Pipiet Senja

Operasi ke 8 Sepanjang Hayatku: 67 Tahun

RS Bhayangkara Brimob, 28 Juli 2023

Kerika dokter menyarankan untuk operasi saraf kejepit telapak tangan kiri, spontan aku mengiyakan. Karena sudah berbulan aku merasa terganggu dengan rasa nyeri.

Jika sudah datang rasa nyeri mendadak tensi melejit. Mulai 170/65 sampai tiga hari yal; 200/100.

Waduh, kalau begitu terus bisa stroke, pikirku. Bapak meninggal karena mengabaikan darah tinggi.

“Operasinya setelah cek jantung, darah, USG….Kalau hasilnya sudah disetujui oleh dokter jantung, internis, hematologi. Nah, baru operasi,” jelas dokter yang baik hati, sopan serta ramah. Intinya beliau mau mendengar curhatan pasien.

Putriku mengiyakan keputusanku. “Bagaimana Mama saja, Butet selalu mendoakan Mama.”

Qania pun berkomentar:”Manini mah strong woman. Baik hati suka berbagi. Banyak yang sayang Manini. Qania doakan ya….”

Anakku sulung dan istri mendoakan emaknya ini, tak lupa transfer bekal. Zein, Zia, Rollin dan Zidan juga kuberi tahu Manini harus operasi. Semua ikhlas mendoakanku.

Rezeki datang dari Langit, melalui Maharani Peduli. Tak disangka saudari kesayangan dari USA, Julie Nava kirim tali kasihnya paling banyak. Alhamdulillah. Terima kasih ya MP dan Julie Nava.

Hasilnya semua cek tidak bagus ternyata. Jadi harus opname dulu untuk dinetralkan.

Sehari semalam dirawat, diinfus, puasa, antibiotik. Sendirian, adikku sakit tak bisa menemani.
Aku lebih banyak berdoa dan berzikir, mengingat kematian: sungguh memohon matiku dalam husnul khotimah.

Saat operasi tiba dimajukan, pagi hari. Mbak Sri, mbak yang suka antar Qania sekolah. Bisa menemaniku, tampak sudah berada di bangku ruang tunggu operasi. Senang dan lega nian aku melihatnya. Wajib ada yang menemani, kalau butuh darah harus ambil ke PMI Pusat. Karena darahnya harus PCRL. Bukan darah biasa.

Menunggu di ruang persiapan operasi, terpaksa melihat macam-macam kondisi pasien. Ada yang kejang-kejang, tubuhnya besar nian. Ya Allah, astagfirullah….

Lebih banyak istighfar dan zikir. Tensiku 178/70. Dokter anestesi memeriksaku, memberi obat dan mendoakanku.

Tibalah diangkut ke ruang operasi. Sudah ganti baju khusus operasi. Tiga asdos menyiapkan segalanya untuk tindakan. Dokter Hanin pun tiba.

“Sudah pernah bius umum, ya Bu?” tanyanya.
“Masuk ruang operasi 7 kali. Ini ke 8 kalinya,” jawabku.
“Waaaah, apa saja itu, Bu?” tanya seorang asdos sambil membalur tangan kiri dengan cairan entah apa.
“Tiga kali keguguran, diangkat limpa dan kandung empedu, dua kali katarak dan operasi lumbar….”
“Wooow. Sudah kampiun!”

Bersamaan dengan corong menutup hidung dan mulutku, plaaaas!
Entah berapa lama proses operasi kali ini. Mbak Sri bilang; menunggu selama 3 jam.

Ketika mulai sadar, mendengar suara sekitar. Rasa dingin dahsyat menyergap sekujur tubuhku. Gemelutuk hebat gigi yang tinggal tak seberapa. Semua gigi palsu dicopot. Alhasil geraham beradu ompong. Bikin lidahku sakit, sempat kebas.

Kepala pun sakit dan sesak napas.
Setelah berada di ruang pemulihan sekitar 30 menit, diperbolehkan kembali ke ruangan.

Di ruangan perawat memberi oksigen. Efek bius terasa ke mana-mana agaknya. Jantung degdegan kencang, tensi 175/70, mual sangat. Anehnya, bekas operasi baru kebas, tetapi lumbarku nyeri.
Alhamdulillah gula darah 140.

Mendadak ada kejadian bikin jantung serasa tambah nyeri. Ada miskom urusan jemput Qania. Si kakek yang diminta jemput malah bilang: cari orang lain.

Butet dapat kabar dari Walas, sudah tidak lihat Qania. Ya Allah, kuminta mbak Sri segera ke sekolah Qania. Selama 1 jam menanti kabar itulah, jantungku serasa nyeri. Belakangan kutahu, si kakek berkenan juga jemput Qania.

Setelah dapat kabar keberadaan Qania, selamat sampai rumah barulah kembali tenang. Tidur sampai petang, haus dan lapar. Habis sudah makanan yang diberikan.

Terima kasih tak terhingga kepada dokter dan suster yang telah begitu baiknya menyembuhkan. Tak lupa terima kasihku kepada para donatur berhati mulia. Semoga pahala Surga untuk Anda semua.

Menulis bagiku merupakan terapi. Maka inilah buktinya.
Bersambung

(Visited 17 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: