukkan kepada mereka. Bahwa kita bukan pasangan roman, bisa ditanyakan kepada seorang saksi mata,” cerocos Garsini antusias.

Andre manggut-manggut dan memahami tujuannya.

”Aku setuju saja. Jangan pikirkan lagi untuk bayar macam-macam perihal tamasya ini. Oke?” suara Andre kini terdengar tulus dan sarat pengertian. Tak ada tanda-tanda lagi kesal, gelisah apalagi kecewa di wajahnya yang macho.

“Haik!”

Keduanya sesaat tertawa riang. Kagume tersipu malu-malu sambil mencuri pandang ke arah mereka.

“Baiklah, kembali ke pekerjaan masing-masing,” ajak Garsini yang segera diiyakan oleh Andre.

Ini kegiatan kecilnya bersama Kagume. Beruntunglah, Kagume bisa bahasa Inggris. Jadi komunikasi mereka berjalan lancar. Garsini menjelaskan tentang beberapa hal yang dipertanyakan remaja putri itu. Sementara Andre diam-diam kembali ke sudutnya, mengotak-atik laptop-nya yang mendadak bermasalah.

Dalam beberapa menit saja, Garsini sudah bisa menebak kegelisahan Kagume. Kagume sedang mengalami masa-masa transisi, sebuah peralihan dari seorang kanak-kanak ke masa remaja. Ia ingin mempertanyakan beberapa hal yang tak dipahaminya, seperti menstruasi, perubahan bentuk tubuh dan kegelisahan yang melanda hatinya secara tiba-tiba.

Garsini jadi terkenang lagi saat-saat dirinya pada posisi serupa. Mama, meskipun dilanda banyak kemelut rumah tangga, selalu berusaha memuaskan kepenasaran putri sulungnya. Garsini tak pernah sungkan untuk menumpahkan kegelisahannya, curah hatinya kepada wanita itu.

“Terima kasih, aku lega sekarang. Artinya aku normal kan? Tidak gila, ya Kak?” suara renyah kekanakan Kagume sampai juga ke telinga Andre yang belum berhasil memperbaiki laptopnya.

“Apa yang kalian bicarakan?” teriak Andre dari sudut favoritnya.

“Tidak, ini urusan perempuan. Ya kan begitu, Kagume-San?”

“Memang ini urusan perempuan!” sambut Kagume sambil tertawa kecil.

Andre baru saja memutuskan laptopnya hendak diberikan kepada sepupunya. Malah mendadak macet. Tahu begini, buat apa jauh-jauh dibawa dari rumah keluarganya di Blaricum, Holland. Mending beli saja di Jepang tak  perlu pusing-pusing.

“Ya, sudah, tinggalkan saja benda rongsok itu,” saran Garsini tersenyum.

“Buat Kagume saja, ya Broer Andre?” pinta Kagyme mulai terbiasa dengan keduanya. Bahkan bisa bersikap terbuka dan manja.

“Uh, nei, nei, enak saja!” gerutu Andre. ”Ini jauh-jauh kubawa buat Garsini, sepupuku tersayang. Aha! Apa sebaiknya kubelikan saja untukmu nanti di Tokyo, ya?”

“Jangan repot-repot begitu, Broer, terima kasih,” sanggah Garsini.

“Ya, sebaiknya ini buat Kagume sajalah,” Andre malah seperti tertantang.

Garsini mengangkat bahu, percuma bersitegang dengan sepupunya perihal kebendaan. Andre dinilai begitu boros. Meskipun itu haknya karena memang telah menyiapkan liburan sedemikian rupa sejak lama.

Andre bercerita perjuangannya sebagai loper koran. Menyusuri salju dengan kereta luncur, melempar-lempar koran ke rumah para langganannya, di tengah udara dingin yang menggigit tulang sumsum. Perjuangan keras yang hanya sanggup dilakukan oleh seorang anak berpribadi mandiri. Bukan anak korban traumatis jiwa.

Andre tentu saja telah berhasil melewati kritis kejiwaannya itu dengan baik sekali. ”Dan itu tanpa agama, hanya karena aku berhasil menutup memori itu, luka itu dalam-dalam, katanya dalam nada bangga. Apa itu agama, nonsens!”

Kalau sudah sampai ke arah pembicaraan spritual, Andre selalu berhasil menepis segala upaya Garsini dalam mempengaruhi pikirannya. Mereka akan terlibat dalam perdebatan seru, berlarut-larut dan sangat melelahkan.

Ini hampir dua minggu kebersamaan mereka, tapi rasanya tak ada pengaruh apapun, pikir Garsini. Ia nyaris membiarkan takdir-Nya bicara langsung atas diri sepupunya. Tak perlu ada ikut campur siapapun termasuk dirinya. Bila Allah menghendaki: kun fa ya kun!

Jihad itu, syiar dakwah itu ternyata sangat sulit.

“Hei, cuaca di luar mulai cerah,” cetus Kagume. “Bagaimana Kalau kita pergi jalan-jalan? Kalian belum sempat tamasya ke Miyajima, bukan?”

Andre menoleh kepada remaja itu dengan penuh minat. ”Miyajima, apa itu, Kagume-San?”

Garsini jengah dan membuang pandangannya keluar jendela. Sesaat ia berpikir keras, bagaimana caranya yang bijak agar ia bisa berdiri pada posisi penengah. Gerak-gerik Kagume, keluguan dan kemurnian remajanya kadang terasa berlebihan.

“Kita pergi saja ke sana, nanti baru bisa terasa indah tamasyanya. Setuju?” ajak Kagume sudah terdengar seperti memaksa.

Sia-sia Garsini berusaha menghindar, apalagi karena sepupunya telah bersemangat sekali menyambutnya.

“Baiklah, ayo, kita pergi berdua saja kalau Garsini tak  mau!” Andre meninggalkan laptopnya, menyambar jaket kesayangannya dari  kapstok.

“Tentu saja aku akan ikut!” tukas Garsini cepat.

Awan berarak-arak menghiasi langit Sakura. Tampak putih dan seolah menantang untuk dilukis oleh tangan-tangan terampil yang memiliki citarasa tinggi dan luhur.

Di mata Garsini, gerombolan awan itu selalu mirip arakan kapas nan lembut menjanjikan selaksa keindahan dan kenyamanan. Simbul sejuta harapan selaksa impian, masa depan cemerlang yang menanti dan melambai-lambai kepadanya untuk segera dijemput. Sebab di balik arakan kapas itu ada ribuan bintang gemintang, menantinya pula untuk dipetik oleh jari-jarinya yang lentik.

Tentu saja dia akan terbang melayang, menggapai awan hingga lapisan langit ke tujuh sana. Kemudian ia akan menjemputnya, meraihnya dan mendekapnya erat-erat ke dadanya. Sebab ia tak ingin menjadi orang kalah, pecundang atau pengecut yang tak sanggup mengambil keputusan.

Ia akan melukis  lapis demi lapis langit nun di sana, dengan macam ragam lukisan nan indah dan bermakna. Sehingga ia berhasil menembus selaksa tantangan itu, dan dihadiahi bintang-gemintang yang akan disematkan ke dadanya.

Manakala kembali ke Indonesia, dia akan menghaturkan bintang paling cemerlang dan indah berikut salaksa lukisan nan bermakna itu; kepada Mama, Papa, adik-adik dan keluarga besar mereka. Baik yang ada di Bandung maupun di Tapanuli dan Jakarta, negerinya Indonesia, bangsanya dan agamanya!

Garsini menikmati khayal terindah itu hingga matanya terasa membasah. Apakah ia akan sanggup mewujudkan selaksa mimpi dan angannya kelak? Hanya waktu yang mampu menjawabnya dan kemurahan Allah, yang kepada-Nya selalu dirinya menghadap setiap kali merasa disergap rindu dendam.

Ya, jeritnya merambah langit. Monster mengerikan itu sesungguhnya bernama rindu. Garsini terbetot kembali dari alam khayalnya, angannya dan bayang-bayang masa depannya. Bila boleh memilih, sesungguhnya ia lebih suka kembali ke pangkuan orang-orang yang dikasihinya, bahkan walau tanpa sebutir bintang sekalipun!

“Hai, apa kabar, saudariku yang energik? Kenapa mendadak pendiam?” tegur Andre di antara keriangannya menikmati nuansa indah di sekitar mereka.

Garsini tak berkata-kata. Ia tepekur menikmati pemandangan yang memang sungguh permai. Inilah Nihon sankei, Miyajima pulau kuil di Inland Sea tamasya terindah dan terdekat dari Hisroshima.

Kagume penuh semangat dan suaranya renyah memikat, berusaha memuaskan kedua turis yang dipandunya dengan uraian penjelasan yang lugas.

“Di Jepang selain Fujiyama yang tiada bandingannya,” ujar Kagume berulang kali mengagungkan keindahan alam gunung yang memang sangat terkenal itu. “Sesungguhnya ada tiga tamasya Jepang yang masyhur antara lain Miyajima, inilah yang sedang kita kunjungi dan nikmati pemandangannya.”

“Dia lagi apa?” tanya Andre dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

Seketika Garsini merasa tergerak harus membentangkan tirai itu di antara sepupunya dengan Kagume. Apalagi mengingat ibu Kagume telah amat memercayainya. Sehingga meminta Garsini agar mengajari putrinya semata wayang, beberapa hal yang dirasakannya tak sanggup dia berikan sendiri. 

Siapalah dirinya ini? Sehingga ia mendapat kehormatan dan kepercayaan yang begitu tinggi dari seorang ibu lugu, janda malang yang sudah lama ditinggal kawin lagi oleh suami. Namun, demikianlah adanya, penghargaan tak ternilai itu begitu saja disandangkan ibu Kagume ke bahu-bahu Garsini.

Hanya karena perempuan sebaya Mama itu telanjur jatuh hati, terpikat oleh kemurniannya dalam bertutur kata, bersikap dan berperilaku. Itulah karunia Ilahi untuk Garsini, mengingat kebersamaannya dengan ibu Kagume baru tiga hari saja.

“Boleh aku yang menjawabnya, Kagume-San?” ujarnya lembut.

Garsini berusaha dengan bijak tanpa menyinggung hati Kagume, menawarkan jasanya. Ia cemas akan kedekatan mereka. Terutama perilaku manja Kagume terhadap sepupunya, sungguh membuat hatinya kebat-kebit. Ia bisa memahami kepapaan gadis belia itu akan syariat. Kagume bukan seorang Muslimah. Apa artinya muhrim dan non muhrim buat gadis belia itu, bukan?

Biar bagaimana pun, aku harus mencobanya, pikirnya.

“Memangnya Kakak tahu apa soal Jepang?” tantang Kagume tertawa kecil. Garsini menyelipkan tubuhnya di antara kedua makhluk itu.

“Biar pun baru kubaca referensinya dari buku, aku merasa bisa menjelaskannya,” sahutnya.

“Wah,wah, tak mau kalah jadi pemadu wisata nih?” sindir Andre.

Garsini tak memedulikan sindirannya. ”Ama-no-hashide!”

Kagume berseru takjub tanpa merasa tersisihkan. “Wow! Kakak sungguh fasih menyebutnya!”

”Apa itu artinya, hei?” Andre penasaran.

Garsini tersenyum hangat. ”Artinya Jembatan Nirwana, ya kan Kagume?”

“Ya, tepat sekali!” Kagume kian mengagumi pengetahuannya.

“Itu adalah tanjung pasir yang ditumbuhi cemara di pantai Laut Jepang sebelah utara Kyoto,” kata Garsini lagi. “Kemudian Matsushima, yaitu sekelompok pulau indah yang diliputi pohon cemara di sebuah teluk dekat kota Sendai di bagian utara Jepang. Uh, tolong bantu aku melanjutkannya, Kagume-San!”

Dengan senang hati remaja itu menyambutnya. “Baiklah,” katanya kini hampir tak memedulikan keberadaan Andre. Ia lebih memusatkan pikiran untuk mengutarakan betapa indah dan agung negerinya tercinta.

“Kebanyakan tempat di Jepang memiliki tiga atau delapan tamasyanya sendiri, terdapat ribuan tempat indah yang selain peristirahatan dengan sumber air panas. Demikian pula tak terbilang tempat-tempat indah yang kurang terkenal, itu tetap memikat para turis manca negara…”

“Berbeda dengan kehebatan Barat gaya Amerika,” sambung Garsini manakala Kagume terdiam, seperti mulai kehabisan kata-kata. “Ukuran keindahan alam Jepang sebagian besar mungil dan mesra. Orang Jepang berusaha keras untuk mengabadikan dan melindungi alamnya…”

“Hanya sayang sekali,” tukas Kagume prihatin.”Sudah sejak generasi kakekku, dari hari ke hari semakin banyak pencemaran dilakukan orang-orang yang tak bertanggung jawab. Bukit-bukit hijau nan indah dibabat habis untuk membangun pabrik- pabrik, pemukiman penduduk. Menimbuni daratan yang diambil dari laut, demi jalan-jalan lintas udara dan subway, demi menampung turis-turis kota…”

“Ironis sekali, bukan?” keluh Kagume terdengar mengerang sakit.

“Ya, ironis sekali,” keluh Andre bareng Garsini, ikut mengerang pilu.

Untuk beberapa jenak ketiga anak muda itu terdiam dalam alam cemasnya masing-masing. Bayu dari arah kumpulan kuil semilir hampa menerpa wajah ketiganya. Sampai Garsini kembali memberi harapan dan pencerahan.

“Namun yakinilah, Allah telah membuktikan hal itu atas kehancuran-kehancuran yang terjadi di masa lampau. Untuk Jepang khususnya, seberapa parah pun orang berusaha merusak alamnya, Kalian akan tetap memiliki keunikan tersendiri. Pesona indah nan agung…”

“Begitukah?” Kagume terdengar agak meragukannya.

“Berkat guncangan gempa dan bencana alam maha dahsyat yang acapSekali melanda negerimu. Semuanya itu ada hikmahnya. Buktinya, kalian terkenal sebagai bangsa kuat, paling ulet, tahan bantingan di mana pun kalian berada.”

Garsini seketika berhenti dan merasa lelah bicara seorang diri. Padahal, ia baru saja menemukan jawaban atas sejuta tanya ikhwal bencana taifun yang pernah didiskusikannya bersama Andre semalam.

“Banzai!” Andre tiba-tiba usil menjatuhkan bom simpanannya. Suaranya yang lantang seolah menggema ke pelosok Inland Sea.

Karuan saja Kagume dan Garsini tersentak kaget sekali. Keduanya sesaat berpandangan lalu perlahan sama tersenyum maklum. Garsini sekonyong menggaet tangan sepupunya di sebelah kanan dan meraih tangan Kagume di sebelah lainnya.

Kemudian seketika itu pula, ia mengangkat tangannya ke udara sambil berseru lantang ; “Banzaaaai!”

“Banzaaaai!” Sahut Kagume dan Andre kompak.

Diam-diam jauh di lubuk hatinya, Garsini membarengi pula dengan selarik takbir. “Allahu Akbaaar!”

Ia tak pernah mengira bahwa kebersamaan itu telah mengikatkan tali ukhuwah. Suatu persahabatan yang terikat oleh simpul kasih Islamiyah nan indah dan agung. Bahwa sebagian dampak dari persahabatan itu kemudian membuahkan banyak hikmah dan berkah.

Sesuatu yang tak pernah terlintas di benak Garsini. Terutama terhadap Kagume, remaja imut-imut yang saat pertama ditemuinya sedang dalam pencarian jati diri. Segala gerak-gerik, perilaku dan perkataan Garsini ketika itu, ternyata telah amat membekas terhadap perkembangan jiwa Kagume di kemudian hari.

Di luar rasa kagum dan hormat, sebab ada satu hal lain yang lebih utama, lebih mulia pula maknanya. Hidayah itu agaknya mulai bersemayam di hati Kagume. Memang baru persemaian, hanya sekadar pemicu, tapi kelak itu akan menjadi togak pertamanya yang tangguh bagi kelahiran jiwa Islam seorang insan, Kagume Itsuwa.

Petang itu mereka kembali ke hotel dengan penuh keriangan.

“Apa yang kakak lakukan itu?” tanya Kagume tatkala melihat Garsini usai mendirikan sahalat isya.

”Aku melakukan shalat….”

”Sha…. apa itu?”

“Shalat itu sembahyangnya pemeluk Islam, Kagume…”

Kemudian Garsini menjelaskan beberapa hal perihal Islam, sebagaimana yang dituntut oleh gadis belia itu. Rukun Islam, rukun Iman, dan perihal tata cara ibadahnya bahkan pandangan keyakinan yang dipeluknya itu tentang pacaran.

Kagume tampak sekali terkesan dengan berbagai uraiannya. “Agama yang sungguh baru bagiku,” komentarnya lugas. “Sebab di lingkungan kami hampir tak ada pemeluk Islam. Kota ini begitu terpencil, jauh ke mana-mana, maklumlah…”

“Aku mengerti,“ kata Garsini. “Tapi di Tokyo pemeluk Islamnya cukup banyak. Menurut data statistik dari saat ke saat perkembangannya semakin meningkat pesat.”

“Pasti bukan untuk anak muda sepertimu, ya kan?”

Garsini menggeleng. “Islam di Jepang justru kebanyakan memikat hati generasi kita…”

“Begitu, ya?” Kagume terkesan takjub.

Sekilas Garsini cerita juga tentang persahabatannya dengan Ayesha, gadis Palestina yang telah berulang Sekali mengajaknya bergabung dengan komunitasnya itu.

“Aku memang pernah mendengarnya dari koran dan televisi, tentang Islam. Tapi kenapa mereka suka menghubungkannya dengan teroris?”

Garsini dengan sabar dan bijak terus berusaha menjelaskan perihal kesalahkaprahan itu. Ketakutan Barat terhadap kebangkitan Islam di berbagai belahan dunia. Tentang perjuangan, jihad para mujahid di berbagai belahan dunia. Mereka yang dipojokkan, dilecehkan dan dirampas segala hak serta kepemilikannya dizalimi.

“Tentang perjuangan bangsa Palestina yang selalu diteror zionis Israel itu, begini ya Kagume….”

Selang kemudian Garsini melihat Kagume cukup puas. Mata remaja itu tampak sayu dan kepalanya terkantuk-kantuk, bersandar ke dinding di belakangnya. Ia sendiri merasa letih setelah sepanjang siang hingga sore tamasya ke Nihon Sankei, Miyajima.

Disodorkannya bantal khas Jepang itu kepada Kagume, “Ini untukmu saja, ayo, sekarang tidurlah,” bisiknya.

Remaja ini mengingatkannya kepada adik laki-lakinya. Meskipun adaZidananya sikap dan pembawaan Kagume lebih dewasa daripada usia sebenarnya. Mereka paling bertaut dua-tiga tahun saja, seperti usia dirinya dengan Kagume.

”Hm, Ucok, adikku,” gumamnya membatin. ”Apakah dia akan banyak tanya perihal jatidirinya saat ini? Kepada siapa kamu melabuhkan curah hatimu, Dik?”

Seketika terbit rindunya yang mendalam kepada si Ucok, si Butet juga Mama dan Papa.

”Kalian, keluargaku nun di sana, rindukah juga kepadaku?” kesahnya.

Garsini cepat mengenyahkan rasa pilu yang hendak menyergap hatinya, dipandanginya wajah Kagume. Ah, tentu saja dia takkan mendengar apa pun lagi. Sebab remaja itu memang telah tertidur tanpa disadarinya.

Garsini menghela napas dalam-dalam. Diperbaikinya dengan lembut dan apik selimut yang menutupi tubuh sohib kecilnya itu.

(Visited 9 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

2 thoughts on “Persahabatan Indah Berujung Hidayah”
  1. Membaca tulisan ini terbawa arus cerita, itung-itung wisata ke Jepang lewat coretan Manini.

    1. Hasil survey dengan murid-muridku anak FLPers Jepang.
      Proses novel trilogi setebal 400 halaman ini sekitar 13 tahun.

      Jujur, Manini sendiri belum pernah ke Jepang hehehe…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: