Rinta Wulandari

Anno, 2014

Aku sudah di lokasi Jalan Ki Maja, gedung di belakang Alfamart besar di jalan Ki Maja ini. Alhamdulillah, kali ini ada salah satu kelas menulis yang me-Nasional. Karena narasumber adalah penulis nasional. Sebelumnya ada Sinta Yudisia selaku penulis nasional dan ketua Forum Lingkar Pena Pusat datang ke Bandar Lampung.

Tak kalah hebat dan dinanti, yakni kedatangan narasumber sekelas Pipiet Senja. Penulis senior nasional yang telah menerbitkan ratusan judul buku. Suatu kebanggaan bagi Forum Lingkar Pena Wilayah Lampung, dan FLP cabang Bandar Lampung. Pipiet Senja datang untuk menyalurkan ilmu yang sangat bermanfaat bagi kami, para manusia yang suka menulis.

Talkshow & Workshop bertajuk ‘Gerakan Zakat melalui Goresan Pena’ disponsori oleh Dompet Dhuafa dan bekerjasama dengan FLP Lampung. Pipiet Senja dengan busana Ungu Syar’i yang beliau kenakan, tampak begitu segar di usia senjanya. Di awal Pipiet menceritakan sedikit perjalanan kepenulisannya, pengalamannya dalam membuat cerita. Pipiet Senja mengatakan; “Penulis butuh kepekaan dari sekitar lingkungan hidupnya. Misalkan saatmelihat seorang anak pengamen dengan alat musik sederhananya, bisa dijadikan bahan tulisan yang bermakna.”

Peserta termuda menjadi salah satu sasaran teh Pipiet, mengenai pertanyaan “Mengapa suka menulis?” Si Anak kecil berjilbab putih, Siti Atikah Azzahrah, menjawab karena hobi dan senang menulis. Ternyata, menulis merupakan kesenangan bagi banyak orang, sebagian orang mengatakan menulis merupakan kebutuhan.

Pipiet Senja juga menceritakan sedikit kisah hidupnya, bahwa ia merupakan salah satu penderita thalassemia, ditransfusi sejak umur 9 tahun. Namun, bagi Pipiet Senja, menulis menjadi salah satu terapi sehatnya. Hidup sebagai penderita thalassemia, dengan limpa yang sudah ditiadakan dari tubuhnya.

Tahun 2013, ia mengatakan dirawat di ICCU, jantungnya hanya berfungsi 30% di dalam ruangan yang super steril itu tidak diperbolehkan beraktivitas selain istirahat total.

“Apa yang saya lakukan? Menulis!”

Di dalam ruangan yang steril itu, laptop dan peralatan tidak diperbolehkan masuk, hape juga tidak boleh dipegang pasien. “Dok, mau gak lihat pasiennya gila? Sudah sakit gila pula?”

“Wah, jangan dong, kenapa jadi gila?” yanya dokter.

“Saya gila kalau tidak menulis, makanya jangan diumpetin dong hapenya, plis, pliiiis….” Akhirnya sang dokter memberikan izin untuk menulis di ponselnya. Menulis bisa menjadi terapi, menulis bisa menunda kepikunan, tegasnya.

Terdapat slide materi yang disiapkan Pipiet Senja, beberapa materinya mengenai kepenulisan. Menulis hanya berpegang dengan teori-teori tanpa mempraktikan, keinginan menjadi penulis hanya mimpi.

“Untuk menjadi seorang penulis yang harus kamu lakukan adalah; menulis-menulis-menulis! Tak peduli menulis apa, biarkan kata-kata mengalir-mengalir-mengaliiir.”

Seorang yang hendak menulis, pasti sudah punya gambaran mengenai apa yang akan ditulis, tidak mungkin blank seutuhnya. Ia mengatakan, pernah mendapatkan inspirasi menulis puisi dari orang gila. Orang gila yang menengoknya memalui jendela kamar saat tranfusi, terlahirlah puisi pendek.

Lelaki itu bertelanjang dada

Wara-wiri dan berteriak:

Tuhan Tidak Ada!’

“Namanya juga orang gila, pasti tidak punya Tuhan. Puisi tersebut, termasuk dalam puisi mbeling yang diasuh Remy Sylado di majalah Aktuil.”Ia menulis dan menulis, kemudian mengirimkannya. Pede-pede saja menyebarkan karya ke media. Karena sekarang, sudah sangat mudah melalui Email, bisa sharing di twitter website. Kalau zaman dulu, saya menggunakan mesin ketik. Setelah diketik kemudian di kirimkan ke pos.

Sambung

(Visited 7 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: