Pipiet Senja – Siti Mugi Rahayu

Prolog: Catatan Manini
Menemukan artikel ini jadi terkenang masa muda. Ketika sering berkelana ke mancanegara dengan buku.

Sejak bergabung dengan Forum Lingkar Pena, diangkat sebagai Penasehat FLP, banyak penerbit memburu karyaku.

Dengan sukacita aku menyambut hangat tawaran mereka. Dalam sebulan sudah kukirimkan naskah novel. Heran, kok bisa secepat itu?

Begini. Aku menulis sejak 1975, banyak naskah novel dan cerita anak-anak yang sudah kulahirkan. Jadi aku tulis ulang revisiannya dengan komputer. Sebelumnya diketik dengan mesin ketik yang kuberi nama Si Denok.

Ternyata naskah-naskah lama yang direvisi tsb langsung dioke penerbit. Bukan hanya satu penerbit, tetapi berbagai penerbit Islam.

Semakin banyak novelku ternyata ada dampak positifnya. Mulai banyak undangan sebagai pembicara, motivator atau tukang teror menulislah.

Bukan hanya keliling Tanah Air, tetapi mulai berkelana ke berbagai negara. Diundang oleh ICMI, Diaspora, kajian lintas negara dan terutama paling sering oleh; Komunitas TKI.

Biasanya ada saja peserta seminar literasi tsb muncul pemerhati. Kemudian menuliskan laporan pandangan mata, komentarnya tentang Pipiet Senja.
Nah, salah satunya adalah catatan ini.

Catatan Siti Mugi Rahayu
Membaca tulisan Mas Eko yang bertajuk Clara, mengingatkan saya pada penulis novel kawakan, Pipiet Senja yang selain menulis untuk terapi, juga melakukannya untuk biaya pengobatan.

Saya mengenal sosok yang tak muda lagi ini ketika menjadi salah satu panitia dalam acara menulis untuk guru. Pipiet Senja, ya.. sesuai dengan namanya, dia bukan anak muda.

Suatu sore sebalum acara dimulai, saya ikut merapikan tempat pelatihan dan melihat ada dua orang, salah satunya adalah seorang wanita paruh baya, sedang merapikan buku-buku yang akan dipamerkan. Karena saya panitia, saya menyapanya. Dia yang ramah lalu memperkenalkan diri, bahwa dialah Pipiet Senja.

What? Saya agak terperanjat. Tulisannya muda, dan banyak mengisahkan percintaan anak muda. Tak disangka ternyata dia adalah penulis senior yang sudah berumur. Dia tertawa melihat saya yang terkaget-kaget.

Pipiet Senja merupakan satu penulis yang juga menjadikan menulis itu sendiri sebagai obat sekaligus penolongnya. Pipiet yang menderita Thalasemia ini harus bergantung pada perawatan dokter sepanjang hidupnya. Berpisah dengan suaminya yang temparemental, Pipiet membiaya hidup dan pengobatannya sendiri.

Demi biaya pengobatan yang tinggi dan dibutuhkan terus menerus sepanjang hidupnya inilah yang mengobarkan semangat Pipiet untuk tetap memiliki segudang ide cerita untuk novel-novelnya. Tulisannya ratusan, namun baru sekitar 203 novel yang sudah dibukukan.

Kisah hidupnya lengkap dengan susah senang asam manis kehidupan dunia yang tidak kenal lelah. Bahkan, di sela-sela pengobatannya, dia harus tetap menekan huruf demi huruf yang merangkaikan cerita ceria cinta anak muda.

Tak jarang darah menetes di atas laptop dari sela-sela jarum tranfusi. Aih, kerasnya hidup.

Lalu, kita yang sehat, berapa tulisan yang sudah kita buat? #menampirdiri.

(Visited 10 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.