Oleh : Artati Latif*

Setelah pengusahaan komoditi jagung berlangsung sekian lama dan membentuk citra Desa Lalabata sebagai wilayah penyuplai jagung terbanyak hingga mencapai 1.090 ton pertahun, tetapi tantangan dalam usaha taninya tidak bisa dipungkiri terus terjadi. Tantangan yang dimaksud adalah kerusakan yang terjadi akibat gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT). Organisme yang mengganggu tanaman jagung dari golongan jenis hama disebut ulat grayak (Spodoptera frugiperda J.E. Smith). Hama tersebut merupakan hama baru pada pertanaman jagung di Indonesia. Serangga ini berasal dari benua Amerika dan telah menyebar ke beberapa negara dan menyebabkan kehilangan hasil pada tanaman jagung (Anonim,2023).

Spodoptera frugiperda tergolong ke dalam hama ulat yang daya makannya cukup tinggi dan invasinya terhadap pertanaman jagung sangat cepat dan luas, sehingga keberadaannya perlu segera dikendalikan agar kerusakan yang ditimbulkan tidak semakin meluas. Diketahui bahwa fase yang paling merusak dari hama ini yaitu fase larva atau ulat, hama ulat grayak merusak pertanaman jagung dengan cara menggerek daun tanaman jagung. Pada kerusakan berat kumpulan larva hama ini sering kali menyebabkan daun tanaman hanya tersisa tulang daun dan batang tanaman jagung saja. Akibatnya menimbulkan kerusakan yang sangat massif dan bisa menurunkan produktivitas tanaman hingga mencapai 5 – 20% (Fakultas Pertanian IPB, 2023).

Upaya pencegahan yang perlu dilakukan oleh petani adalah : Penggunaan benih dan varietas yang memiliki daya kecambah yang baik dan bebas dari OPT, waktu tanam yang tepat dengan cara menghindari waktu tanam yang tidak serempak pada satu hamparan lahan untuk menghindari ketersediaan tanaman inang hama ini secara terus menerus, kondisi tanah yang baik dengan penggunaan pupuk an organik secara seimbang, pengamatan mingguan untuk mengamati mempelajari dan mengambil keputusan pengendalian.

Sedangkan upaya pengendalian yang perlu dilakukan untuk menurunkan populasi serangan hama Spodoptera frugiperda dilakukan dengan cara seperti kultur teknis (membajak lahan sebelum ditanami jagung, tanam serempak, tumpang sari dengan kacang-kacangan dan ubi jalar, melakukan pemupukan berimbang). Cara mekanis paling sederhana dilakukan dengan mengumpulkan kelompok telur dan dihancurkan, selanjutnya pemanfaatan musuh alami ulat grayak, pelestarian predator seperti cocopet, jumbang kepik, kumbang tanah dan semut serta pengendalian secara hayati melalui penggunaan cendawan Metarhizium dan Beauveria bassiana, disamping penggunaan bahan kimia yang merupakan alternatif terakhir.

Semua cara dan strategi yang dilakukan tersebut di atas tidak terlepas dari kerangka metode Pengendalian Hama Terpadu (PHT) di mana tujuan PHT adalah untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan adaptasi lingkungan. Sehingga pengambilan keputusan pengendalian harus tepat dan bijaksana. Itulah ulat grayak, sang perusak citra di Lalabata.

*PPL Lalabata, 28 Juli 2023
10 Muharram 1445 H.

(Visited 280 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.