Jassy Ae – Penyunting Pipiet Senja

Jika PMI adalah penyumbang devisa negara, apakah PMI juga bisa disebut sebagai  aset negara atau aset keluarga? Pekerja Migran Indonesia atau lebih sering kita sebut sebagai PMI adalah pahlawan negara dan keluarga. Bagaimana tidak?

Jika pada tahun 2017, PMI masuk 10 besar penyumbang devisa terbesar di Indonesia. Data berdasarkan dari BPS (Badan Pusat Statistik) dan Kementrian Perindustrian. PMI sendiri menempati urutan atau peringkat keenam.

Dalam struktur rumah tangga atau keluarga pun, PMI adalah aset. Mereka rela meninggalkan orangtua dan keluarga. Apalagi bagi mereka yang sudah memiliki anak, tentu ini tak mudah, namun mereka tetap maju dan berjuang di negara orang. Mereka berangkat dengan tujuan yang berbeda dan impian yang beda, namun intinya tetap sama, yaitu gaji yang berlimpah dan mengupayakan kehidupan layak untuk keluarganya.

Tercatat pada tahun 2019 PMI di Taiwan sebanyak 79.574 dan di Hong Kong ada 70.840. Tentu ini adalah angka yang fantastik untuk sebuah sektor tenaga kerja. Setiap individu PMI selalu punya peranan penting dalam kehidupan di kampung masing-masing. Walaupun tak jarang dari mereka pulang tanpa keberhasilan, bahkan banyak pula yang pulang tinggal nama. Namun semangat juang para PMI adalah harapan keluarga. Keberhasilan mereka adalah impian keluarga masing-masing.

Tak jarang pula, PMI ini selalu dianggap sampah masyarakat, mereka yang tak tahu menahu tentang kehidupan PMI pun selalu menyebut mereka “hanya babu” hal yang masih diyakini masyarakat Indonesia adalah jika babu adalah makhluk rendahan tanpa ketrampilan apapun. Menjadi PMI sudah seharusnya memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk mensejahterakan keluarganya, apapun yang terjadi PMI adalah tumpuan bagi kelurga di rumah.

Peranan mereka penting, memperbaiki perekonomian keluarga dan upaya membangun usaha demi kelangsungan hidup mereka ketika pulang dan menjadi PMI purna. Namun tak sedikit juga dari mereka kadang hanya dijadikan kambing hitam keluarga, diperas tiap bulan hanya untuk gaya hidup keluarganya di kampung halaman.

Ada pula yang justru salah jalan, berfoya-foya di negara orang, namun lupa dengan keluarganya di rumah. Karena setiap PMI pasti punya keunikan dan cerita sendiri-sendiri. Jadi, apakah PMI itu aset negara atau aset keluarga?

Apapun bentuk peranan PMI bagi keluarga, mereka adalah pahlawan, pejuang yang wajib dilindungi negara. PMI berangkat ke negara tujuan pun tidak gratis dan resmi tercatat di kementrian ketenagakerja Indonesia. Hal yang miris terjadi dalam dunia PMI adalah angka perceraian. Entah dari segi orang ketiga atau bahkan mereka dengan gamblang menjelaskan alasan bercerai karena tak mampu LDR (Long Distance Relationship) atau berhubungan jarak jauh dengan pasangan halal mereka.

Entah pula ini suatu alibi untuk mereka mampu hidup bebas di negara orang. Satu dua orang bersikap negatif, maka seluruh PMI di negara manapun pasti kena imbasnya. Namun, ada pula sebagian dari mereka sukses LDR sampai batas kontrak kerja dalam perjanjian. Keluarga sendiri pun sebenarnya punya peranan penting dalam keberhasilan PMI itu sendiri.

Menyemangati tentunya dan menunjukan kepedulian entah lewat telpon atau surat menyurat. Atau mungkin dengan mengelola keuangan yang PMI kirimkan ke keluarga dan dijadikan sebuah usaha dan tabungan. Misalnya dibelikan kambing, sapi dan dirawat, lambat laun sapi pun mampu beranak pinak dan mampu menjadi tabungan di masa nanti. Sukses tidaknya PMI adalah kekompakan antara keluarga dan PMI itu sendiri.

Peranan penting PMI bagi struktur keluarga yang wajib digaris bawahi adalah ia mampu membawa anak-anak mereka ke jenjang pendidikan yang tinggi. Tak jarang jika para ibu-ibu PMI itu menjadi dokter, polisi, tentara. Semua adalah bentuk wujud kerja keras sang ibu yang jatuh bangun menjadi Buruh Migran Indonesia meskipun tak jarang dari mereka menahan rindu pada anak-anaknya, tapi tetap melanjutkan kontrak kerja mereka dengan tak memedulikan rindu yang menggerogoti jiwa-jiwa mereka.

Di sini walaupun peran ibu yang sebagai PMI sangat penting bukan berarti para suami tak mampu berperan di dalamnya. Suami yang benar, di rumah ia pun harus bekerja demi menafkahi anak istri. Walaupun tak sedikit dari para suami ini sendiri justru malah menjadikan istri sapi perah. Tiap bulan terima uang, dihambur-hamburkan lalu ia sendiri pergi ke sana ke mari mencari wanita lain. Di sini mulailah timbul hal yang tak diinginkan yaitu perceraian. Hal yang ditakutkan bagi kaum hawa yang akan berangkat jadi PMI di negara orang.

Menjadi PMI memang bukanlah kewajiban bagi seorang ibu rumah tangga. Namun sulitnya para suami memenuhi kebutuhan sandang pangan untuk keluarganya, membuat hati wanita bergerak membantu perekonomian keluarga dengan menjami PMI. Karena jika suami atau pria yang bekerja sebagai PMI prosesnya lama dan menghabiskan uang kurang lebih 45 juta (info dari salah satu PMI purna di Malang tahun 2011) tujuan negara Taiwan.

Nah bagi mereka, jika memiliki uang 45 juta kenapa harus pergi? Kenapa tidak buka usaha kecil-kecilan. Itulah mengapa justru sang istri yang pergi karena tanpa dipungut biaya, hanya potong gaji saja. Lalu kenapa proses TKL (Tenaga Kerja Laki-laki) biayanya sangat fantastik? Hanya Tuhan dan pemerintahan yang tahu.

Kembali pada peranan PMI, kadang kita harus bangga jika melihat para PMI yang mampu mengubah kehidupan keluarganya. Contoh kecil saja, dari yang dulu rumah mereka dari papan kayu dan lantai tanah, karena salah satu keluarganya menjadi PMI, maka lama kelamaan mereka niat membangun rumah jadi rumah tembok dan berlantaikan keramik.

Dari yang mereka gak punya sawah, pelan-pelan mampu membeli sawah sebagai sumber pangan keluarga sehari-hari. Tanpa menjadi PMI mungkin mereka akan kesusahan mewujudkan mimpi tersebut. Meskipun kadang mereka di seberang sana sangat ingin berkumpul keluarga, namun mereka sadar tanggung jawab pada mimpi dan sebuah harapan harus diwujudkan. Bentuk dasar rasa tanggung jawab itu sendiri kadang berasal dari niat dan dukungan keluarga juga.

PMI tak selamanya berjalan mulus. Seperti kasus Erwiana, PMI Hong Kong asal Ngawi, Jawa Timur yang pada tahun 2013 menggemparkan dunia karena kasus kekerasan. Bahkan pada April 2014 majalah TIME menulis edisi baru tentang Erwiana dan menempatkan dalam daftar kategori “Icons” yaitu inspirasi bagi Buruh Migran Indonesia melawan kekerasan. Namun nyatanya tak sedikit di luar sana banyak penyiksaan PMI yang jarang di ekspos. Jika sudah demikian masih pantaskah PMI disebut aset?

Memang peranan PMI sangat penting bagi keluarga mereka. Mereka, para PMI mampu membangun rumah megah, membeli sawah, mobil mewah dan mampu menyekolahkan anak sampai jenjang yang mereka inginkan. Namun apakah masih ada di antara keluarga yang mungkin memikirkan nasib PMI itu sendiri. Misal jam istirahat kapan? Kurang atau tidakkah? Makanan cukupkah? Bahkan kadang keluarga di rumah pun tak peduli tentang ini. PMI adalah bentuk nyata manusia-manusia kokoh, pejuang keluarga dan mampu rela jatuh bangun demi kesejahteraan keluarga.

Hal yang membuat PMI mampu tersenyum bangga adalah jika uang yang ia kirimkan bisa menjadi wujud nyata, menjadi usaha kecil-kecilan mungkin yang sanggup menopang kebutuhan sehari-hari. Bukan hal yang aneh lagi jika kadang PMI pulang ke tanah air ia menjadi bos besar sebuah usaha rumahan. Karena sukses tidaknya PMI itu tergantung kerja sama antara kedua belah pihak, keluarga dan PMI.

Peranan yang sangat tak diragukan adalah mampu mencukupi sandang pangan papan sebuah keluarga dan di sini, peran suami hilang, inilah kadang pemicu retaknya sebuah rumah tangga. Setiap PMI selalu punya harapan entah itu harapan yang sederhana sampai hal yang di luar batas. Namun jika semua berangkat dari niat kenapa tidak? Tidak ada hal yang tak mungkin terjadi.

Jika peranan PMI sangat penting bagi struktur keluarga, tentu peranan keluarga pun juga penting bagi PMI. PMI hidup di perantauan tanpa sanak saudara, di sana mereka bertemu dan bergaul dengan berbagai macam watak manusia, ada yang baik ada yang buruk, kadang tanpa pegangan iman yang kuat, PMI juga mampu terjerumus pada kehidupan yang membahayakan atau justru menghancurkan.

Di sinilah peran keluarga dibutuhkan, mungkin dalam bentuk perhatian, nasehat hidup dan menyemangati apapun yang terjadi di luar negeri. Karena jarak yang jauh, maka kadang kata-kata keluarga adalah mantra bagi PMI di luar sana.

Hal yang mungkin menjadi peranan PMI dalam menguatkan struktur keluarga adalah hidup mapan. Mapan di sini adalah dalam bentuk sederhana, jika mungkin dulu bapak ibunya adalah buruh tani, mungkin setelah anaknya jadi PMI justru bapak ibunya akan menjadi juragan di sawah. Hal seperti ini adalah yang diimpikan para orangtua di kampung halaman. Tidak muluk-muluk memang, namun kelangsungan hidup sederhanalah yang diharapkan. Walaupun sederhana jika tanpa ada niat dari PMI itu sendiri semua nihil hasilnya.

Peranan PMI dalam penyumbang devisa juga tak diragukan lagi. Namun tujuan mereka menjadi PMI memang bukan bertujuan membantu devisa negara, namun untuk kesejahteraan keluarga masing-masing, walaupun kadang mimpi mereka diremehkan namun mereka tetap maju dan semangat demi menyongsong masa depan gemilang.

Kadang pemerintah pun menyulitkan proses mereka. Dengan biaya mahal pun itu adalah hal tersulit bagi calon PMI. Namun demikian tak mampu menyurutkan niat mereka menjadi PMI dan meraih mimpi. Mimpi yang mungkin akan dianggap hal yang tak mungkin bagi sebagian masyarakat. Semangat juang merekalah yang nantinya akan mengantar mereka ke pintu gerbang kesuksesan.

Mimpi menjadi PMI memang tak ada, namun keadaan dan nasib hidup manusia memang tak ada yang tahu. Jika dulu cita-cita menjadi dokter dan berakhir menjadi PMI, tak apa. Masih ada anak, masih ada harapan, masih ada cahaya kesuksesan di depan sana.

Meski kadang anak pun selalu merasa tak dicintai. Bapaknya jarang pulang karena menjadi PMI, ibunya tak mampu menemani masa kanak-kanaknya karena menjadi PMI. Namun semua demi anak dan keluarga, demi secuil mimpi di depan sana yang menjadi tanggung jawab dan PR besar bagi para PMI. Hal yang mungkin sukar diungkapkan bagi para ibu yang terpaksa meninggalkan anak-anaknya.

Mimpi PMI tak setinggi mimpi pejabat. Bagi PMI, keluarga tak kelaparan, rumah tak kebocoran, utang tak ada, ada tabungan, ada sawah buat menanam padi itu sudah berkah. Namun kadang perjalanan PMI tak selalu baik. Banyak sekali cobaan di tempat kerja di negara ia ditempatkan. Bahkan jika iman tak kuat, hati tak niat yang ada mereka kabur dari tempat kerja,.

Seperti kejadian salah satu PMI Hong Kong tahun 2007 ia kabur dari majikan hanya gara-gara kena omel menyapunya kurang bersih. Karena mental belum kuat yang ada dalam pikiran dia adalah kabur. Kabur menjadi pilihan terakhir jika memang hati tak tahan dengan keadaan, mungkin di sini peran keluarga kurang.

Kurang perhatian, kurang komunikasi sehingga PMI ini merasa hidup sendirian. Ini bukan salah PMI namun adalah proses, perjalanan jika memang pengalaman dan mental yang kuat itu diperlukan untuk menjadi PMI. Mental para PMI ini bukan kaleng-kaleng. Mereka semua cerdas, dan mampu pula mereka di negara orang mendirikan organisasi-organisasi, bahkan mereka melanjutkan pendidikan sampai S1.

Peranan penting dalam keluarga yang tak kalah penting adalah menjadi tumpuan. Entah tumpuan atau aset namun para PMI ini melakukan dengan ikhlas. Membantu keuangan keluarga, bahkan jika ada saudara yang butuh uang pasti larinya ke keluarganya yang menjadi PMI. Menjadi PMI pun tak gampang dari sudut pandang masyarakat.

Mereka selalu berfikir negatif jika PMI kirim uang banyak. Mereka pula akan punya pikiran negatif jika PMI tak kirim uang, apapun bentuk dan cerita tentang PMI bagi mereka adalah aib. Entah mereka menganggap PMI itu apa. Babu. Kata mereka.

PMI yang sukses bukan ia yang tampil bak sosialita, tampilan modis dan gaya hidup mewah, namun ia PMI sukses adalah yang mampu pulang ke kampung halaman membawa ilmu, membangun lapangan pekerjaan bagi orang lain, yang mampu berguna bagi orang lain, tidak hanya keluarganya saja.

PMI sukses juga tak dapat dilihat dari lama tidaknya ia pergi, namun dari perilaku ia setelah pulang dari negara penempatan, ia jadi apa di kampung sendiri. Alih-alih menjadi bos dalam suatu bisnis dan membuka lapangan pekerjaan dan itu harapan semua orang.

Dampak negatif pasti ada ketika seseorang memutuskan menjadi PMI. Jauh dari keluarga yang pertama, belajar mandiri, belajar tanggung jawab dengan pilihan sendiri, karena menjadi PMI tentunya bukan paksaan dari keluarga. Dan keluarga? Adalah harapan serta tanggung jawab yang harus dituntaskan. Baik buruknya PMI, ia selalu punya peranan positif dalam keluarga. Meski kadang jarang diakui oleh mata yang melihat, namun PMI tetaplah aset. Entah aset negara atau aset keluarga. Aset tetaplah aset. (Malang, 10 Desember 2020)

@@@

(Visited 10 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: