Pipiet Senja

Note: Buku Jenderal Jerko ini salah satu karya Pipiet Senja yang dikemas untuk Buku Inpres,1983.

Diterbitkan pertama kali oleh PT.Margi Wahyu di Ciracas. Penerbit mengemasnya dengan menarik sekaliu ntuk anak-anak. Bergambar dengan tokoh Japra nama aslinya,Jenderal Jerko yang gemesin. Beberapa tahun kemudian dicetak ulang, ulang dan ulang. Intinyanama Pipiet Senja sebaga penulis buku anak-anak mulai naiklah. Sehingga banyak juga penerbit yang pesan naskah cerita anak-anak.

Oya, bahasanya diplih dengan dialek Betawi. Karena pertamakali diminta atau diperuntukkan mata pelajaran budaya Betawi.

Baik, inilah naskah aslinya tanpa bergambar, tetapi masih ada kover bukunya cetakan kesekian oleh Penerbit Zikrul Hakim, Jakarta .

Nah, ini dia anak yang namanya Jerko.

Umurnya tujuh tahun. Badannya gemuk pendek.

Kepalanya bundar. Nggak punya rambut alias plontos.

Tampangnya lucu. Mata belo, hidung gede, pipinya tembem.

Kira-kira kayak siapa tuh, ya?

Tingkahnya suka kocak. Orang sering ketawa lihat gerak-geriknya.

Mujur, Jerko memiliki sifat-sifat yang baik.

Suka menolong, ramah, santun dan welas asih.

Deueu, Superman ‘kali, ya…

Mau tahu asal-usul nama Jerko?

Nah, kalo penasaran simak aja ceritanya.

Nama aslinya sih si Japra. Tinggalnya di dusun, jauh ke bedug.

Artinya jauh ke mana-mana gitu.

Nah, pas umur lima tahun, hobinya main perang-perangan mulu.

Saban waktu kerjanya sibuk di dunia khayalnya.

Ceritanya jadi prajuritlah.

Kalo nggak diingetin Emak, kayaknya bakal lupa segalanya.

“Shalat dulu, Naaak…” tegur Emak.

“Iya, Mak, bentaran…” sahut Jerko.

Haaak, huuk, haaak!

Pedang kayunya disabet-sabetin ke mana-mana.

Haak, huuk, heekk, ups…

“Sudah waktunya nih. Ayo, shalat zuhur duluuuu!” seru Emak.

“Eh, hehe, iya… Emang mo shalat juga!” jawabnya.

Bentaran dia ngibrit ke pancuran.

Ambil wudhu. Jungkel, jungkel… shalat ceritanya.

“Assalamualaikum… “ tengok kanan.

“Lamlekuuum,” tengok kiri. Beres deh!

Eits, makan minum dulu dong. Nyamber getuk.

4

Abiiis, sehari aja nggak ketemu getuk made in Emak…

Keleyengan tuh!

Suatu pagi…

Japra baru makan getuk sepiring. Emak siap berangkat kerja.

Japra juga siap main perang. Pedang kayu di pinggang.

Kepala plontos diikat serbet.

Pas Emak baru sampai di pintu, Japra cepat nyegat.

“Main perang-perangan dulu, Maak!” rengeknya.

“Nggak bisa, Jap. Mak kan mesti kerja. Buat makan kita.”

“Coba kalau masih ada Bapak, ya…” cetus Japra melas.

Emak trenyuh lihat anak semata wayang mendadak sedih.

“Hmm, gimana nih?” pikir Emak.

“Mau, ya Mak, maaau…”

“Tapi kalo diturutin terus kayak kemarin… Cucian segitu numpuknya!”

“Maaak, main dulu, yaa, maiiin,” Japra ngeringik terus.

Ditarik-tariknya ujung kebaya ibunya. Tapi Emak sudah bikin pilihan.

“Nggak bisa, Jap, ini udah telat!”

Emak memperbaiki kerudungnya.

“Ugh!” Japra garuk-garuk kepalanya yang plontos.

Mendadak dia bilang,”Ngapain sih Bapak ninggalin kita, Mak?”

“Husy, jangan bilang gitu!” sergah Emak. Kerudungnya ampir aja melorot.

Emak menguatkan hatinya. Sekaligus kerudungnya dong.

Nggak boleh kelewat nurutin maunya si Japra!

“Jangan menyesali takdir-Nya, Nak. Bisa-bisa kufur nikmat-Nya nanti…”

“Abiiis…”

“Mending main sama Sarjang apa Cecep gih,” bujuk Emak.

“Dua-duanya udah bosen main perang-perangan…”

“Siapa lagi yang enggak bosen? Ganti ngapa mainnya, Jap?”

“Ogah, ah! Biarin main perang-perangan sendiri aja!”

Syaap, syaaap, huuuk, heeek…!

Japra ancang-ancang nyabetin pedang kayunya. Plaaassh!

Emak geleng-geleng kepala. Tapi mana bisa marah?

5

Lha wong, gayanya kocak banget gitu sih.

“Ya, terserah kamulah. Nah, Mak pergi dulu nih!”

“Masih ada getuknya kan, Ma, bakal entaran?” kejar Japra.

Emak mengiyakannya.

“Jangan lupa beri makan ayam, ya Nak?” pesannya.

“Siaaap, Bosss…!” sahutnya.

Japra kemudian mencium tangan ibunya dengan takzim.

“Assalamualaikum…” kata Emak.

“Waalaikumussalam…” balasnya.

Nyambunglah

(Visited 11 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: