Nurgiantoro

Note: Menemukan makalah, ulasan, resensi dan skripsi bahkan disertasi salah satu karya, senantiasa membuat takjub. Plus mengharu biru kalbu. Seketika bagai dikembalikan ke masa-masa proses melahirkan novel tersebut. Tembang Lara, salah satu novel yang saya tulis kebanyakan di rumah sakit. Tak lama setelah menikah.

Cerita ini dimulai pada halaman 7 berakhir pada halaman 261. halaman berisi biografi penulis, sedangkan 264 berisi tentang koleksi buku-buku novel Islami terbaru yang diterbitkan oleh penerbit gema insani. Cover luar dari novel Tembang Lara ini tampil dengan cover bergambar tokoh utama novel, mulai ia kecil, remaja, hingga dia dewasa menjadi seorang pelukis dengan memakai jilbab. Ilustrasi tokoh utama ini digambarkan dengan ekspresi wajah kecilnya yang pucat, penuh dengan ketakutan, berbeda dengan ekspresi wajahnya ketika ia dewasa, dia begitu

3 40 tenang dan bersinar serta ekspresi wajah ketika ia sukses digambarkan dengan balutan jilbabnya, ia terlihat begitu lebih tenang dan sejuk dipandang, walaupun pada ilustrasi wajah kelihatan pucat namun itu yang akan memberikan kesan kepada pembaca mengenai karakter tokoh utama.

lustrasi gambar tersebut akan memberikan gambaran kepada pembaca mengenai sosok seorang perempuan yang mandiri dalam menghadapi cobaan hidup (penderitaan). Dalam tulisan judul Tembang Lara ditulis dengan huruf sambung berwarna kuning dengan gaya formal.

Tulisan ini dimaksud untuk mendukung ilustrasi tokoh utama, sehingga tulisan ini dapat menjadi center of interest bagi pembaca. Pada cover terdapat kombinasi warna keseluruhan yang terdiri dari warna biru tua, yang menjadi dasar warna dengan gambar daun-daunnan warna hijau tua, warna kuning menjadi warna pada tulisan judul dan warna putih pada tulisan nama pengarang, sehingga antara nama pengarang dengan gambaran ilustrasi tokoh utama dapat memberikan kesan lembut dan tidak mencolok.

Kesan lembut tersebut itulah yang akan membuat para konsumen tertarik untuk membeli dan membacanya. 3.3 Sinopsis Arestia terus dirundung penderitaan, pada umur lima tahun ia sudah divonis menderita Tallasemia atau kelainan darah bawaan. Penyakit yang belum ada obatnya itu, ia hanya mengandalkan transfusi darah tiap 2-3 bulan

4 41 sekali. Penyakit itu juga yang telah merenggut kehidupan kakak-kakaknya (Dewi, Ratih dan Ratnani). Menginjak ia dewasa dan menikah dengan Binsar, seminggu kemudian ayah dan ibunya meninggal dalam sebuah kecelakaan ketika pulang dari seminar. Binsar, suami yang sangat dicintainya, ternyata menikahinya hanya untuk balas dendam, karena Arestia orang satu-satunya yang masih hidup dari pihak keluarganya. Binsar semakin kasar dan sering menganiaya Arestia, bahkan Binsar sampai menuduh Arestia yang tidak tahu apa-apa dituduh membunuh mertuanya sendiri.

Penderitaan yang bertubi-tubi itu belum juga membukakan hati Arestia untuk memahami apa rencana Allah dibalik penderitaan yang tiada hentinya itu. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menetap di lingkungan pesantren. Dalam beberapa minggu saja, hidup diantara para santri telah membuka ketertutupan dirinya selama ini. Dia mulai belajar mengaji dan mengerjakan perintah Allah dengan rutin dan baik.

Hidayah itu telah sampai ke dalam kalbu Arestia, sejak saat itu Arestia merasa banyak diberkahi oleh Sang Khaliq. Dia telah memberi banyak kesempatan kepadaku untuk menaikkan ibadah puasa dengan nikmat, melahirkan anak secara alami dan selamat serta berhasil meluluhkan hati suaminya untuk bertobat dan memaafkan segala kesalahan suaminya. 3.4 Kritik Intern Novel Tembang Lara karya Pipiet Senja Tema dan Amanat

5 42 Tema suatu cerita yang hanya dapat diketahui dan ditafsirkan setelah membaca ceritanya, serta menganalisisnya. Hal itu dapat dilakukan dengan mengetahui alur cerita dan dialog-dialognya, karena unsur yang satu dengan yang lainnya saling bersangkutan, maka diperlukan ketajaman berfikir, untuk menemukan tema atau pokok persoalan tersebut (Nurgiyantoro, 1998 : 66).

Pada novel Tembang Lara terdapat masalah-masalah yang ditampilkan, seperti : a. Masalah keluarga penderita Tallasemia Masalah keluarga ini dalam novel diceritakan melalui tokoh Masayu yang menikah dengan dr. Faris (penderita Tallasemia) dan memiliki empat putri (Dewi, Ratih, Ratnani, dan Arestia). Keempat putrinya juga menderita Tallasemia.

Putri pertama dan kedua meninggal dan putri ketiganya terbaring tak berdaya, seperti terdapat dalam kutipan berikut : Tallasemia, kenapa hanya putri-putriku yang tak berdosa ini, mbak Nis? Tuhan seolah belum puas, setelah mengambil Dewi dan Ratih dari pelukanku. Apa dia mau ambil Ratnani juga? Duh, mbak Derita ini, laraku ini tak tertahan lagi, hikks! (hlm 11). b. Masalah kawin bersyarat demi membahagiakan putrinya (Arestia), putri yang tinggal satu-satunya, Masayu dan Faris mencarikan pasangan hidup, namun apa yang terjadi bukan kebahagiaan tapi penderitaan yang dialami.

Seperti dalam kutipan berikut Kami ingin bikin kesepakatan denganmu anak muda kata Faris tanpa tandang aling-aling. Kalau kamu ingin menperistri putri kami, kamu akan mendapatkan banyak kesenangan. Ini kunci sebuah rumah dan mobil (hlm.112). c. Masalah Cinta Arestia selalu memaafkan suaminya yang telah berbuat kasar dan menganiaya, karena rasa cinta dan sayang itulah yang meluluhkan hatinya untuk memaafkan, seperti dalam kutipan berikut: Aku menyesali sikapku kepadamu tempo hari itu. Aku takkan menggulanginya lagi. Tolong, berilah kesempatan kepadaku untuk menjadi suami yang baik.

Bersambung

(Visited 10 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: