A. Prolog
Kita serasa tidak percaya setelah membaca berita yang lagi beredar di medsos, seorang ibu bunuh diri, bersama dua anaknya, dengan meminum racun.

Berita online 2022

Menurut berita yang lagi viral di jagad msya, melansir bahwa ibu ini memilih meracuni kedua putranya, lalu sang ibu sendiri minum racun dan gantung diri. Bugispos. com.

Motifnya hanya masalah ekonomi, 19|09|2022. Secara umum motif bunuh diri sejak dulu selalu dikaitkan motif patah hati, ekonomi dan kekosongan iman, dll.

Sosiologi bukan hanya sebagai almari pajangan assesories ilmu pengetahuan tetapi sebagai pisau bedah analisis masalah sosial, termasuk masalah bunuh diri bahkan dapat di kaji secara detail dan itu sudah di lakukan Emile Durkheim 1897.

Dalam catatan kuliah SDM, kita akan bahas pemikirannya yang waktu kuliah Sosiologi di Unhas di bahas dalam mata kuliah teori Sosiologi  Klasik dan modern, Andi Haris dan Gani Baso, dan berbagai sumber yang ada.

peristiwa bunuh diri yang sering kita baca yang  diekspose oleh media massa belakangan ini sebenarnya bisa dijelaskan dari kaca mata sosiologi.

Sosiologi bukan hanya tersimpan rapi di lemari sebagai assesories peradaban ilmu pengetahuan, tetapi eksis sebagai solusi problem social di masyarakat.

Prof.Andi Agustang |GB.Sosiologi UNM

Ada banyak literatur sosiologi yang mengulas tentang fenomena bunuh diri di tengah masyarakat.

Salah satu yang paling terkenal adalah Suicide (1897) karya Emile Durkheim.

Emile Durkheim berpendapat bunuh diri dapat dipicu oleh penyebab psikologis, biologis, dan fisika kosmis yang terkadang tidak dapat dijelaskan secara eksakta.

Emile Durkheim juga membagi jenis bunuh diri menjadi Empat tipe.  Jenis Bunuh Diri itu sebagai berikit :

1). Bunuh diri egostik
yang dipicu oleh keterlepasan individu dari ikatan sosial.
Individu yang tidak terintegrasi dengan lingkungan sosial cenderung berpikir suicidal. Indivudualistik yang berlebihan. Manusia yang tidak terikat oleh komunitas sosial.

2). Bunuh diri altruistik
yang terjadi akibat terlalu kuatnya individu dalam kohesivitas sosial dengan kelompoknya.

Biasanya, bunuh diri altruistik terjadi di dalam lingkungan komunitas yang masih primitif, yang menjunjung tinggi nilai nilai budayanya.

Sebab, bunuh diri tipe ini cenderung dinilai sebagai sebuah tradisi atau kepercayaan.

Bunuh diri karena merasa dirinya menjadi beban masyarakat atau karena merasa kepentingan masyarakat lebih tinggi dibandingakan dengan kepentingan dirinya, bunuh diri ini dipandang sebagai kewajiban yang dibebankan masyarakat.

Seperti masyarakat Jepang merasa malu apabila melakukan aib, atau perbuatannya menganggap dirinya jadi beban masyarakat. Seorang Jenderal yang kalah perang misalnya sebagai wujud tanggungjawab individunya terhadap beban negaranya makanya jalan terbaiknya suicide altruistik.

3) Bunuh diri anomi
yang dipicu oleh perubahan sistem dalam masyarakat, baik sistem ekonomi, sosial, dan budaya sehingga menyebabkan terganggunya sistem kolektif. Ketidakpastian akibat perubahan sistem akan berdampak pada psikologis individu.

4).Bunuh diri Fatalistik
Bunuh diri yang dilakukan seseorang karena adanya kondisi yang sangat tertekan,dengan adanya aturan, norma, keyakinan dan nilai-nilai dalam menjalani interaksi sosial sehingga orang tersebut kehilangan kebebasan dalam hubungan sosial tersebut).

Kebalikan dari anomi bunuh diri, ketika seseorang terlalu diatur , ketika masa depan mereka tanpa ampun diblokir dan nafsu kekerasan tersedak oleh disiplin menindas. Hal ini terjadi dalam masyarakat terlalu menindas , menyebabkan orang lebih memilih untuk mati daripada melakukan hidup dalam masyarakat mereka . Ini adalah alasan yang sangat langka bagi orang untuk mengambil kehidupan mereka sendiri, tetapi contoh yang baik akan berada dalam penjara , beberapa orang mungkin lebih memilih untuk mati daripada hidup di penjara dengan penyalahgunaan konstan dan peraturan yang berlebihan yang melarang mereka mengejar keinginan mereka.

Keempat jenis bunuh diri didasarkan pada derajat ketidakseimbangan dua kekuatan sosial :
(1). Pertama, integrasi sosial (2). Kedua, regulasi moral. yang Emile Durkheim mencatat dampak dari berbagai krisis agregat sosial – perang, misalnya, yang mengarah ke peningkatan altruisme , ekonomi . booming atau bencana berkontribusi anomie.

Bunuh diri istilah diterapkan untuk semua kasus kematian yang diakibatkan secara langsung atau tidak langsung dari tindakan positif atau negatif dari korban sendiri, yang dia tahu akan menghasilkan hasil ini.

Emile Durkheim 1858|1917

Menurut Emile Durkheim, bunuh diri adalah fenomena sosial. Penyebab utama bunuh diri ini adalah faktor sosial yaitu karena runtuhnya hubungan sosial atau kebalikannya, keterikatan yang kuat dari hubungan sosial.

Secara teori demikian yang telah diteliti oleh Emile Durkheim  tentang Suicide, juga melahirkan Teori Solidaritas Sosial. Yang akan kita ulas tuntas pada catatan kuliah sosiologi berikutnya.

Emile Durkheim |1858-1917|

Man cannot become attached to higher aims and submit to a rule if he sees nothing above him to which he belongs. To free him from all social pressure is to abandon him to himself and demoralize him.

Émile Durkheim, Suicide: A Study in Sociology

B. Profil Emile Durkheim
Emile Durkheim adalah filsuf dan sosiolog Perancis ternama yang dikenal sebagai Bapak Sosiologi Modern. Ia merupakan orang pertama yang mendirikan departemen sosiologi di universitas di Eropa, yakni pada 1895.

Setahun setelahnya, Durkheim menerbitkan salah satu jurnal ilmu sosial pertama berjudul “L’Année Sociologique“, yang berisi kumpulan riset tentang sosiologi. Selain itu, Durkheim juga mengembangkan banyak teori dalam ilmu sosiologi, misalnya tentang tatanan sosial serta fakta sosial.

Dalam penelitiannya, Emile Durkheim menggunakan pendekatan empiris yang digabungkan dengan teori sosiologi. Perang Dunia I yang dimulai pada 1914 berpengaruh besar bagi kehidupan Emile Durkheim.

Peperangan membuat kehidupannya kacau, terutama setelah mengetahui bahwa banyak siswanya yang harus terjun membela negara dan tewas dalam perang. Kondisi ini diperparah dengan meninggalnya sang putra dalam perang. Hancur secara emosional dan kelelahan bekerja, Durkheim jatuh pingsan dan akhirnya meninggal karena stroke pada 1917.dimakamkan di Pemakaman Montparnasse.Paris Berkat jasa-jasanya terhadap pembangunan sosiologi modern, Emile Durkheim dikenal sebagai Bapak Sosiologi Modern.

C. Kesimpulan
Durkheim memperlihatkan analisisnya tentang kekuatan sosial mempengaruhi perilaku manusia. Durkheim melaksanakan penelitian secara cermat, setelah membandingkan angka bunuh diri pada beberapa Negara di Eropa. Durkheim (1897/1966) menemukan bahwa angka bunuh diri di satu negara berbeda dengan negara lain, dan bahwa dari tahun ke tahun, tiap angka tetap stabil secara mencolok.

Sebagai contoh, angka bunuh diri dari kaum Protestan, pria, dan mereka yang tidak menikah lebih tinggi dari pada di kalangan oarang katolik, Yahudi, perempuan dan mereka yang sudah menikah. Dari sini. Durkheim menarik kesimpulan mendalam bahwa bunuh diri bukanlah semata – mata pada individu yang memutuskan bunuh diri karena alasan pribadi.

Faktor sosial memberi peran melandasi tindakan bunuh diri, dan hal ini membuat angka setiap kelompok cukup konstan dari tahun ke tahun. Selanjutnys Durkheim mengindentifikasi integrasi sosial, derajat keterikatan manusia pada kelompok sosialnya, sebagai faktor sosial kunci dalam tindakan bunuh diri. Faktor inilah katanya, yang menjelaskan mengapa orang protestan yang pria dan orang yang tidak menikah mempunyai angka bunuh diri yang lebih tinggi.

Argumen Durkheim adalah Protestanisme mendorong kebebasan lebih besar dalam berfikir dan bertindak, pria lebih mandiri dari pada perempuan. Begitupun halnya dengan perang atau depresi ekonomi dapat menciptakan perasaan depresi kolektif yang selanjutnya dapat meningkatkan angka bunuh diri. Dengan kata lain, karena integrasi sosial mereka lebih lemah, anggota kelompok tersebut memiliki lebih sedikit ikatan sosial yang mencegah orang untuk melakukan bunuh diri.


Makassar, 20 September 2022.

“Setiap generasi baru dipelihara oleh pendahulunya; karena itu yang terakhir harus ditingkatkan untuk meningkatkan penggantinya. Gerakannya melingkar.”

Emile Durkheim

Dr. Sudirman, S. Pd., M. Si. |[Aku membaca maka aku menulis]

Harap Ingat Bunuh diri adalah sebuah tindakan yang tidak dibenarkan oleh Norma, agama dan negara,.

Bijak dalam berilmu, ulasan ini hanya sebuah catatan kuliah Sosiologi buat mahasiswa saya hanya untuk memahami dan menambah wawasan ilmu pengetahuan sosiologi.

Dr. Sudirman, S. Pd. M. Si. |Dosen Sosiologi
(Visited 1,053 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sudirman Muhammadiyah

Dr. Sudirman, S. Pd., M. Si. Dosen|Peneliti|Penulis| penggiat media sosial| HARTA|TAHTA|BUKU|

One thought on “Catatan Kuliah SDM: Pemikiran Sosiolog Emile Durkheim tentang Bunuh Diri”
  1. Terimakasih pak bacaannya, tindakan apapun TDK ada yang membenarkan seseorang bertindak mengakhiri hidupnya. Sanksi sosial,tekanan mental seseorang,TDK adanya dukungan dan support sistem dari keluarga atau orang terdekat bahkan dari masyarakat membuat seseorang melakukan tindakan yang Qt fikir “bodoh atau bunuh diri”. Mungkin Qt mengira orang tersebut TDK punya iman. Tapi dibalik itu semua ada mental psikis yang menurut individu yang melakukan tindakan tersebut itu jalan keluar satu-satunya. Tapi percayalah “You not Alone” walaupun TDK ada manusia didunia yang mensupport Qt tapi Tuhan hadir bersama Qt. Itulah Pentingnya Pendidikan dini tentang kekeluargaan,saling menolong,tenggang rasa,iba ,dan empati harus ditanamkan sejak dini. Karena setiap manusia akan selalu berbeda cara pandangnya dalam melihat suatu perkara,ujian,atau cobaan dalam hidup ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.