Umbara Al Mafaza

Lated post! Tak apa daripada tidak sama sekali.

Buku telah banyak mengubah hidupku. Banyak cinta yang kuterima karena anugerah Allah membuat diri ingin selalu tahu sehingga kucinta membaca termasuk membaca cinta di hatimu Argo Sulaiman Al Farizi eeeaaa eeeaaa

Dimulai dari hati yang retak seperti kisah jilbabku yang membuat gempar isi sekolah. Preman sekolah tobat, gadis tomboy yang populer suka berantem sama teman-teman laki-laki hahaha. Hingga ku temukan kisah yang sama di piranti hati yang retak tokoh utama sampai diseret jilbabnya oleh orang tuanya cerpen lain di antologi cerpen Ketika Mas Gagah Pergi karya Bunda Helvi Tiana Rossa. Ah kisah Gita, serasa aku yang tak paham apa itu ngaji. Ujianku dimulai dan lewat buku-buku aku bertahan dan terus melebarkan hijabku. Aku tak separah tokoh di cerpen piranti hati yang retak. Tak sampai orang tuaku menyeretku di tengah keramaian hingga tertusuk peniti daguku. Ah masih mending, hanya tak boleh sekolah. Pilihanku 2, sekolah atau jilbab karena keduanya penting untuk dunia dan akhiratku. Harus sholih dan berilmu. Kubiarkan mereka marah semarah-marahnya karena keputusanku berhijab. Kekhawatiran itu menyelimuti ibu bapak. Nanti susah cari jodoh, susah cari kerja dan gak bisa berprestasi. Semua sudah terlewati dan aku bisa membuktikan aku tetap bisa berprestasi, aku bisa bekerja dan memiliki potensi dan Allah anugerahkan aku jodoh yang sholih. Bismillah selalu berbaik sangka pada Allah.

Ketika banyak kecewa karena perdebatan yang tak kunjung usai. Rumah seperti neraka. Aku berdamai dengan diriku sendiri dan berusaha ngegank bareng papi mami. Lewat buku-buku kecik mungil pengembangan pribadi dan psikologi remaja karya Mbk Izzatul Jannah (Intan Savitri).

Ketika ku tahu arah juangku. Bagaimana aku bertahan dengan segala problema yang bertengker di pundakku. Aku menguat hangat berusaha semangat terinspirasi kisah tomboy pinkan yang berusaha jadi muslimah sejati. Ah merasa membaca diri sendiri walau aku tak sehebat pinkan. Terima kasih Teteh Muthmainah Maimon Herawati.

Ketika banyak orang melihat sesuatu dari fisik. Aku belajar dari kumpulan cerpen genderuwo terpasung karya Afifah Afra ( Yeni Mulati Sucipto) bahwa kita tak boleh memandang sesuatu hanya dari luarnya saja. Bisa jadi keburukan wajah yang dimiliki justru hatinya itu seperti berlian.

Aku belajar dari luka-luka yang menganga lewat karya-karya inspiratif eyang Pipiet Senja Semesta ( Manini Zein ). Bahwa luka tak perlu dipelihara dan hanya kita yang mampu mengubah hidup kita. Kita pemilik kebahagiaan kita. Terus bahagia hingga kita menemukan kebahagiaan sesungguhnya di jannah-Nya.

Banyak motivasi yang kudapati lewat buku-buku bergizi tinggi dan memberi asupan semangat yang tak pernah mati. Dari zero jadi hero. Dari Salah jadi Shaleh. Jazakumullah Ustadz Solikhin Izzuddin. Belajar cinta tanpa pacaran dan memilih jalan cinta para pejuang benar-benar kaya makna lewat karya Ustadz Salim A. Fillah Dua-full. Rasanya tambah berarti sekali hidup ini dipertemukan dengan orang-orang baik dan tetap terus belajar jadi baik.

Bismillah aku melangkah menyusul para pecinta dakwah lewat kehidupan yang semakin berkah.

Semangat!

(Visited 10 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: