Oleh: Gugun Gunardi*

Kalau membaca ANJURAN, maka pikiran kita akan langsung mencari-cari sinonim dari kata tersebut di dalam KBBI, yang bersinonim dengan kata “saran”. Yang artinya mengharapkan pihak kedua atau ketiga mengerjakan sesuatu yang disarankan oleh kita.

ANJURAN dalam hal ini adalah sebuah akronim dari dua kata, yaitu “Angklung” dan “Cianjuran”. Sebuah bentuk kesenian gabungan di antara seni Angklung dengan kesenian Cianjuran. Kedua-duanya adalah alat kesenian Sunda. Angklung adalah alat musik (waditra) yang dibuat dari jenis bambu tamiang, sementara Cianjuran adalah bentuk seni vokal Sunda dengan diiringi oleh kecapi, dan melodinya seruling (suling). Dua bentuk kesenian Angklung dan Cianjuran inilah, kemudian diberi nama ANJURAN.

Adalah dua akademisi yang juga budayawan serta politikus, Dr. H. Gunawan Undang, M.Si., dan Dr. Tom Maskun, M.Pd., yang menggagas menggabungkan kedua waditra tersebut menjadi ANJURAN.

Pada awalnya, kedua akademisi itu melihat potensi group Paduan Angklung Mahasiswa Universitas Al Ghifari (PAM Unfari), yang dibentuk untuk keperluan penutupan KKN mahasiswa semester VI Unfari di Kabupaten Cianjur, untuk tampil memainkan paduan angklung di pendopo Kabupaten Cianjur, di hadapan Bupati Cianjur.

Karena pikiran cerdas mereka berdua, bersama dengan pelatih Angklung dari Saung Angklung Ujo , yaitu Kang Sam Ujo, S.Teks., dengan naluri seni mereka, tergelitik untuk menggabungkan seni Angklung dan Cianjuran. Hasilnya adalah sebuah panduan seni yang harmonis dan dknanis di antara iringan kecapi dan angklung, serta melodi Seruling dan Angklung, mengiringi vokal seorang mahasiswi Alda Febrianti Rahayu, dan pengajar bernama Fadila Nur Afifah, S.Sen., dengan penggagas ANJURAAN yang juga dosen Unfari Dr. H. Gunawan Undang, M.Si., melantunkan lagu pembuka “Papatèt”, dilanjutkan dengan “Panambih” (lagu tambahan) lagu “Nèlèngnèngkung”. Trio vokal, dua orang dosen dan mahasiswa ini, mengundang decak kagung audiens yang menyaksikan penampilan (pintonan) ANJURAN di selasar kampus Unfari.

Penampilan ANJURAN tersebut dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2023, dalam rangka memperingati Milad atau Dies Natalis ke-21 Unfari. Pada kesempatan tersebut semua jajaran pengurus Yayasan Al Ghifari, antara lain; Drs. H. Sali Iskandar, M.M., Ketua Dewan Pembina Yayasan. Dr. Tom Maskun, M.Pd., Ketua Yayasan Al Ghifari (Penggagas ANJURAN), Dr. Deden Suhendar, M.Si., Sekretaris Yayasan Al Ghifari, dan para anggota Dewan Pembina Yayasan, hadir dalam kegiatan tersebut.

Rektor Unfari, Prof. Dr. H. Didin Muhafidin, M.Si., dalam kesempatan tersebut memetong tumpeng Milad Unfari, yang diberikan kepada Ketua Dewan Pembina Yayasan. Dilanjutkan dengan memberikan Piagam Penghargaan kepada 14 orang dosen, yang terpilih sebagai dosen teladan Unfari tahun akademik 2022-2023.

Dalam sambutannya, Rektor mengajak sivitas akademika Unfari untuk meningkatkan kualitas Proses Belajar Mengajar (PBM) di Unfari, yang pada tahun ini masuk dalam 25 besar Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Jawa Barat. Tentu saja hasil ini adalah hasil kerja bersama seluruh sivitas akademika Unfari, yang dari tahun ke tahun berusaha meningkatkan pembinaan dan pengabdiannya kepada masyarakat.

Menyinggung mengenai ANJURAN, Rektor mengharapkan agar paduan harmonis antara Seni Angklung dan Seni Cianjuran ini menjadi salah satu identitas Kampus Unfari. Sejalan dengan visi dan misi Unfari yang bergerak dalam pembinaan dan pengembangan, serta pelestarian Budaya Sunda. Maka, sangat tepat jika ANJURAN menjadi ciri khas kesenian Sunda di lingkungan Kampus Unfari.

Maju terus Unfari, dengan visi dan misinya memperkuat dan melestarikan nilai-nilai kesundaan, diharapkan ANJURAN menjadi identitas pengembangan Seni Sunda di Unfari.

*Dosen Tetap Universitas Al Ghifari.

(Visited 73 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.