Oleh: Gugun Gunardi*

Peribahasa mengatakan, ‘Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi”.
Maknanya: ‘Jika tidak rajin dan giat belajar, tak akan tercapai cita-cita kita’.
“Ilmu lebih tua daripada harta”.
Maknanya: ‘Ilmu tak akan habis, sedangkan harta bisa habis’.
“Tidak ilmu suluh padam”.
Maknanya: ‘Orang bodoh akan tak tahu keadaan di sekitarnya dengan ilmu kita bisa meraih apa yang kita cita-citakan’.

Tak ada investasi teraman dan terbaik dalam hidup manusia, kecuali pendidikan. Demikian sering didengar dari para cendekia, ketika mereka menyampaikan pengantarnya di dalam forum ilmiah mengenai pendidikan.

“Punggung parang pun, jika diasah niscaya tajam juga”.
Maknanya: ‘Jika mau belajar, pasti akan jadi pandai’.
“Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya”.
Maknanya: ‘Jika ingin pandai, rajinlah belajar. Jika ingin kaya, hiduplah berhemat’.

Peribahasa-peribahasa tersebut, selalu terucap dari guru-guru kita, sebelum memulai pelajaran. Terutama, dari guru bahasa Indonesia kita. Seolah ingin mencuci otak dan menanamkan dalam pikiran kita, bahwa sekolah dan pendidikan itu adalah teramat penting.

Pendidikan adalah nomor satu, begitu pula kata Ibuku (almh), saat-saat berkumpul keluarga besarku dengan 10 anak yang ada, dan penulis adalah anak bontot.

Ketika memasuki usia sekolah dasar, pada tahun 1964, Ibuku berusaha dengan keras agar penulis segera mau mengikuti pelajaran di sekolah. Karena selama ini harapan Ibuku agar penulis mau belajar di TK, tak terlaksana, karena keengganan penulis untuk sekolah, dan selalu ada di sanping Ibuku.

Ketika penulis diterima di kelas 1 SDN Mochammad Toha 4, Ibuku kelihatan senang sekali. Segala keperluan sekolah diusahakan diadakan, mulai dari buku tulis, pensil gambar, dan kantong sekolah.

Yang berbeda pada saat itu, kantong sekolah tidak seperti sekarang menggunakan Tas Gandong untuk anak sekolah SD, tetapi menggunakan kantong kulit selempang. Ada juga teman-teman sekolahku yang menggunakan kantong kaneron (kantong terbuat dari bahan rotan), terutama para siswa perempuan.

Jadwal belajar saat itu adalah, masuk belajar pagi jam 07.00 dan bubar sekolah pada jam 12.00 setiap hari, dari Senin hingga Sabtu. Jadi, tiap hari penulis harus bangun pagi dan berangkat sekolah pada jam 06.30. Untunglah sekolahku tidak jauh, kira-kira berjarak 300 meter dari rumah tinggal, hanya sekitar 20 menit perjalanan sudah sampai di sekolah.

Tiga hari awal sekolah, penulis diantar oleh Ibuku (almh) dan Kakakku Hj. Ros Napsiah Wangsadirana (almh), yang biasa dipanggil Ceu Enèn. Selanjutnya Ceu Enèn lah yang mengantar berlanjut menunggui penulis selama belajar di kelas hingga bubar sekolah. Pada jam sekolah sedang berlangsung, Beliau sering mendongakkan kepalanya di jendela kelas, agar penulis tenang belajar, tidak ke luar ruangan kelas karena takut ditinggalkan.

Aktivitas itu berlangsung selama satu kwartal (4 bulan), Ceu Enèn dengan tekun mengantar dan menunggui penulis di sekolah. Almh adalah lulusan SMA Pas-Pal (ilmu pasti). Setelah lulus tidak melanjutkan kuliah, karena kondisi ekonomi keluarga yang kurang mendukung. Almh membantu Ibuku menjahit pakaian pesanan orang. Maka, selama 4 bulan itulah almh tidak berkegiatan menjahit dari pagi hingga siang. Baru setelah bubaran sekolahku, almh bisa menjahit pakaian pesanan orang lain.

Setelah satu kwartal, penulis dilatih pergi sekolah sendiri. Tapi, tetap diantar untuk menyebrang jalan, agar tinggal jalan lurus menuju sekolah. Begitupun setelah bubar sekolah, almh sudah menunggu di tempat yang sama agar penulis tidak kesulitan menyeberang jalan. Maklum, meskipun zaman “baheula”, tetapi rumah tinggal kami ada di Jl. Ciateul yang cukup ramai juga oleh lalu lintasnya saat itu.

Setelah kwartal kesatu berakhir, meskipun almh sudah tidak mengantarku ke sekolah, namun persiapan untuk pergi ke sekolah penulis, almh lah yang membantu menyiapkan. Pagi-pagi dengan lembut almh membangunkan penulis, selagi penulis mandi, almh menyiapkan sarapan, kantong, baju, dan perlengkapan lain milik penulis yang dibutuhkan untuk belajar. Almh Ibuku menyerahkan urusanku kepada almh Ceu Enèn, karena Beliau mungkin sudah terlalu capè mengurus putra-putrinya, yang 10 orang, dan seharian menjahit pakaian pesanan orang. Jadi, Ceu Enèn berusaha menggantikan peran almh Ibuku.

Ketika penulis duduk di bangku kelas 2 SD, almh menikah dengan Rd. Hanafiah Dasah Wangsadirana (biasa dipanggil Kang Dasah). Setelah resmi menjadi Istri Kang Dasah, almh diboyong ke Jakarta ke rumah dinas suaminya di Jl. Percetakan – Jakarta. Penulis merasa kehilangan seseorang yang selama ini menjadi tempat bergantung dan berkeluh kesah. Berbulan-bulan penulis seperti “anak ayam kehilangan induknya”. Bermain pun menjadi tak karuan lagi, kadang-kadang menjelang magrib baru pulang dari lapang Tegalega Bandung (sekarang hutan Kota Tempat Monumen Bandung Lautan Api). Hingga, karena kurang pengawasan, suatu saat penulis bermain di kebun yang punya rumah persewaan, dan memanjat pohon kelapa, karena ingin mengambil sarang burung Manyar, dan penulis terjatuh dari ketinggian lebih kurang 10 meter. Ungtunglah Bapakku alm menguasai cara pengobatan tradisionil, sehingga penulis tak harus dirawat di rumah sakit.

Ketika penulis duduk di bangku kelas 2 SMA, almh pindah rumah ke Jl. H. Syamsudin – Ciateul Bandung. Penulis mengikuti almh agar pergi ke sekolah dengan berjalan kaki lebih dekat, karena sekolah penulis di SMA Pasundan, di Jl. Balonggede – Bandung. Saat penulis belajar di kelas 2 dan 3 SMA, kebetulan penulis mengambil kelas Pas-Pal (ilmu pasti pengetahuan alam). Penulis sangat kagum dengan kepintaran dan daya hapalnya. Meski pelajaran aljabar analit, ilmu ukur ruang, dan kimia sudah almh tinggalkan selama lebih kurang 11 tahun, tapi almh masih sanggup membimbing penulis, untuk tiga mata ajar itu, luar biasa… Kalaulah kami keluarga berada… mungkin almh sudah lulus dari perguruan tinggi terkenal di Bandung.

Konon, cerita dari putra-putrinya kemampuan membimbing bidang eksakta tersebut, berlanjut hingga membimbing putra-putrinya.

Tahun 1983, ketika penulis lulus S1, dan kabar itu penulis sampaikan langsung kepada almh. Beliau tidak banyak berkata-kata, hanya mengatakan “Selamat ya De”, tapi matanya kelihatan berkaca-kaca. Lalu mencium kepala penulis. Menepuk bahuku sambil mulutnya, komat-kamit, mungkin mendoakan penulis.

Tahun 1989, penulis pindah rumah ke rumah milik sendiri, di Perumnas Antapani, di Jl. Tanjungsari 6 Antapani – Bandung. Seperti hubungan anak dengan ibu, kedekatan kami terus terjalin. Segala keluh kesah yang penulis rasakan, terutama dalam meniti karier akademik, selalu penulis ceritakan kepada almh. Melalui sentuhan keibuannya penulis merasa mendapat energi baru manakala sedang menyelesaikan studi S2 penulis.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Tahun 1993, almh bersama suaminya melaksanakan rukun Islam Kelima, yaitu pergi berhaji. Pada waktu yang sama penulis menyelesaikan studi S2. Penulis berniat berbagi kebahagiaan itu dengan almh, namun beliau belum pulang ke tanah air. Seminggu setelah Ujian Sidang S2 penulis, Penulis mendengar kabar yang sangat mengagetkan. Bagai petir di siang bolong”. Beliau wafat di tanah Suci Mekah, setelah mewakili suaminya untuk melempar jumroh karena suaminya saat itu sedang dalam keadaan sakit. Kabar tersebut, kami terima dari adik sepupuku yang pergi bersama Almh dalam satu majelis taklim yang sama.

Mataku terasa panas, dadaku terasa sesak menahan tangis, tak tertahan. Akhirnya penulis menangis sendiri di ruang kerjaku.Teringat betapa jasanya yang begitu besar mengantarkan penulis dari bocah
hingga lulus S2. Ketika ingin berbagi kebahagiaan, beliau telah berpulang ke alam keabadian di tempat suci yang didambakan setiap muslim.

Alloh menyayangimu Ceu Enèn, beliau dipanggil saat menyempurnakan rukun Islamnya.
Kami semua tentu sangat bersedih, tetapi sesuatu yang terindah Beliau peroleh saat harus meninggalkan segalanya di dunia ini.

Beliau dimakamkan di pekuburan para syuhada di Kota Suci Makah Al Mukaromah, di mana di tempat itu juga dimakamkan Istri Rasulullah yang sangat Beliau cintai, mendiang Siti Khadijah yaitu di makam Ma’la. Innalillahi wainna illaihi rojiun.

Semoga Almh menjadi pengisi tempat terindah di Surga Firdaus dengan dikelilingi taman bunga-bunga terindah yang takkan ditemukan di dunia ini.
Aamiin Allohuma Aamiin.

*Penulis: Dosen tetap Fasa Universitas Al Ghifari Bandung.

(Visited 79 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: