Pipiet Senja

Pukul empat subuh, tibalah mereka di kawasan Banda Aceh. Ray melajukan kendaraan perlahan, melintasi jalanan lengang dan senyap. Suara orang mengaji sayup-sayup melalui speaker dari Masjid.

“Agam mau ke Masjid itu!” cetus si kecil tiba-tiba, terlonjak dari bangku.

Badannya seketika duduk tegak, telunjuknya menunjuk-nunjuk ke arah sebuah Masjid di pinggir jalan. Suaranya cukup lantang, mengagetkan semua orang yang berada di dalam kendaraan. Terutama Ray yang mulai terpengaruh si Raja Kantuk, mendadak menghentikan kendaraannya, menginjak rem kuat-kuat.

Jeduuuuk!

“Ampuuunlah, Ray! Apa yang kau lakukan?” teriak King, kepalanya membentur jok dengan keras.

Begitu pula Lulu, Nay dan Lee yang sedang tertidur. Semuanya tersentak bangun, turut terkejut mendengar teriakan si kecil dan King. Sedangkan si kecil yang baru menyebut namanya Agam itu, tampak tenang saja membuka jendela di sampingnya.

“Maaf, maaf….” Ray memeriksa korban rem dadakannya, wajahnya menyesal.

“Masuk Masjid, ya, Bang, ya, ayooo!” Agam memohon.

“Kamu sudah sehat, ya Dek?” tanya King, menoleh ke jok belakang sambil mengusap-usap jidatnya.

“Sehaaat! Kuaaat! Tapi Agam mau sholat subuh di situ,” rengeknya, kembali ia menunjuk-nunjuk ke arah Masjid.

“Bagaimana, Bos?” Ray menatap King.

“Tunggu apalagi, ayo, masuklah!” sahut King, menggedik bahu Ray dengan keras.

“Aduh!” seru Ray kesakitan.

“Lunas, ya!” King tertawa lebar.

Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di teras sebuah Masjid. Sepertinya ini di kawasan pesantren. Agam yang lincah menuju tempat wudhu membuat mata mereka terbelalak. Lee sampai mengejarnya, ingin memastikan anak itu baik-baik saja.

Ray, Nay dan Lulu mengikuti jejak Agam, mengambil air wudhu. Kemudian mereka masuk ke dalam, bersiap untuk sholat subuh berjamaah. Tinggal Lee dan King duduk berdua di selasar Masjid.

Mereka terdiam membisu, tatkala terdengar gema adzan memanggil ummat. Mereka begitu terpesona dengan suara merdu sang muadzin. Ayat demi ayat yang dikumandangkan itu telah menghipnotis keduanya.

Menyeret mereka ke dimensi lain, lembah, ngarai, samudera, semesta tak terhingga yang membuat keduanya seketika terlena. King dan Lee terbuai dalam alam bawah sadar, kenangan masa kecil, kenangan lama, luka dan lara yang pernah mereka alami.

Lee bersama kedua orang tua, lima bersaudara bermukim di Beijing. Kehidupan berbahagia, kedua orang tua sama-sama ilmuwan di bidang biologi. Seketika terjadi peralihan kekuasaan. Orang tuanya ditangkap, entah dibawa ke mana oleh aparat penguasa baru.

Dari lima bersaudara hanya Wang dan Lee yang berhasil diselamatkan oleh pamannya. Mereka dibawa ke Eropa, tidak lama kemudian Lee harus berpisah dengan abang sulungnya. Wang dibawa sahabat ayahnya ke Hogkong. Sedangkan Lee bersama pamannya pergi ke sebuah Institut yang didirikan oleh sahabat ibunya.

Di sinilah, Institut Profesor Heinz Lee dipertemukan dengan King dan Nayla. Ia merasakan kebahagiaan masa muda bersama teman-teman seangkatan. Meskipun tidak lama, tetapi bagi Lee itulah masa terindah yang takkan terlupakan dalam lembar kehidupannya.

Sepasang mata indah, kejeniusan dan spesialisasi yang hanya dimiliki sosok itu, sungguh membuat hatinya tertawan. Nayla Akbar, dialah cinta sejatinya hingga kini. Lee yang introvert dan kadang paranoid, ternyata bisa tersenyum, tertawa bahagia dan bercanda riang begitu berdekatan dengan gadis ini.

“Aku harus berani mengakui perasaanku ini kepadanya, sekarang juga,” tekad Lee, kemudian bangkit, menjauhi King.

Beberapa saat lamanya tampaklah Lee berdiri di samping jendela kaca. Matanya nyaris tak berkedip memandang ke dalam Mushola.

Sedangkan King masih terduduk memeluk kedua lutut. Ia menangis tersedu-sedu, seakan ada yang telah mencuri sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. King seperti sedang memunguti remahan-remahan  masa silamnya yang hilang.

Ada sebuah rumah singgah di kawasan kumuh. Anak-anak kecil dengan pakaian dekil. Beberapa remaja putra dan putri, dan salah satunya adalah sosoknya sendiri. Ya, itu adalah sosoknya di masa lalu!

Anak-anak kecil itu menyorakinya, mengaguminya dan memanggil namanya;“Bang Raja, Bang Raja, Bang Raja!”

Ada sesuatu yang seketika melintas di benaknya. Wajah-wajah familiar, sosok ibu dengan sepasang mata lembut dan teduh, lelaki berwajah persegi, gadis cantik, anak perempuan.

“Raja, bangunllah, Nak, bangunlah,” suara lembut terdengar mengiang di telinganya.

“Iya, Bang Raja, bangun,” suara mungil.

“Dek, helooow, bangunlah, Dek!” suara tegas menyimpan sayang.

Mengapa mereka menyapanya dengan pangilan Raja?

Belum ada jawabannya saat wajahnya terasa dingin, seperti gerimis renyai membasahi. Ya, bahkan kemudian gerimis itu berubah bagaikan air hujan, mengucur dari langitkah?

“Bangun!”

“Wake up!”

“King! Aloooow, King, wake up!”

“Bangun, Bang, bangunlah….”

Karena merasa terganggu dengan suara-suara dan kucuran air di keningnya, pipi-pipinya dan hidungnya, maka perlahan tapi pasti ia pun membuka kelopak matanya. Tampaklah wajah-wajah yang tak asing lagi; Lee, Ray, Nay, Lulu dan si anak kecil.

“Agam! Kamu tak apa-apa, ya kan, ya?” tanya King.

“Aduuuuh, ini malah tanya anak orang,” tukas Lee, bantu menjawabkan Agam yang masih mencemaskan Sang Penolong sambil memijiti kakinya.

“Oh, iya, kita belum tanya siapa orang tuamu, Gam?” King menatap anak lelaki itu dengan sorot sayang.

King beragak bangun, tetapi Lee segera menahan tubuhnya agar tetap berbaring.

“Sebentar, kita cek dulu tensimu!” 

Kali ini King tak mau membantah. Ia menyadari kondisi kesehatannya harus segera kembali prima. Kalau tidak akan banyak urusan jadi terbengkalai. Tiba-tiba ia baru menyadari keberadaan mereka. Bukan di sebuah penginapan, ini lebih mirip ruang perawatan. Bukan ruang VVIP, melainkan semacam bangsal. Hanya pasiennya dirinya seorang, tetapi pendampingnya sampai lima orang.

“Rumah sakit apa ini?” tanyanya, menatap Lee.

“Bukan rumah sakit. Hanya sebuah klinik punya Ketua DKM,” jelas Lee.

“Apa itu DKM?”

“Dewan Keamanan Masjid, tadi mereka menemukan kita kebingungan, merubung dirimu,” sahut Lee, diiyakan oleh teman-temannya.

Ray Rizal seperti biasa sikapnya waspada, berjaga-jaga tak jauh dari pintu. Lulu duduk di kaki ranjang, berhadapan dengan Agam. Tampak ia tepekur, mulutnya masih komat-kamit. Berdoa dan berzikir.

Sedangkan Nay dan Lee berada di sebelah kanan dan kiri King.

“Apa yang dirasa, Bos?” tanya Nay, penasaran sekali.

Sekejap ia memeriksa nadi Bos kesayangannya. “Normal,” desisnya beberapa detik kemudian, tersenyum lega dan menatap King dengan sayang.

“Entahlah, ada yang semakin aneh dengan otakku. Ya, sepertinya begitu. Kalian berdua pasti tahu penyebabnya, iya kan?”

Kompak keduanya seketika menggelengkan kepala.

Agam yang memperhatikan gerak-gerik mereka, berkomentar ingin tahu. “Memangnya Abang sakit apa?”

“Hah, Abang kau bilang? Bagus, enak sekali kudengar,” sahut King terkekeh senang.

Seorang lelaki paro baya dengan gamis putih dan sorban di kepala memasuki ruangan. Ray Rizal menyilakannya agar mendekati King, memperkenalkannya sebagai sesepuh di Langsa.

Sementara Lulu mengajak Agam keluar ruangan. Ia paham mereka akan membahas berbagai hal penting yang tak boleh diketahui oleh anak kecil.

“Kami sudah berbincang perihal tujuan Anda semua ke sini,” ujar sesepuh yang juga seorang Ulama, warga Langsa memanggilnya; Syekh Rotan, seraya meminta dengan isyarat agar King duduk.

Aneh sekali, King menurut bahkan tanpa bertanya ini dan itu. Ia pun manut saja saat diminta mengucapkan dua kalimah sahadat. Khusuk sekali King melakukannya. Kemudian Syekh Rotan  merengkuh bahu King, meletakkan telapak tangannya di bagian kiri dada anak muda itu. Mulutnya komat-komit, beberapa saat ruangan menjadi hening nian.

“Diapakan itu?” bisik Nay kepada Ray yang berdiri di sebelahnya.

“Dijampi, eh, semacam diruqiyah. Paham tidak maksudku?” Ray malah balik bertanya dengan suara perlahan, kuatir mengganggu kekhusukan Syekh Rotan.

King merasakan tubuhnya bagai terangkat ke langit-langit kamar.

Oh, bukan tubuhnya melainkan raga halusnya. Ya, ia bisa melihat tubuhnya sendiri sedang duduk di tempat tidur.

Bahunya direngkuh oleh orang tua bergamis dan bersorban serba putih. Bagian kiri dadanya ditekan oleh telapak kanan Syekh. Terasa ada semacam aura dan enerji yang mengalir kuat, menggelombang dahsyat dari telapak tangan tua itu. Suatu kekuatan ajaib yang berhasil menerobos, menyelusup ke kisi-kisi hatinya, jantungnya dan memori otaknya.

Ruang perawatan!

Seorang anak laki-laki baru gede, wajah sangat mirip dengan wajahnya sedang meratap, menghiba kepada ibunya. Entah mengapa, King merasa yakin bahwa perempuan yang sedang berbaring tak berdaya, ditransfusi darah itu adalah ibu si ABG.

Apa yang diminta dari bunya?

Mengapa tak ada suara mereka?

Hanya gerak tangan, gerak bibir semata.

Seperti menonton film bisu. Namun, seketika pula King bisa merasakan dukalara yang dalam pada wajah perempuan malang itu. Melalui wajah itulah, tiba-tiba ia bagaikan melihat semesta kisah nan panjang. Ya, ia bisa melihat lembar demi lembar peri kehidupan mereka. Mulai dari derita seorang istri yang diselingkuhi. Ketakadilan lelaki itu, nah, dimanakah sosok yang pantas disebut ayah si ABG?

Plaaas!

Lelaki itu sedang asyik-masyuk dengan prempuan genit, istri mudanya. Rumah peristirahatan, serba megah dan mewah. Ada kolam renang. Sejoli kasmaran sedang bercumbu. Anak perempuan kecil dengan wajah khas mongolid.

Si ABG tampak sangat tertekan berada di sekitar mereka. Satu malam, diam-diam ia meninggalkan rumah megah itu sambil mengangkut kotak besar berisi sembako.

Plaaas!

Tiba-tiba ia berada di kawasan kumuh bernama Gang Molek. Tampak si ABG sedang mengajar anak-anak. Seorang dara berjilbab mengawasinya dari sudut joglo kayu, tempat kegiatan mereka. Ia ingin lebih mencermati kegiatan mereka, ketika tubuhnya terasa bagai dihela ke atas oleh satu kekuatan tak tampak. Beberapa detik ia merasa bagai melayang-layang, tinggi sekali. Kemudian dihempaskan kembali ke suatu kawasan.

Jalan raya!

Si ABG sedang berlari bersama beberapa temannya. Mereka dikejar oleh segerombolan preman.

Sebisa mungkin Raja menghindari orang-orang bertubuh tinggi kekar itu, menyelinap di antara gemerincing senjata tajam dengan nafsu saling membunuh. Tahu-tahu sosok itu, si Haleluyah, sudah dekat dari jangkauannya.

Aku akan melawannya, kenapa tidak?

“Awas, tunggu, pengecut!” teriakan itu lagi.

 Raja sempat membalikkan tubuhnya, ingin membalas tantangannya, tatkala dirinya sudah mencapai jalan raya.

Sedetik ia berhenti di trotoar, detik berikutnya mulai melangkah ke jalan raya dan tampaklah; Jaguar Tante Maria!

Mobil itu tiba-tiba melesat dengan kecepatan tinggi, menerjang ke arahnya. Raja masih sempat melihat sosok Laloan, berkacamata riben duduk di belakang kemudi.

“Raja! Awas, pinggir!”

Suara Lubenah, mengapa ada di sini?

Bukankah dia bareng Tuginah dan anak-anak?

Ekor mata Raja seperti melihat sosok yang disayanginya melebihi terhadap kakak sendiri itu. Ia melambai-lambaikan tangannya, memperingatkan.

“Ada apa sih, Mbak Luluk, eh, Mbak Lubenah?”

Zhiiieeeng, bruaaak!

Sedetik Raja merasakan tubuhnya seolah-olah terlempar tinggi sekali melewati truk, becak, gerobak bakso bahkan sosok Lubenah.

Ada rasa nyeri yang menghajar telak bagian kepalanya.

Ia memejamkan matanya rapat-rapat, masih ingin mengharap restu bunda tercinta, kakak dan adik tersayang, duhai!

Mama, ini anakmu memanggil, Ma!

@@@

(Visited 4 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: