Pipiet Senja

Ayesha dinilai lebih banyak melakukan manuver-manuver politisnya daripada syiar dakwahnya. Sangat tidak menguntungkan keberadaan komunitas mereka. Apalagi sejak peristiwa runtuhnya gedung WTC di New York, Islam diidentikan dengan teroris.

Sepak terjangnya yang gagah berani, gerakan unjuk rasanya yang menggebu-gebu, menghujat sejumlah kebijaksanaan Amerika. Ia bersama rekan seperjuagan menilai kebijaksanaan Amerika itu sangat merugikan perjuangan bangsa Palestina, terlalu mendukung Israel dengan arogansi adidayanya.

Sepak terjangnya itu, sungguh, sering membuat bulu kuduk Garsini meremang hebat. Ayesha hampir tiap saat memprovokasi massa dan jamaahnya agar turun ke jalan. Hal itu tak urung membuat pemerintah Jepang merasa gerah. Karena mendapat tekanan dari pihak Amerika, akhirnya pemerintah Jepang yang selalu membanggakan kenentralannya, terpaksa menindak gerakan bawah tanah itu.

Pada malam takbir, lebaran keempat di Negeri Sakura bagi Garsini. Dalam tayangan siaran langsung di layar kaca; tampaklah Ayesha sedang meneriakkan yel-yel anti Amerika di Okinawa, dekat pangkaln militer Amerika. Di antara massa itu, terlihat sosok imut-imut berjilbab hitam: Kagume!

Air mata Garsini tumpah ruah menyaksikan bagaimana para petugas dengan tak berperasaan, menyeret Sang Ketua gagah berani yang terus jua meneriakkan yel-yel anti Amerika.

Oh, apa itu? Melemparkan sosok imut-imut yang tampak ringkih dan pucat pasi itu ke atas truk!

“Damn’it!” jerit geram Haliza terlonjak dari tataminya, duduk di samping Garsini ikut menonton siaran langsung. ”Sialan sekali itu keparat, jahaaat! Mereka memperlakukan rekan-rekanmu tak ubahnya seperti para kriminal saja. Sungguh keji, biadab, dajal!”

“Aduh, sumpah serapahmu itu, Haliza,” keluh Garsini pedih dan tersentak kaget. Seingatnya itulah untuk pertama kalinya ia mendengar Haliza bersumpah serampah. Haliza yang baru tersadar pun segera mengucap istighfar berulang kali.

“Tidak, itu bukan salahmu. Jangan terlalu terpengaruh, Garsini, ingatlah selalu akan takdir-Nya,” hibur Haliza tersendat-sendat menahan tangis kepedihannya sendiri.

Beberapa lama keduanya menangis sambil berpelukan erat. Hanya itulah yang mampu mereka lakukan sepanjang malam takbiran.

Sampai beberapa waktu lamanya Garsini hampir tak bisa memaafkan dirinya sendiri. Dirinyalah yang telah menjadi pemicu pengenalan Kagume dengan iman Islam dan makna ukhuwah Islamiyah. Dia pulalah yang pernah didatangi oleh Kagume, agar mendampinginya saat mengucapkan dua kalimah syahadat di Islamic Centre setahun yang lalu.

Saat itu Garsini terlalu sibuk dengan urusannya, terpaksa dengan menyesal tak bisa selalu mendapingi Kagume. Tahu-tahu remaja itu telah bergabung dengan komunitas Ayesha di Sendai.

“Biarkan aku di sini,” ujar Kagume terdengar tegas.

Wajahnya yang belia tampak dilumuri pendar-pendar kehidupan, sesuatu yang tak mungkin dimiliki oleh remaja awam. Apa yang telah dijanjikan oleh Ayesha kepadanya, pikir Garsini. Nikmat Ilahiyah dan surgakah? Sosok bingung, ragu-ragu dan manja yang dikenalnya di kota kecil Hiroshima tiga tahun silam, telah sirna entah ke mana.

“Aku mau ikut berjihad bersama saudara-saudara seiman demi kemerdekaan bangsa Palestina,” kata Kagume yang mengaku sangat mengidolakan Ayesha.

“Tapi Kagume, di sini akan sangat riskan bagi remaja belia seperti dirimu.” Garsini sungguh tak berani mengatakan: berbahaya!

Di bawah tatapan mata rasa ingin tahu para akhwat jamaah Ayesha, mana mungkin ia berani menentang kebijaksanaan Sang Ketua? Kagume pasti tak paham hal itu. Yang Kagume inginkan hanyalah menjadi Muslimah yang istiqomah. Betapa sederhana cita-cita Kagume, tapi kenyataannya tak ada yang sesederhana seperti harapan dan keinginannya.

Garsini merasa sangat tak berdaya dan semakin menyesali dirinya, taKetika ia tak bisa berbuat apa-apa untuk mengeluarkan Ayesha, Kagume dan jamaah lainnya dari balik terali besi. Lagi pula memangnya siapa dirinya? Hanya seorang mahasiswa asing di Negeri Sakura.

Sungguh, ia tak memiliki wewenang apa-apa. Ia hanya bisa menangis dan berdoa panjang di atas hamparan sajadahnya. Ketika rekan-rekan di komunitas Sendai mendaulatnya agar menggantikan posisi Ayesha untuk sementara, ia memutuskan menolaknya.

“Tidak, maafkan, itu bukan wewenangku. Hanya pantas untuk seorang Ayesha,” dalihnya menahan pedih di bawah tatapan kecewa dan harapan sirna atas dirinya.

Sejak itulah Garsini menjaga jarak dengan komunitas Sendai. Rasanya sangat menyakitkan menyadari ketakberdayan dirinya, kebimbangan dan kepengecutan. Pecundang, julukannya yang paling pas saat itu. Sebuah julukan yang selama hidupnya selalu ingin dihindarinya.

Beberapa pekan kemudian, dari pemberitaan koran-koran lokal, Garsini mengetahui pembebasan mereka. Dikabarkan setelah melalui nego-nego yang sangat alot, menurunkan para diplomat dari sejumlah negara, barulah mereka bisa dibebaskan. Ada syarat yang mesti ditanda-tangani hitam di atas putih. Bahwa mereka tidak akan melakukan hal serupa ditambah harus melapor sampai waktu tertentu, tak boleh bepergian ke luar kota, apalagi mancanegara.

Ah, itukah pengaruh negara adidaya terhadap dunia internasional?

Sejak menjauhi komunitas Sendai, Garsini kemudian akrab dengan Annisa yang baru terbuka terhadap dirinya. Ada yang berubah pada diri Annisa. Ia mulai memperlihatkan secara terang-terangan tentang identitas dirinya.

Aneh sekali, pikir Garsini. Begitu berhati-hati Annisa tentang jatidiri kemuslimahannya selama ini. Betapa kaget Garsini mengetahui bagaimana Annisa sesungguhnya. Ternyata Annisa pernah mengenyam pendidikan pesantren.

Baik di ujung, bukankah namanya husnul khotimah? Mungkin itulah yang tepat bagi Annisa. Sejak kedekatannya dengan Garsini, perubahan itu secara bertahap terus diperlihatkan Annisa. Hijrahnya justru dilakukan pada saat banyak orang ketakutan oleh hal yang berbau Islam.

Apapun itu, Garsini merasa sangat beruntung bisa memiliki sahabat seunik Annisa. Dari kedekatan singkatnya, Garsini bisa menarik banyak pelajaran. Annisa mengajarinya tilawah yang benar, memperbaiki bacaan Al-Qurannya, memperkuat keimanan dan ketakwaannya.

Saat inilah Garsini baru menyadari satu hal. Agaknya hanya sosialisasi, kehebatan berorganisasi belaka yang diperolehnya dari komunitas Ayesha. Lantas, bagaimana kabarnya Kagume? Terakhir mereka bertemu, kelihatannya Kagume baik-baik saja. Tetap nyaman dan merasa cocok sekali setelah bergabung dengan Islamic Centre. Kagume punya kesempatan untuk melanjutkan kuliahnya dengan dana pendidikan dari Arab Saudi.

“Kamu belum jawab pertanyaanku, Ukhti,” tegur Annisa.

Garsini malah jadi bingung untuk menjawabnya secara serius. Maka, ia memutuskan untuk menjawab ringan tanpa nada bangga berlebihan. “Ah, itu kan hanya karena namaku yang terdengar pas di telinga orang Jepang. Garusini, hihi…”

Annisa menjentik bangir hidungnya dan tertawa gemas. “Dasar, tukang ngocol kamu!”

Perpisahan itu di balkon klub diskusi bentukan Profesor Charles del Pierro yang mungkin sudah terlupakan oleh pemakarsanya. Buktinya, guru besar itu sudah lama tak menjenguknya apalagi mencari tahu, apakah kucuran dananya sampai dengan selamat untuk melanjutkan proyeknya ini? Ia telah menyerahkan pengembangannya kepada para murid kepercayaannya, Annisa.

Bila Annisa telah selesai urusannya di sini, lantas siapa pula yang bakal melanjutkan? Tuan Congkak Andrew, Bu Lantang Akiko, Nona Cerewet Mandu, Miss Vietnam Lien Ang yang selalu tertawa keras itu? Aduh, Garsini merasa sayang sekali kalau penggantinya kelak bukan orang Asia!

Ah, tapi kenapa mesti kupikirkan, itu bukan masalahku, jerit Garsini kesal dengan pemikirannya sendiri. Annisa pasti sudah menyiapkan kaderisasi yang baik. Meskipun harapannya tak bisa terkabulkan melalui dirinya.

“Jangan lupa balas setiap imelku, ya Dik,” pinta Annisa serius.

“Insya Allah, Mbak.”

“Aku ingin tahu bagaimana perkembangan politik negeri kita dalam lima tahun terakhir. Kemungkinan besar aku masih akan tinggal di sini dalam lima-enam tahun mendatang,” cetusnya terdengar datar.

Sekali ini Garsini setengah memekik kaget. ”Masya Allah, selama itukah?!”

Garsini menatap keheranan wajah ayu di hadapannya. Berapa usianya sekarang? Annisa merahasiakannya, tapi Garsini menaksirnya sudah kepala tiga. Sampai kapankah dia ingin menghabiskan usianya di negeri orang? Untuk apa semuanya itu dilakukan?

Di awal pertemuan mereka, Garsini tahu Annisa penganut feminisme. Biasanya ia tak peduli dengan penampilannya, celana jins alakadarnya, tanpa polesan wajah sedikit pun. Belakangan Annisa mengenakan kulot dengan blazer cantik dan sedikit riasan wajah, ditambah kerudung gaul!

“Jangan pandangi Mbak begitu, Dik,” Annisa melengos. ”Aku tahu apa yang ingin kamu tanyakan…”

“Nah, kalau begitu jawablah, Mbak!” desak Garsini. Inilah kesempatan terakhir mereka untuk saling terbuka.

“Sudahlah jangan desak Mbak terus,” elaknya seperti biasa.

“Kenapa Mbak memutuskan untuk bertahan selama lima-enam tahun lagi di sini? Apa Mbak gak kangen keluarga di Solo?” cecar Garsini tak peduli.

Garsini telah mendengar cerita masa silamnya. Annisa terlahir sebagai anak penengah dari sembilan bersaudara. Ibunya garwo ampil, seorang bangsawan trah Keraton Ngayogyakarta. Adakah konflik, intrik atau konspirasi seperti dalam keluarga kerajaan di film-film Mandarin yang pernah ditontonnya?

Kini siapa yang pernah mengira anak yang tersisihkan, sering dilecehkan bahkan oleh saudara-saudaranya seayah itu, mendapat kedudukan terhormat di Universitas Tokyo? Belum lama Annisa mendapat kontrak kerja sebagai guru besar tetap, membawahi suatu tim untuk mengembangkan program-program kemanusiaan di fakultasnya.

“Romo dan Ibu sudah meninggal, kakak-kakakku tak ada lagi di sana. Empat adik perempuan sudah melangkahiku, tapi bukan itu masalahnya,” katanya agak tersendat.

Garsini tak keliru, ia menangkap kepedihan dan luka di bening mata gadis ayu itu. Sedetik ia menyesal telah memaksanya untuk menyingkap luka lama, mungkin trauma masa lalu, entahlah!

Digenggamannya jari-jemari Annisa. “Sudah, Mbak, jangan dipikirkan lagi. Lupakan pertanyaanku dan maafkan kelancanganku, ya Mbak?”

Annisa menghapus air mata yang menggantung di sudut-sudut matanya.

“Baiklah. Semoga sukses di negerimu yang selalu kamu banggakan dan kami cintai itu, ya Dik?”

“Yah, semoga saja ada lowongan pekerjaan untukku di sana…”

“Pokoknya selalu berjuang, janji?” kata Annisa menyemangati.

Garsini mengangguk. “Kudoakan juga Mbak sukses sebagai guru besar di sini. Tapi jangan terlalu lama di luar negeri, ya Mbak?”

Betapa banyak yang ingin disampaikannya, tapi tenggorokannya mendadak tersekat. Saat memeluknya hampir loncat air mata Garsini. Ia tak bisa membayangkan, bagaimana sosok Annisa pada lima-enam tahun mendatang. Apakah masih tetap melajang, hidup kesepian di negeri orang, aduh.

Tunjukanlah jalan lurus untuk gadis ini, Robb, jeritnya dalam hati.

Setiap perpisahan selalu menabur keharuan mendalam di dadanya. Beberapa saat keduanya masih saling berpelukan erat. Sampai kemudian Garsini merenggangkan dirinya, cepat-cepat menjauhi gadis Solo itu. Ia takut dirinya tak sanggup melepaskan lagi rangkulan hangat di bahu-bahunya.

Akhirnya, sosok tinggi ramping, stelan apik dan kerudung gaul itu membalikkan tubuhnya. Kemudian kakinya melangkah tegas-tegas menyusuri koridor, hingga lenyap di ujung gang menuju gedung lain. Sebuah bangunan baru yang kelak akan menggantikan gedung tua, tempatnya kelak berkiprah dalam bidangnya.

Berapa banyak lagikah perenungan, filosofi dan buah pemikiran para cendekia dunia yang bakal ditemuinya nun di sana? Mbak Annisa, kenapa dia baru menyadarinya sekarang? Mbak Annisa adalah Kartini masa kini, harapan bangsa yang sedang carut-marut, diguncang amuk prahara. Sayang sekali, Kartini ini dibelenggu keraguan untuk pulang ke negerinya.

Beberapa saat lamanya Garsini masih memandangi gedung tua di sudut kampusnya itu. Betapapun, di tempat inilah dirinya pernah mengenal berbagai gagasan, ide, pemikiran dan perenungan dari belasan, puluhan kepala antar bangsa. Di sinilah proses pendewasaan intelektualnya berkembang leluasa, disimbahi makna demokrasi yang dijunjung tinggi.

Di sini ia bisa mendengar, menyimak, jika perlu mendebatnya habis-habisan. Kemudian menyodorkan, bahkan memaksakan buah pemikiran dan gagasannya sendiri. Klub elite para muda cendekia riuh oleh diskusi-diskusi dan debat-debat seru.

Kadang Garsini merasa heran, betapa kokohnya gedung tua ini hingga tak goyah setapak pun oleh suara-suara lantang, teriakan kesal, pekik geram, gebarakan kepalan tangan dan tinju di meja dari para anggotanya. Bahkan oleh goncangan gempa, entah tak terbilang lagi.

@@@

(Visited 11 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: