Eni Sumarni – Penyunting Pipiet Senja

Dalam remang cahaya malam, sayup kudengar suara Ayah dan Ibu mengobrol diselingi suara isak tangis. Sejenak kutajamkan pendengaran memastikan suara itu. Langkah ini berhenti tepat didepan kamar Ayah dan Ibu. Memang tak sopan menguping seperti ini, tetapi rasa penasaran membuat diri ini ingin tahu sebabnya.

Sayup dan pasti Ibu masih tersedu-sedu dalam tangisnya. “Apakah Ibu sakit?” batinku dengan berbagai pertanyaan.

“Apalah, Yah. Ibu ini capek jadi tontonan para tetangga. Ditagih setiap hari sama orang kaya baru itu,” ucap Ibu sambil sesenggukan.

“Sabar ya, Bu. Ayah juga lagi berusaha mencari uberan nih,” jawab Ayah terdengar sedikit kasar.

“Ya enak Ayah nggak dipermalukan. Ibu sampai bingung nih muka mau taruh mana,” protes Ibu yang semakin keras tangisnya.

Aku yang mendengar hal itu kaget bukan kepalang. Pasalnya aku hanya sekolah dan belajar yang bisa aku lakukan. Tak mengira juga kalau Ayah dan  Ibu memiliki utang untuk menopang hidup kami.

“Aku kerja saja setelah lulus nanti,” gumamku dan berlalu dari depan kamar Ayah dan Ibu.

Hati anak mana yang tega mendengar orang tuanya  dipermalukan karena utang. “Andai ada pasti sudah aku lempar uang ke muka orang kaya baru itu,” geramku saat sudah di dalam kamar.

Seiring waktu berlalu, seiring nyinyiran orang yang membuat hatiku begitu geram dan ingin menyimpannya. Aku pun lulus sekolah dengan nilai yang memuaskan.

“Apa aku saja yang jadi orang miskin dan harus dihina. Tunggu saja suatu saat nanti akan ku sumpal mulutmu,” sergapku sambil menggeser-geser layar ponsel mencari informasi kerja.

Mataku tertuju akan sebuah informasi menjadi seorang PMI. “Tapi apa harus aku menjadi PMI?” lirihku sambil mengerutkan dahi.

“Menurut berita banyak yang kena masalah karena majikan jahat, tak digaji, bahkan ada yang diperkosa, ngeri,” gumamku ketakutan.

Sejenak aku baca komen-komen di akun yang tertera lowongan itu. “Ini ada yang cerita, hidupnya sekarang menjadi mapan dan sukses.”

“Wah,  kepingin juga seperti ini.” Aku pun bicara sendiri seperti orang lagi berperang.

Kembali kukerutkan dahi sambil berpikir. “Kalau bekerja di Indonesia gajinya sedikit, kalau di luar negeri banyak dan bisa menyumpal mulut orang kaya baru itu.”

Hampir sebulan aku tanya sana-sini dan menyakinkan diri. Akhirnya kuputuskan untuk merantau, dan Taiwan menjadi negara tujuanku. Kubuang jauh-jauh pikiran yang membuat berat langkah ini. Hanya satu sikap optimis untuk membantu orang tua membayar utang dan masa depan.

Proses memang memang lumayan harus menunggu beberapa bulan baru bisa terbang. Gemblengan-gemblengan di PT (Pusat Tenaga Kerja) menjadi modal dan bekal menuju negara tujuan. Aku belajar bahasa dasar maupun praktek berbagai cara mengasuh dan menjaga orang jompo dan sakit.

Berat jauh dari orangtua, apalagi aku masih suka bermanja, selama ini tak kenal bekerja berat. Hampir setiap malam airmata ini menetes merindukan mereka.

“Andai aku boleh memilih,” kembali segera kuseka airmata yang membasahi pipi.

“Ina, kamu di sini kerja bukan untuk melamun,” protes nenek yang kujaga.

Mungkin karena usia membuatnya begitu rewel bahkan jarang tidur di malam hari. Rasanya pingin ngasih obat tidur, biar nenek itu bisa tidur. Tetapi aku pun takut akan aturan dari dokter.

“Tidur kenapa sih, Nek. Ina ngantuk,” jawabku.

“Kamu itu kerja bukan untuk tidur,” sergahnya terdengar geram.

Galaknya membuat aku sering menangis dan ingin pulang saja. Tetapi untung majikan baik kepadaku. Mereka memahami akan sikap orangtuanya yang rewel. Sehingga membuat mereka tak pernah memarahiku.

Bulan berganti bulan, aku mulai terbiasa menghadapi rewelnya nenek. Hingga tak terasa setahun sudah kulewati. Majikan mengizinkanku libur membuat hari berlalu terasa cepat. Kerinduan untuk kedua orangtua sangat menumpuk, tetapi rasa puas membuatku sedikit melupakan kata rindu itu.

“Orang kaya baru, sekarang orangtuaku sudah bebas dari jeratan utangmu. Kini saatnya membuktikan kalau keluarga kami juga bisa menjadi keluarga mapan,” geramku sambil mencoret-coret kertas.

Kini aku bisa bekerja sambil berjalan-jalan. Setiap liburan kumanfaatkan waktu untuk menikmati indahnya Negeri Formosa. Berkumpul, bermain dan belanja bersama teman-teman.

Pada suatu ketika diri ini terpesona oleh seorang pria tampan yang begitu terlihat bijaksana dan ulet bekerja. Rasanya lagi berada dalam film Drakor, mendapatkan lelaki pujaan. Sambil menyelam minum susu mungkin itu yang bisa kuungkapkan. Bagaimana tidak! Aku bekerja bisa membayar utang orang tua, bisa mengumpulkan modal untuk masa depan, dan kini mendapatkan pendamping hidup.

Serasa waktu begitu cepat berlalu, tetapi anggap saja ini rezeki dari Allah untuk diriku. Sikap rewel nenek semakin lama bagai sebuah kidung di telinga ini. Mau jawab alus atau ladang berantem sudah hal biasanya. Yang namanya nenek juga begitulah. Kadang bersikap begitu baik seperti tak ada masalah, tetapi kadang ingin aku tinggal pulang saja karena rewelnya.

“Ina, Nyonya tak masalah kamu berdebat dengan nenek, asal kamu jaga dia baik-baik. Kami maklum bagaimana rewelnya nenek,” ucap majikan membuatku tenang saat melihat aku dan nenek sedang berantem.

“Ya, Nyonya. Maafkan saya jika kadang berantem dengan nenek,” jawabku sambil menunduk.

“Tak apa-apa, kamu sudah makan belum?”

“Sudah Nyonya, terima kasih.”

Ya, kata terima kasih itulah yang tak boleh ketinggalan. Di setiap hal apapun kata itu tak pernah luput terucap dari mulut orang Taiwan. Entah lagi bicara dengan pembantunya, maupun dengan orang lain. Sungguh sopan-santun ini patut diacungi jempol.

Karena kebaikan majikan membuatku bisa bekerja sampai finish kontrak, dan pulang membawa hasil yang harus sangat aku syukuri. Dengan keterampilan dan keahlian yang kudapat selama bekerja di Taiwan, ternyata bisa buat modal membuka usaha di rumah. Dia cowok yang menjadi pacarku selama di Taiwan menepati janjinya. Dengan gagah berani ia melamarku dan mempersuntingku.

Mungkin terlalu dini aku menikah tetapi di kampung usia 22 tahun sudah wajar untuk memulai sebuah rumahtangga. Tiga tahun dalam rantau sudah menjadi bekal memahami apa arti rumah tangga.

Restu orang tua bersamaku dan kini suami ikut bersama kami tinggal.

“Mas, aku boleh usaha ya?” tanyaku saat mengobrol bersama.

“Usaha apa, Dek?”

“Sekarang kan banyak orang malas keluar rumah, bagaimana kalau aku bikin pizza dan hamburger made home sedang Mas yang jadi kurirnya?”

Sejenak suami mengerutkan dahi memikirkan sesuatu, mungkin agak berat baginya karena keinginan untuk merantau masih kuat.

“Mas, aku nggak maksa kok. Ini cuma usul saja,” ucapku sambil menunduk.

Sungguh dia sosok seorang imam yang pantas dipuji. Dengan kesabaran dan rasa sayangnya, ia pun mengabulkan keinginanku.

“Baiklah Dek, Mas beri waktu setahun. Kalau setahun usaha itu tak jalan, Mas berangkat merantau lagi,” tuturnya dengan halus, membuatku semakin sayang dan menghormati keputusannya.

Dengan penuh semangat aku ubah akun facebook menjadi akun bisnis dan sebarkan promosi. Atas restu orang tua dan suami, serta welcome dari tetangga-tetangga serta teman, kata berhasil itu membuat kami tersenyum bahagia.

Sungguh semakin hari usaha yang aku tekuni berkembang dan terkenal hingga keluar kota tetangga. Suamiku kini tak jadi merantau, kami telaten usaha dan tetap menjaga hubungan yang harmonis. Sekarang bisa kubuktikan kepada masyarakat kalau PMI itu bukan orang yang hina dan menjijikkan. PMI adalah pejuang yang hebat, hingga membuat orangtua menjadi bangga. Tak apa tak mengenyam sekolah tinggi, asal tak merepotkan orangtua sudah suatu kebanggan tersendiri buatku.

Jangan jadikan nyinyiran orang sebagai pelemah mental dan memancing emosimu. Buatlah sebagai semangat untuk menjadikan hidup yang lebih baik. Apapun baik dikerjakan asal di jalan yang benar, halal. Jangan malu bekerja apapun. Karena sukses tak akan begitu saja tanpa sebuah perjuangan dan pengorbanan.

Topang hidup dengan keringat sendiri agar kau bisa merasakan sebuah kepuasaan yang hakiki. Sedikit tetapi bermanfaat lebih indah dibanding banyak tetapi milik orang tua atau warisan. Tanpa kau mengerti kata lelah tak akan kau pahami arti hidup, tanpa kau tahu tersakiti tak akan tahu tujuan hidup. Tetap optimis dan semangat, buktikan kalau seorang PMI pun bisa menjadi hebat.

@@@

.

(Visited 8 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: