Grup Perjuangan – AJ Suswana – Penyaji Pipiet Senja

Wajah Oto Iskandar Di Nata tentunya sangat populer bagi rakyat kebanyakan karena menjadi gambar penghias mata uang kertas Republik Indonesia, pecahan Dua Puluh Ribu Rupiah, keluaran Bank Indonesia tahun 2004.

Oto Iskandar Di Nata sendiri pada tanggal 10 November 1973 diangkat Pemerintah Republik Indonesia sebagai Pahlawan Nasional. Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang pun membangunkan sebuah monumen perjuangan untuk mengenang Oto Iskandar Di Nata di tengah-tengah jalan pertigaan di Mauk, Kabupaten Tangerang. Pun di Bandung Utara, Lembang, didirikan Monumen Pasir Pahlawan untuk mengenang Perjuangan Oto Iskandar Di Nata.

Walau begitu populer wajah Oto Iskandar Di Nata, barangkali nama singkatannya yaitu Otista, masih lebih populer dibandingkan dengan penyebutan Oto Iskandar Di Nata sebagaimana yang tertulis dalam pecahan uang kertas dua puluh ribu rupiah itu.

Atas jasa-jasanya kepada Republik itu, beberapa jalan pun diberi nama Otista seperti misalnya jalan besar di Jakarta Timur yang cukup strategis yang sering diucapkan orang: membentang dari Terminal Kampung Melayu menuju Jl Dewi Sartika yang mengantarkan ke Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, di Jakarta Selatan. Selain di Jakarta Timur itu, Otista juga menjadi nama jalan di Bandung dan tentu saja di Mauk dan di Tangerang. Jalan Raya Otista (tanpa keterangan nama panjangnya: Oto Iskandar Di Nata) di Kota Tangerang terletak setelah jalan Merdeka dan sebelum Jl Moh. Toha yang mengantarkan menuju Jl Raya Mauk yang bagi Otista: Jalan Raya Mauk adalah Via Dolorosa, jalan raya yang mengantarkannya pada maut.

Otista adalah pahlawan nasional yang tak tentu kuburnya. Kematiannya diselubungi misteri yang belum terpecahkan hingga kini: menunjukkan penuhnya intrik dan fitnah sejak pendirian Republik Indonesia. Intrik dan fitnah itu justru terjadi di lingkaran elit Republik.

Bayangkan, dari berbagai keterangan yang didapat: Otista adalah Menteri Keamanan di kabinet awal Republik yang didirikan. Waktu itu ia di Bandung, tiba-tiba mendapat telegram (telepon?) dari Pemerintah Pusat untuk segera hadir di Jakarta. Ia pun bersegera datang tanpa mengindahkan peringatan dari keluarga agar tidak hadir karena bisa saja itu perintah palsu. Otista pun mampir ke rumahnya di Jakarta di jalan Kapas no 2. Di rumah itulah, Otista diculik oleh anggota Laskar Hitam Tangerang. Otista setelah peristiwa itu masih sempat berkirim surat kepada isterinya, Raden Nyi Soekirah, untuk mengabarkan kondisinya. Ia mendekam di rumah tahanan Tanah Tinggi dari tanggal 10 Desember sampai 15 Desember.

Dari tahanan Tanah Tinggi, lantas dipindahkan ke Rumah Tahanan Mauk, sekarang kantor Pegadaian Mauk. Tanggal 20 Desember, Otista dieksekusi mati oleh anggota Laskar Hitam di pesisir Pantai Mauk dengan dipancung dan jasadnya dikubur (atau dibuang?) entah di mana; kesimpulan yang mengemuka: dibuang ke laut.

Otista walau salah satu menteri Negara tapi seakan begitu mudahnya diculik dan dieksekusi mati oleh suatu kelompok (dalam hal ini adalah Laskar Hitam Tangerang) tanpa peran yang berarti dari Pemerintah Republik untuk bernegosiasi dengan para penculik dan mencegah eksekusi mati. Peristiwa itu terjadi 4 bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan. Dengan begitu Otista adalah orang yang pertama kali menjadi korban penculikan hilang dan mati dalam sejarah pendirian Republik Indonesia. Penculikan dan kematian Otista baru dipersoalkan 14 tahun kemudian dengan tertuduh tunggal Mudjitaba bin Murkam.

Mudjitaba waktu itu berumur 27 tahun, orang kedua dalam kepemimpinan Laskar Hitam dan Kepala Intelijen untuk Direktorium pimpinan Haji Achmad Chairun, yang juga dikenal sebagai Bapak Rakyat Tangerang. Pengusutan lebih lanjut untuk mencari dalang pembunuhan Otista selain Mudjitaba yang mungkin hanya pelaksana lapangan ditolak pengadilan.

Ben Anderson, mengenai nasib malang Otista ini, menulis:
“Barangkali adalah karena gerakan pemuda itu lebih bersifat revolusioner daripada politik sehingga sangat sukar baik untuk menguasainya maupun untuk meramalkan arahnya. Di kota-kota besar, tempat terdapatnya pemusatan-pemusatan pasukan-pasukan Inggris dan Jepang, pasang naik pemuda mengalir menyerang mereka sebagai musuh-musuh kemerdekaan yang paling kelihatan dan paling kuat. Di tempat-tempat ini para politikus tua, pangreh praja, dan polisi dilampaui, wewenang mereka sebagian besar diabaikan. Hanya jika mereka diketahui telah mengkhianati kemerdekaan dengan menempatkan diri segaris dengan musuh maka gerakan pemuda benar-benar secara langsung menentang mereka. Oto Iskandardinata yang malang itu membayar dengan jiwanya penghinaan coup de force Mabuchi. (Ben Anderson, Revoloesi Pemuda, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1988;215)

Pola yang sama seperti yang berlaku pada Otista akhirnya diikuti dengan eksekusi tanpa tanggung jawab dan pengadilan terhadap menteri-menteri Negara berikutnya seperti eks Perdana Menteri Amir Syarifuddin dalam Peristiwa Madiun 1948, Menteri Negara Aidit dan Nyoto dalam Peristiwa 1965; termasuk di sini adalah para jendral yang diculik dan dieksekusi kelompok yang menamakan diri: G 30 S. Pun Komandan Gerakan 30 September (G30S) Letkol Untung Samsuri yang diambil dari selnya di Penjara Cimahi, Bandung, kemudian dieksekusi di sebuah desa di luar Kota Bandung.

Mengenang Otista dan cara kematiannya, kita akan menemukan model yang sama untuk beberapa pejuang Republik: penculikan dan pembunuhan dengan jasad hilang hampir tak berbekas. Mereka yang pernah diculik: Bung Karno dan Bung Hatta, kembali dengan selamat dan memimpin Proklamasi Kemerdekaan; Perdana Menteri Sjahrir diculik dalam Peristiwa 3 Juli 1946, kembali dengan selamat.

Tan Malaka, hilang dan dijadikan Pahlawan Nasional juga; lalu Otista sendiri. Penculikan terus terjadi menjelang kejatuhan Bung Karno sebagai presiden; semakin menjadi sesudahnya terhadap simpatisan Komunis dan Sukarno; dan terus terjadi terhadap rakyat yang kritis kepada Jendral Soeharto, orang kuat Orde Baru sepanjang tiga dasawarsa kekuasaannya hingga hari-hari akhir keruntuhannya.

Barangkali selubung misteri kematian Otista dan selubung misteri kematian orang-orang kritis di Republik ini dapat dibuka dan ditemukan jasadnya asalkan ada kemauan politik dari para pemangku Republik. Tidak sulit menemukan mereka yang hilang: mereka yang terkubur menjadi fosil saja masih bisa diidentifikasi. Soalnya adalah kedewasaan politik Republik dan bagaimana memandang Republik Indonesia ke depan.

Untuk ini kita bisa bercermin pada kata-kata Bung Karno yang dipahatkan di Tugu Tani yang berdiri kokoh di tengah keramaian jalanan di Jakarta: “Hanja bangsa jang menghargai pahlawannja dapat mendjadi bangsa jang besar”.

AJ Susmana

(Visited 11 times, 1 visits today)

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: