Pipiet Senja

Ternyata biduk pernikahanku tak pernah reda dari amuk, badai dan gelombang pasang perikehidupan. Ini lebih disebabkan keluguan, lebih tepatnya kedunguanku sendiri. Menganggap suami sebagai figur lelaki bertanggung jawab, gentle… sungguh kekeliruan besar!

“Suamimu itu suka daun muda, tahu!” berkata Marga, seorang teman baruku di kompleks perumahan Cibubur itu.

“Dari mana kamu tahu?” selidikku ingin tahu.

“Beberapa kali aku memergokinya bermesraan dengan anak sekolah di mobilnya.”

“Anak sekolah?” seruku terkejut.

“Iya, anak SMA teman adikmy, Sy. Tanyakan saja sama adikmu itu!”

“Iya, Teteh… Papi memang suka menaikkan teman-temanku yang nakal ke atas sedannya… Sepulang dari sini,Teh En,” Sy membenarkannya.

Sy, adik keempatku itu, sudah setahun ikut bersamaku dan melanjutkan sekolah di Jakarta. Ry, adik laki-laki, juga sedang menuntut ilmu di IKIP, Rawamangun. Mereka menempati rumahku yang diatasnamakan Peter, di seberang tempat tinggalku. Rumah itu memang sejak awal diperuntukkan buat keluargaku.

Sebelum aku meminta penjelasan suami, alih-alih merasa bersalah, sebaliknya dengan enteng dia mengungkapkan kebejatannya sendiri.

“Wuakaka… kamu pikir aku sudah puas dengan dua orang istri, hemm? Lima, enam… bahkan selusin pun aku takkan pernah puas!” cetusnya tanpa tedeng aling-aling.

Mungkin karena memang pada dasarnya aku pun tak memiliki rasa cinta yang dalam terhadap dirinya, maka hatiku hampir tak terusik. Tiada rasa cemburu, tidak, tak pernah kumiliki istilah itu untuk ayah anakku. Hanya perasaan jijik semata yang lindap, dan semakin melindap dalam diriku.

Aku tak pernah bisa menikmati makna persenggamaan lagi sejak kutahu bahwa; lelaki yang ditakdirkan menjadi suami, dan ayah anakku itu, ternyata tipe lelaki yang kecanduan seksual!

Apabila bertugas ke luar kota atau ke mancanegara, biasanya seorang diri, ia sengaja akan berlama-lama meneleponku.

“Alooow… Non! Tahu gak saat ini aku bersama siapa?”

“Ya?”

“Ada dua cewek cantik di sampingku, tepatnya di atas tempat tidurku!”

“Hmm,” dengusku menahan perasaan mual yang seketika menguaduk-aduk perutku. 

Betapa ingin segera kubanting gagang telepon itu, tapi suara di seberang memaksaku untuk menahan diri. Aku tak ingin dianggapnya tengah cemburu, tidaaak!

“Aku bayar kok, Non!”

“Mengapa gak sekalian kamu nikahi saja mereka?”

“Wuakaka! Buat apa aku harus memiara sapi kalau susunya dapat kubeli secara eceran? Bodohnya kamu, Non, bodooh!” sahutnya dalam bahak berkepanjangan, sarat keangkuhan.

Kuraih anakku yang baru berumur beberapa bulan, kupeluk tubuh mungilnya erat-erat. Air mataku buncah ruah. “Betapa malangnya kamu, Nak, maafkan Mama, ya, maafkan,” gumamku.

Tak mampu kubayangkan bagaimana jadinya anak ini kelak bila mengetahui siapa ayahnya, bagaimana perilakunya, kebejatan moralnya.

“Mama janji, ya Nak. Mama akan melindungimu, menjauhkanmu dari kekejian ayahmu. Peganglah, Nak, Cinta… Ini janji Mama!”

Kemudian aku masih berusaha keras untuk menjadi seorang istri dan ibu yang baik. Kupegang teguh janjiku kepada anakku, termasuk kutunaikan nasihat ibuku yang sering mengingatkanku tentang sejatinya tugas, kewajiban seorang istri, dan seorang ibu.

“Sudah fitrahnya seorang ibu, Nak, harus leih banyak memberi tanpa pernah mengharap imbalan. Kebahagiaan seorang ibu terletak pada  kesejahteraan, kesehatan dan keselamatan anak-anak…”

“Tidak mengapa suami memiliki perempuan di luar rumah. Yang penting dia masih menafakahimu dan anakmu… Sudah fitrahnya lelaki begitu, suka berpoligami…”

Aduuuh, bunda, bundaku yang sangat bersahaja!

Meskipun pahit, kulakoni takdirku, barangkali memang inilah imbalannya atas segala hasrat dan cita-citaku sejak kanak-kanak. Baik, baiklah!

Rasanya apapun mau saja kulakukan saat itu demi meraih kembali cinta dan pengaguman suami. Apapun kehendaknya niscaya kupenuhi. Bahkan saat ia memintaku untuk memeluk agamanya, artinya aku harus melepas agamaku dan beralih memeluk Protestan, aku pun mengabulkannya.

Lagipula, memang selama itupun aku tak pernah lagi menjalankan kewajiban seorang Muslim. Ya, kurasa secara sadar, akhirnya aku menjadi seorang murtad. Mulailah kukenakan lontin salib yang mencolok mata, mengganduli leherku.

Orang tuaku tentu menyimpan kekecewaan mereka dalam hati, kutahu itu. Mereka merasa sudah tak bisa lagi mengatur apalagi mengendalikan diriku. Bukankah aku telah menjadi seorang istri dari seorang Protestan? Orang yang pernah membaca dua kalimah syahadat hanya sebagai syarat, agar bisa menikahiku dulu.

Saatnya tiba ayahku pensiun setelah 30 tahun masa kerja sejak zaman revolusi. Orang tuaku semakin banyak bergantung dari belas kasihku. Ini berarti mereka semakin merasa tak bisa bicara, sekadar mengingatkan diriku pun tiada mampu lagi.

Aku bekerja keras mengembangkan usaha salon kecantikan, hingga beroleh pemasukan yang lumayan besar. Sebagian kusumbangkan untuk keluargaku. Sebagian lagi kugunakan untuk memanjakan anakku, melimpahinya dengan berbagai macam baju dan mainan mahal.

Sering kuajak jagoanku ini dengan babysitter-nya, mengunjungi tempat-tempat indah dan mewah. Sementara ayahnya semakin jarang berkunjung, sibuk dengan seribu aktivitas kariernya, termasuk gejolak kencanduan seksualnya yang kian liar dan tak terbendung lagi.

Pada kenyataannya, setelah empat tahun berlalu, kutemukan pernikahan kami semakin carut-marut. Kesunyian, kehampaan, kekecewaan dan kebencian kian meruyak dalam dadaku yang melahirkan rasa putus asa tak teperi. Aku berkali-kali mengemukakan keinginan pisah. Dia menampar, menendang dan menjambak rambutku.

“Kamu tidak akan pernah melihat anakmu lagi kalau kita berpisah! Dasar perempuan tak tahu diuntung!” ancamnya serius sambil membanting pintu dengan brutal sekali.

Ternyata Tuhan masih menjawab doaku!

“Baiklah, kita bercerai saja. Urus sendiri prosesnya!” katanya suatu hari.

“Boleh kutahu alasanmu kali ini?” selidikku.

“Mereka mengancamku, mencoret namaku dari jajaran komisaris perusahaan. Kamu dan anakmu dianggap sebagai aib keluarga besar kami!”

“Begitu, ya… aha, bagus sekali!” dengusku sinis.

#TuhanJanganTinggalkanAku

(Visited 10 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: