Grup Perjuangan

Astaghfirullah,

Densus 88 menculik Siyono usai mengimami shalat di Masjid di Dusun Pogung, Desa Brengkungan, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah pada 8 Maret 2016, dengan status terduga teroris.

Saat ditangkap pria yang dikenal sebagai imam masjid itu dalam kondisi sehat. Namun, selang beberapa hari dia dipulangkan dalam kondisi tak bernyawa penuh luka dan lebam.

Penculikan Siyono diikuti penggerebekan yang dilakukan aparat kepolisian di rumah Siyono, Kamis (10/03/2018). Sejumlah polisi bersenjata laras panjang menggerudug rumah Siyono, yang kala itu digunakan sebagai kelas darurat siswa siswi TK Amanah Ummah yang tempat belajarnya tengah direnovasi. Anak-anak TK menangis histeris, walimurid pun tak bisa menyembunyikan ketakutan mereka.

Komnas HAM bersama PP Muhammadiyah dan elemen sipil lainnya melakukan autopsi untuk mengungkap penyebab kematian Siyono.

Sebulan berselang, hasil autopsi dibeberkan Komnas HAM bersama Persatuan Dokter Forensik Indonesia dalam konferensi pers yang digelar Senin (11/04/2016)

Hasil autopsi jenazah Siyono mengungkap sebagaimana pengutaraan Komisioner Komnas HAM Siane Indriani, “Terdapat patah tulang iga sebanyak 5 buah ke arah dalam dan patah tulang dada ke arah jantung. Hal inilah yang menyebabkan kematian. Hasil otopsi juga menunjukkan tidak adanya bukti-bukti perlawanan oleh almarhum.”

Tim forensik juga menemukan luka ketokan di kepala, tapi hal itu tidak menyebabkan perdarahan atau kematian.

Suratmi, istri almarhum, ketika mencari keberadaan suaminya ke Jakarta diberitahukan polisi bahwa Siyono wafat dan ia diberikan 2 (dua) ampop besar berisi uang puluhan juta, yang belakangan ia serahkan ke PP Muhammadiyah Yogyakarta.

Suratmi menyebut di awal kepergian suaminya, anak-anaknya sempat diliputi trauma hingga muncul ketakutan ketika bertemu dengan polisi.

Tak hanya itu, stigma dilekatkan kepada keluarga Suratmi di awal-awal meninggalnya Siyono. Sebagian masyarakat dengan mudah mengeluarkan tuduhan-tuduhan yang sampai saat ini tak terbukti.

(Visited 5 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: