Yumi Firuza – Penyunting Pipiet Senja

Agaknya lelaki di sebelahku terkejut. Sontak dia membuka maskernya. Kemudian memasangkannya depan mulutku.”Tutup tuh mulut!” sergahnya, hanya samar-samar melintas dalam mimpiku.                   “Stasiun Daejeon. Harap semua penumpang yang ingin turun membawa barangnya….”

“Pemberhentian terakhir kereta. Harap penumpang memerhatikan barang bawaannya, agar tak tertinggal dalam kereta. Terima kasih atas perhatiannya.”

Seseorang menepuk bahuku dan membuatku terbangun.

”Kereta sudah berhenti, heeey, bangun Nak!”

Tersentak aku terbangun,memegang pipiku dan mendapati sebuah masker yang terpasang pada wajahku.

“Apa ini, masker? Eh, maskernya bagus, tapi ini punya siapa? Siapa yang memakaikannya kepadaku?” Penuh tanda tanya dalam otakku, aku berjalan sambil masih memerhatikan masker misterius. “Orang baik kali yang ngasih, kenapa gaje gitu ya?”

Akhirnya aku memasukkan masker ke saku bajuku. Kalau dibuang sayang, masker ini terlihat mahal dan tidak sembarang dijual.

Esoknya di sekolah, aku duduk bersama temanku dengan rapi menunggu kabar baru dari guru.

“Sebentar ya anak-anak, orangnya masih di jalan,” ucap guru kami sambil berjalan ke tempat duduknya.

“Emang ada siapa lagi, Bu?” tanya salah seorang teman.

“Oh, ada lima siswa pindahan dari luar negeri.”

Tiba-tiba seorang anak muda bertubuh tinggi, menggunakan masker dengan anggunnya memasuki kelas kami.

“Nah, akhirnya datang juga,” sambut guru. “Anak-anak, kita kedatangan murid baru. Tepuk tangan semua!” perintahguru, semua murid mematuhinya. Proook, proook, proook!

“Nah, silakan perkenalkan nama sekarang,” pintanya pula.

Anak muda yang jalan paling depan itu menyambutnya. “Nama saya Zayyan Almair Gazza, biasa dipanggil Zay. Umurku tahun ini menginjak 17 tahun, lahir di Arab Saudi. Sekarang tinggal di sekitar Seoul.” Ungkapnya sambil diakhiri dengan senyum menawan.

Ia kemudian membungkuk dan semua murid seketika melongo, terpukau dengan gerak-geriknya. Serius, seperti aktor K-Pop saja.

“Zay, kamu aslinya bangsa apa?” teriak salah seorang temanku.

“Emm, Arab campur Eropa. Ya, ibuku Arab dan ayahku Belanda!”

“Zay, buka dong maskernya!”

Zay menggeleng tegas. “Maaf, nanti saja.”

“Oke, Zay, kamu boleh duduk di samping Kyunghoon,” perintah guru.

“Baik, terima kasih,” sambut Zay setengah membungkuk, kemudian berjalan ke tempat yang sudah ditentukan.

Sejak melihatnya ada perasaan aneh di hatiku. Serasa familiar nih cowok, pikirku. Diam-diam kulirik masker yang kutemukan saat terbangun di kereta. Ketika kelas selesai, kulihat anakitusegera dikerumuni teman sekelas. Terutama oleh anak-anak perempuan, demi ingin lebih kenal dengan Zay tentunya.

Penasaran sekali dengan maskernya yang sangat mirip dengan masker di tanganku. Aku menghampirinya, spontan menarik maskernya hingga terbukalah segala ketampanannya.

“Wooooow!” seru anak-anak heboh, mengaguminya.

“Benar, kamuuuu!” sergahku.”Kamu yang menyelamatkanku dan memasang masker ini semalam, iya kan?”

Zay hanya menatapku sambil tersenyum kecil.

“Hei, Jinha! Tak sopan sekali kamu ini, haaah!” teriak Naura, menatapku kesal.

“Iya, murahan banget sih kamu! Cari perhatian saja!”

“Sana, sana pergi jauh-jauh!” Usir anak-anak lainnya, siap mengeroyokku.

Karuan aku mundur, tetapi Zay malah menghadapi anak-anak itu. Ringkas sekali ia berdiri di depanku.”Iya, aku yang menyelamatkanmu di jalan. Aha, ternyata kita berjodoh, ya?”

Sontak anak-anak menyingkir.

”Duuuuh, aku tak tahan mendengarnya!” teriak Naura, cepat berlalu diikuti teman-temannya.                 Akhirnya semua murid telah pulang tersisa aku dan Zay. Kami duduk berhadapan di bangku taman sekolah. Beberapa saat kami jadi ngobrol ngalor-ngidul. Tak terasa waktu menunjukkan pukul dua.

“Aku pamit dulu, ya. Sudah telat nih, mau sholat Zuhur…. Oya, siapa namamu?” tanyanya seolah baru tersadar.

“Jinha, bukankah tadi temanku meneriakkan namaku? Kamu Zay, ya!”

Ia melambaikan tangan dan gegas berlalu dari hadapanku. Seperti ada yang aneh dengan lengannya, pikirku. Ya, seperti goresan panjang di lengan kanannya. Beberapa saat kuperhatikan sosoknya hingga lenyap di balik gerbang sekolah.    

Eh, apa katanya tadi? Zay mau sholat Zuhur!

Artinya Zay seorang Muslim. Seperti keyakinan kakek dan nenekku. Eh, tetapi ibuku non Muslim. Sementara ayahku Muslim. Seketika aku baru menyadari ada perbedaan keyakinan di antara kami. Sejak itulah aku mulai serius mempelajari tiga agama; Islam, Nasrani dan Budha.

Bulan demi bulan berlalu, tahun-tahun pun beranjak. Lulus SMA di Seoul, aku melanjutkan pendidikan di Negeri Sakura. Negeri asal nenekku, tempat dia jumpa dengan kakekku yang berasal dari Indonesia.

“Bersyahadat demi menikah dengan Opa, ya?” suatu saat aku menanyai nenekku.

“Bukan hanya karena cinta kepada Opa, Jinha,” bantahnya terdengar serius. sedangkan tangannya, jari-jemarinya tak lepas dari tasbih kesayangannya.

“Ada alasan lain, ya Oma?” desakku penasaran.

“Oma mempelajari Islam cukup lama sebelum jumpa Opa, Jinha.”

“Oh, begitu….Terus, terus bagaimana, Oma?”

“Yah, intinya Oma kemudian yakin bahwa Islam rahmatan lil alamin. Hidayah pun memasuki hati, akal dan budi Oma….”

Selama kuliah di Negeri Sakura, aku memasuki komunitas Muslim yang anggotanya kebanyakan dari Indonesia. Sepertinenekku, akhirnya aku banyak belajar mengenai Islam dari para Muslimah.

Menjelang diwisuda, aku telah mendapatkan hidayah, meyakini Islam sebagai keyakinanku. Ketika itulah di sebuah Masjid di Tokyo aku jumpa kembali dengan cowok ganteng itu, cowok yang pernah menyelamatkanku di jalanan kawasan Seoul.

“Zay, assalamu alaikum,” sapaku ketika berpapasan dengannya di taman Masjid.

“Eh, wa alaikumussalam…. Siapa, ya?” tanyanya sekilas menatapku, kemudian cepat menundukkan pandangannya.

Ya, tentu saja siapa pun akan pangling dengan penampilanku sebagai mualaf. Dengan gamis hijau Turkish, jilbab yang senada masih ditambah cadar pula. Perlahan aku melepas cadar sekejap sampai sepasang mata biru itu seketika membelalak lebar.

“Masya Allah, subhanallah!” serunya tertahan dengan sorot mata pengaguman. “Jinha, ya Robb…. Alhamdulillah, jadi kamu termasuk yang mengucap syahadat tadi itu, ya? Maaf, aku datang terlambat.”

Zay kemudian memberi selamat dan mendoakanku, agar aku istiqomah dalam iman dan Islam. Agaknya selama ini Zay kuliah d Al Azhar, Kairo, Mesir. Ia lebih suka jauh dari keluarganya. Sebab sering dijahili oleh ibu tirinya. Tahulah aku penyebab bekas goresan luka di tangan Zay ketika SMA dulu. Ibu tiri jika sedang marah tak segan menghajar anak sambungnya dengan sabuk.

Beberapa tahun kemudian.

Kulihat Zahira, anak kedua yang baru ABG, berlari dengan jilbab di tangannya. Ia menyambut kakaknya, Zio yang baru pulang dari rumah kakeknya.“Kakak, kejutan apa?” serunya.

“Zahira! Pakai jilbabmu!” Zay berteriak mengingatkannya.

“Tak mauuuu!” balas Zahira.

“Gheeerrrr!” Zay memelototinya, galak.

Melihat suara ayahnya menggeram, Zahira seketika berhenti, cepat memakai jilbabnya sekenanya. Kulihat  ayahnya sudah akan memarahinya. Aku pun cepat-cepat menghampirnya dan berbisik, lirih. “Sayangku, jangan menakutinya. Bukankah dulu engkau selalu bersabar mengajariku?”

Zay terdiam seperti menahan perasaan.

Zahira menatap kami dan berkata.”Ummi, Abi jangan bertengkar, ya….Nih, aku sudah cantik, ya kaaan?” Ia membetulkan letak jilbabnya.

“Iya, ya…. Kamu sudah cantik begitu,” sambut Zay tertawa senang.

“Hei, mau dengar kejutan yang kubawa dari rumah Baba?” ujar Zio.

“Iya, cepat katakan!” desak Zahira tak sabar.

“Besok kita semua terbang ke Arab Saudi.”

“Umroh, yaaa?” seru Zahira senang.

“Kita naik pesawat, Ummi?” Jamshaid, Balita yang sejak tadi bermain dengan robot menghampiriku. Langsung minta digendong.

“Iya, Cintaku,” aku membungkuk dan hendak menggendongnya.

Zay cepat sekali meraih si bungsu dan menggendongnya. Kupandangi keluarga kecilku yang bergerak memasuki rumah dengan sukacita.

Seketika aku terkenang pertemuan pertamaku dengan Zay.  Siapa yang pernah mengira kami yang kerap berbantahan di kemudian hari berjodoh. Menikah, aku melahirkan anak-anak, generasi Islam memperkuat barisan Muslim sejagat. Ya, bila cinta-Nya telah menyapa, apapun bisa terjadi.

@@@

(Visited 13 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: