Rinta Wulandari

“Daripada Mengekor Singa Lebih Baik Jadi Kambing Tapi Kepalanya”

Demikian caption di slide Pipiet Senja siang itu di kampus Unila.

Dalam materi seminarnya Pipiet Senja memaparkan sbb;

Apabila seseorang sudah digariskan menjadi seorang penulis, niscaya ada sesuatu yang akan terjadi pada diri kita. Sesuatu itu sangat luar biasa pengaruhnya, sehingga dia akan memburu, menguntit ke mana pun kita melangkah.

Modal paling utama seorang penulis adalah dorongan dari dalam. Menulislah dari hal yang kecil, tak perlu terlalu luas, njelimet-njelimet. Menulislah mulai dari catatan harian, pengalaman sendiri,hasil menjadi pendengar yang baik bagi orang-orang yang berkeluh-kesah kepada kita, atau fenomena yang tengah terjadi di sekitar kit a.Jadi jangan terlalu berharap buku yang telah kita terbitkan menjadi best seller. Biarkanlah pembaca yang menilai.

Kami dipersilakan untuk menulis. Menulis apa saja dengan tema Zakat. Ada hal unik di ruangan itu, ada dua orang gadis kecil berusia 11 tahun, sedang mengetik dengan antusias. Mereka adalah Feyna si gadis berjilbab pink, berkacamata frame merah di sebelahnya ada pula seorang gadis kecil berjilbab putih dengan gaya mengetik yang super cepat, Siti Atikah namanya.

“Hei, ngetiknya jangan cepet-cepet, nanti kamu haus,”kataku kepada Tika panggilan Siti Atikah.

“Ah gak haus kok, kan cuma ngetik. Nih pake 2 jari,” jawab Tika polos. Kemudian dia meneruskan mengetik di netbooknya.

Mereka sangat bersemangat. Sedangkan aku? Sebenarnya aku bukan tipe orang yang bisa menulis dengan tema yang ditentukan, dan harus segera selesai beberapa jam saja. Jadilah aku memilih untuk menyelesaikan tulisan di rumah, dan mengirimkannya kemudian hehe.

Peserta lainnya masih tekun dengan tulisan mereka. Namun dua bocah itu menghampiri tempat dudukku dan kak Nora. Mereka berkenalan. Feyna mengatakan kalau sudah besar mau jadi guru dan penulis. Sedangkan Siti Atikah mengatakan kalau sudah besar pingin jadi dokter dan penulis.

“Nah, kalau kamu mau jadi dokter, tanya jurusnya tuh sama Kak Nora.”

“Sini-sini aku bisikin caranya,” ujar Kak Nora, akhirnya mereka masuk kedalam obrolan tentang cara menjadi dokter. Gak salah-salah si Tika juga tanya tentang foto di ruang operasi. Semangat yang menggebu!

Kemudian kami berfoto bersama sebagai kenang-kenangan, ah semoga bisa ketemu sama bocah-bocah ini lagi, ohya kami sempat bertukar email 😀

Di akhir acara, tulisan yang telah dibuat para peserta dikoreksi oleh Pipiet Senja sendiri. Kemudian mengumumkan peserta yang berhak mendapat hadiah buku karya Pipiet Senja. Mereka adalah Siti Atikah dan Ka Nora Ramkita, yeey!

Siti Atikah dengan kisahnya yang berjudul indahnya berbagi, dan cerita Ka Nora tentang kisah Ruang Melatinya. Ah kak Nora yang ngakunya gak bisa buat fiksi, malah juara kaaan. Keren! (Rinta Wulandari, Bandar Lampung)

(Visited 6 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: