Oleh: Gugun Gunardi*

Pergi ibadah haji menjadi cita-cita setiap muslim. Apa pun diupayakan demi melaksanakan rukun Islam yang kelima itu. Tidak sedikit dari kaum muslimin yang mencairkan berbagai simpanannya demi melaksanakan ibadah haji. Yang mengagumkan dari kaum muslim kita adalah upaya demi tercapainya melaksanakan rukun Islam yang kelima. Perjuangan mereka untuk bisa melaksanakannya luar biasa. Apa pun yang halal diupayakan demi bisa melaksanakan ibadah haji.

Kata seorang penarik becak di Yogyakarta; “Aku boleh miskin, tetapi menabung demi melaksanakan ibadah haji tidak akan saya hentikan, berapa pun usiaku bisa melaksanakan ibadah haji, tidak jadi masalah yang penting aku bisa berniat untuk itu, dan mudah-mudahan bisa melaksanakan.”
Suatu keinginan yang luar biasa dari orang sederhana yang memiliki tekad yang besar untuk pergi berhaji. Dia tak pernah berpikir kapan bisa berangkat, yang ada dalam benaknya adalah menabung dan menabung demi meraih cita-citanya pergi berhaji. Yang pada akhirnya ia bisa berangkat beribadah haji.

Yang lebih ekstrim lagi dari seorang yang memiliki keinginan berhaji, terjadi beberapa tahun yang lalu. Orang yang sangat lugu ini, ikut naik pesawat yang membawa jemaah haji. Dia ngumpet dan diam di ban pesawat. Semua sangat tidak menyangka ada orang yang lolos masuk ke bandara dan masuk ke dalam ban pesawat. Orang itu baru ketahuan setelah mendarat di Bandara King Abdul Azis – Jedah, dan tidak mengalami cedera fisik sedikitpun. Tetapi, karena tidak memiliki kelengkapan dokumen sebagai jemaah haji, tentu saja dia dideportasi dikembalikan ke tanah air. Akan tetapi apa yang ia lakukan telah menggugah hati seorang dermawan, untuk membiayainya pergi berhaji secara normal. Apa yang ia lakukan bukan tanpa resiko, akan tetapi harapan hadir di Masjidil Haram yang membuat dia nekad melakukan perbuatan seperti itu.

Begitupun dengan penulis. Pergi berhaji menjadi impian penulis setiap saat. Begitu tergetar hati penulis, setiap kali melihat para jemaah calon haji yang diberangkatkan dari Lapangan POLDA JABAR menggunakan bis, pelan-pelan dari luar terdengar para calon jamaah haji mengumandangkan lafadz “Labaika Allohuma labaik, labaika la sarika laka labaik, innal hamda, wa ni’mata, laka wal mulk, la sarikala…”. Merinding rasanya ketika mendengar kalimat-kalimat tauhid panggilan suci untuk para calon jemaah haji itu. Rasanya ingin sekali penulis menjadi bagian dari mereka. Tak terasa berlinang air mata penulis melihat mereka yang berangkat ke Tanah Suci, memenuhi undangan Allah untuk hadir di tanah kelahiran Rasulullah, bersahutan para calon jemaah haji dengan kalimat tauhid tersebut. Mengisi jiwa-jiwa mereka dengan penuh keikhlasan.

Sampai saat ini, penulis belum juga berhaji. Pertama; bisa jadi undangan Allah untuk hadir di tanah suci lewat ibadah haji belum hadir. Yang kedua; selama ini penulis juga terlalu sibuk dengan berbagai aktivitas sendiri. Yang ketiga; usaha penulis untuk mewujudkan ibadah haji mungkin kurang optimal. Namun, tetap harapan dan usaha untuk bisa pergi berhaji itu selalu ada dalam benak penulis sampai akhir hayat.

Suatu ketika keinginan berhaji itu penulis sampaikan kepada kakakku alm R.H. Kusnaedi Wangsaatmadja. Alm menyambut keinginan penulis tersebut dengan mengatakan; “Pergi Umroh saja dulu, berhajinya nanti kalau sudah siap segalanya. Ayo pergi bareng Kang Kus. Kang Kus umrohkan ade, hadiah selesai S2.”

Gayung bersambut, keinginan untuk pergi ke tanah suci Makah Al Mukaromah mendapat jawaban. Doa yang selama ini disampaikan setiap salat malam yaitu mohon segera selesai S2 dan berkesempatan pergi ke Mekah untuk melihat Kabah, kiblatnya kaum muslimin sedunia terjawab melalui kebaikan alm Kang Engkus. Sungguh suatu kejutan yang luar biasa. Allah Maha Pemberi rezejki, S2 ku selesai tahun 1993, setahun kemudian diberi hadiah pergi melaksanakan umroh bareng alm.

Perjalanan pulang dari Jakarta ke Bandung (alm tinggal di Jakarta), berkendaraan bis umum, baru kali itu tidak tertidur, entah berapa ribu kali penulis membaca tahmid… Alhamdulillah… tak terhitung sudah. Mata ini sulit dipicingkan terbangun terus padahal perjalanan di malam hari, mungkin karena perasaan gembira dan haru akan diberangkatkan umroh. Ingin rasanya segera sampai di rumah untuk berbagi berita gembira ini dengan Ibunya anak-anak. Istriku pasti menyambut dengan suka cita berita ini.

Saya sering membaca artikel yang mengulas ceramah alm K.H. Maemun Zuber. Nasihat Beliau adalah, “biasakan sholat 2 rakaat sebelum sholat subuh, dan setelah itu bacalah; Subhanalloh Wabihamdihi Subhanalloh hil adzim astagfirullah… 100 x (mohon maaf kalau ada kesalahan menulis). Meskipun penulis mendapatkan petuah itu lewat artikel tentang Beliau, tetapi penulis kerjakan sampai saat ini.
Apa yang Beliau katakan; “rezeki itu kalau sudah haknya, ia datang sendiri, tak harus dikejar-kejar”. Betul sekali apa Beliau katakan. Semoga alm K.H. Maemun Zuber, mendapatkan tempat terindah di Surga Allah.

Begitupun yang penulis alami, melalui kebaikan alm kakakku, penulis pada tahun 1994 bisa melaksanakan ibadah umroh. Rezeki yang luar biasa, dan Alhamdulillah pada tahun 2016, dapat melaksanakan kembali bersama istriku tercinta sebagai peringatan ulang tahun pernikahan ke 35. Mudah-mudahan Allah masih memberi kesempatan untuk mengunjungi Tanah Suci Makah Al Mukaromah. Aamiin Yaa Rabbal Alamiin.

Terima kasih untuk Alm kakakku R.H. Kusnaedi Wangsaatmadja, semoga Alm menempati tempat yang paling nyaman dengan taman yang paling indah di surga Allah.
Aamiin Allohuma Aamiin.

*Penulis: Dosen Tetap Universitas Al Ghifari.

(Visited 23 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: