Yogi Ahmad Erlangga, nama ini mungkin terdengar kurang familiar bagi telingga Anda? Padahal dia merupakan sosok yang berpengaruh dalam dunia sains dan teknologi.

Ya, dia berasal dari Indonesia, tepatnya dari Tasikmalaya, Jawa Barat.

Dia adalah alumni Institut Teknologi Bandung yang kini menjadi seorang pakar matematika Indonesia yang mampu mengharumkan nama bangsa di kancah dunia.

Persamaan Helmholtz merupakan salah satu rumus matematika tersulit yang seorang pun tak dapat memecahkannya karena cerdas saja tidak cukup.

Harus diimbangi dengan rajin menambah referensi seperti pergi ke perpustakaan, diskusi sampai membaca aneka situs edukasi semacam yuksinau.id.

Rumusan tersebut ternyata mampu dipecahkan oleh Yogi ketika dia berhasil menyelesaikan studi S3-nya di Delft University of Technology, Belanda.

Saat itu, perusahaan minyak asal Belanda, Shell, memintanya untuk menyelesaikan permasalahan di sektor perminyakan dengan menggunakan rumus persamaan Helmholtz.

Riset tersebut memakan waktu selama empat tahun dan menghabiskan dana hingga Rp 6 miliar yang dibiayai oleh perusahaan. Lamanya waktu hingga banyaknya biaya yang dikeluarkan, tentunya membuahkan hasil yang memuaskan.

Yogi mendapat pujian dari universitas-universitas di Eropa, Amerika, hingga Israel berkat prestasinya yang mencengangkan di dunia ilmu pengetahuan dan teknologi.

Selain itu, penggunaan persamaan Helmholtz dapat mempermudah penemuan ladang minyak dengan lebih cepat 100 kali lipat dari sebelumnya. Selain industri perminyakan, persamaan Helmholtz juga dapat diterapkan pada industri radar, kapal selam, penerbangan, aplikasi laser, penyimpanan data dalam blueray discyang bisa menyimpan puluhan gigabyte hingga ilmu tentang gelombang elektromagnetik.

Seiring terkenalnya temuan tersebut, banyak pihak yang menyarankan Yogi untuk mematenkan penemuannya, termasuk dengan menamakan hasil temuannya dengan Erlangga Equation.

Namun, dia menolaknya dengan alasan bahwa mematenkan sebuah penemuan maka hanya akan menghambat perkembangan ilmu pengetahuan di kemudian hari.

Kini, Yogi Ahmad Erlangga menjadi asisten profesor di Nazarbatev University, Kazakhstan. Keinginannya hanya agar temuannya dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, karena itu merupakan hak manusia. Sementara hak ini bisa dijamin ketika ilmu bersifat open source dan dimiliki publik.

Yogi mengharapkan pendidikan di Indonesia terus berkembang.

Yogi juga mengikuti perkembangan bahwa di Tanah Air pemerintah terus berupaya memperbaiki dunia pendidikan termasuk dengan memperkuat pendidikan karakter.


(Visited 31 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: