Edy Mahyudin

Judul Novel : Tembang Lara
Penulis : Pipiet Senja
Penerbit : Gema Insani
Cetakan : Pertama, Juli 2003
Tebal : 264 halaman

Thallassemia merupakan penyakit kelainan darah bawaan, maksudnya penyakit keturunan. Penulisnya, Pipiet Senja adalah seorang wanita yang juga memiliki kelainan darah bawaan yaitu Thallassemia. Dia pun harus ditransfusi darah secara berkala 2-3 bulan sekali seumur hidupnya. Sama persis seperti yang diceritakannya dalam novel yang berjudul “Tembang Lara”.

Novel ini bercerita tentang sebuah keluarga tiga anaknya menderita penyakit kelainan darah bawaan. Anak perempuan berumur 12-an itu berperawakan kurus, kecil, mungil. Perutnya buncit, wajahnya pucat dengan tulang pipi menonjol dan hidung kecil. Penampilan yang khas dari seorang anak penderita thallassemia(hal:7).

Walaupun Ratnani, anak kedua, sudah berjuang keras melawan penyakitnya. Namun Tuhan berkehendak lain. Ratnani pun meninggal tepat pada hari ulang tahun Arestia, adiknya. Arestia pun menderita Thallassemia dan berperawakan persis Ratnani, kakaknya.

20 tahun kemudian Arestia sudah tumbuh menjadi seorang gadis manis dan cantik dengan postur tubuh sedang 150 cm dan berat badan yang sesuai. Perutnya yang dulu buncit kini tak begitu terlihat, dia rajin bersenam. Hidungnya yang dulu mungil sekarang tampak bangir dengan tulang-tulang pipi yang sesuai dan susunan gigi yang rapi. Sempurna bagi seorang Thallassemia(hal:89).

Arestia seorang wanita yang sejak kecil hingga dewasa bergelut dengan Thallassemia. Gen Thallassemia yang dibawa oleh kedua orang tuanya itu pula yang sudah merenggut nyawa kakaknya, Dewi berumur 1 tahun, Ratih berumur 2 tahun dan Ratnani berumur 12 Tahun.

Ketika merayakan ulang tahun yang ke 25, ayah dan ibu Arestia mengajaknya makan malam. Dari situlah pertama kalinya Arestia bertemu Binsar, yang merupakan sopir taksi yang sudah dikirim ibunya untuk menjemput Arestia. Binsar merupakan sopir Taksi yang selalu mengantar Arestia kemana pun pergi.

Ternyata Arestia menaruh perasaan suka pada Binsar yang umurnya lebih tua 15 tahun darinya. Sampai suatu hari Binsar melamar Arestia dan orang tua Arestia pun menerimanya(hal:105). Namun ada suatu hal yang disembunyikan oleh Binsar di balik pernikahan itu.

Pesta pernikahan pun selesai, sekarang Aresia sudah menjadi ibu rumah tangga. Dari sinilah terbuka semua tujuan Binsar menikahi Arestia. Binsar yang dulunya sangat lembut kepada Arestia, sekarang menjadi sangat kasar. Ternyata Binsar menikahinya hanya untuk balas dendam. Balas dendam, mengira ayahnya dihilangkan oleh Mayor Bayu Pamungkas, paman Arestia, saudara ayahnya Arestia.

Ayah dan ibu Arestia meninggal dalam kecelakaan ketika pulang dari seminar di Surabaya. Ayah dan ibu Arestia meninggal karena mobil yang mereka kendarai bertabrakan dengan kereta api malam. Arestia sangat sedih dengan peristiwa tersebut.

Belum 40 hari kepergian orang tuanya, Arestia dan Binsar kedatangan beberapa orang yang mengaku petugas dari Bank. Arestia hampir pingsan, mengetahui bahwa rumah yang ditempatinya itu sudah lama tergadai dan seluruh harta orang tuanya.

Binsar sangat kesal mendengar hal itu. Pasalnya sehari sebelum menikah dengan Arestia, mertuanya

Masayu dan Faris dating ke rumahnya. “Kami ingin bikin kesepakatan denganmu, anak muda. Kalau kamu mau memperistri putrid kami, kamu akan mendapatkan kesenangan,”kata Faris. “Ini kunci sebuah rumah dan mobil. Dan kamu akan mendapatkan banyak uang, bahkan seluruh harta keluarga kami.”

Sialnya, sebelum surat-surat berharga itu diberikan pada Binsar, orang tua Arestia telah meninggal. Arestia tahu bahwa orang tuanya membelikan suami untuknya. Sejak itulah Arestia terus menerus disiksa oleh Binsar baik fisik maupun batinnya. Bahkan Arestia dituduh membunuh ibu Binsar, mertuanya sendiri. Penderitaannya yang bertubi-tubi itu belum juga membuka hati Arestia untuk memahami makna hidupnya.

Memahami apa rencana Allah dibalik penderitaan yang tiada hentinya itu, hingga akhirnya dia tinggal di sebuah pesantren untuk menenangkan diri, dan di sana ia mulai mengerti arti kehidupan. Mulai rajin beribadah dan bertawakkal pada Allah agar diberikan kekuatan serta kesabaran untuk menjalani hidupnya.

Pada akhirnya diapun memakai jilbab. Dia hamil tanpa ada perhatian dari suaminya. Meskipun begitu, dia tetap sabar setelah berbagai kejadian yang menimpanya, mulai dari harus transfusi darah 2-3 bulan sekali karena penyakitnya. Suaminya yang kejam, dituduh membunuh mertuanya dan lain sebagainya, dia mendapat hikmah dari semua itu.

Hingga pada akhirnya, suaminya sadar akan kesalahannya selama ini dan sangat menyesal dengan apa yang telah dia lakukannya. Dia pun menjadi tahu bahwa bukan Asteria yang membunuh ibunya, tapi Netty sepupu Asteria, yang menjadi selingkuhan Binsar. Bahkan dia berhutang budi pada ibu Arestia yang telah memberikan darah kepada adikny Imelda saat sakit dahulu.

Kemudian Arestia melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik tepat pada hari raya Idul Fitri. Suaminya, Binsar masuk penjara karena kasus kerusuhan. Saat ia di penjara Arestia dan anakya sering mengunjunginya.

Meskipun Arestia telah mengizinkannya menggendong anaknya, tapi Binsar tidak mau karena dia malu. Anaknya belum mempunyai nama, maka Arestia pun meminta Binsar memberinya nama, dan Binsar menamai anaknya itu “Fitri boru Sitepu”.

Novel ini sangat menyentuh hati. Banyak pelajaran dan pengalaman yang yang dapat diambil dari novel ini. Bahasany tidak kaku sehingga enak dibaca dan mudah dimengerti. Dalam novel ini, penulis juga menyisipkan beberapa bahasa daerah Sunda dan Batak.

Pada awalnya novel ini agak sedikit tidak nyambung karena penulisnya menggabungkan cerita keluarga Arestia dengan Binsar. Jika pembaca tidak teliti membacanya, mungkin akan merasa bingung dengan jalan ceritanya.

Penasaran? Silakan pesan saja kepada penulisnya. WA:08111581956

(Visited 13 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: