Oleh: Gugun Gunardi*

Bulan Agustus adalah bulan istimewa bagiku, karena ada beberapa peristiwa istimewa pada bulan ini, yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Bisa jadi sebagian dari catatan istimewa pada hidupku ada di bulan ini, yang sampai akhir hayat akan menjadi goresan tinta emas di dalam perjalanan hidupku. Bulan yang juga menjadi bulan sangat istimewa bagi bangsa negeri seribu pulau ini, Negeri Rayuan Pulau Kelapa “Indonesia”.

Di bulan Agustus, adalah bulan kelahiranku. Tepatnya aku lahir pada tanggal 10 Agustus 1956, di kota Bandung. Menurut Ibuku, aku dilahirkan di sebuah rumah sakit kecil, rumah sakit Astana Anyar, sebagai anak bontot dari dua belas bersaudara, dan yang ada sepuluh orang. Jadi, aku adalah anak kesepuluh, dari sepuluh putra-putri Rd. Kandi Wangsaatmaja dengan Nyimas Onah Adenah. Rumah keluargaku tidak jauh dari rumah sakit tempat aku dilahirkan. Berjarak kurang lebih 2 km dari Rumah Sakit Astana Anyar, yaitu di Gang Encang – Jalan Ciateul, kurang lebih berjarak 500 m dari rumah istri pertana Proklamator kita Bung Karno, yaitu rumah Ibu Inggit Garnasih. Sekarang rumah Ibu Inggit, sudah disulap menjadi Museum Ibu Inggit Garnasih. Ibu Inggit, adalah termasuk salah satu Pahlawan Nasional.

Konon, Jalan Ciateul dahulu terkenal dengan tempat bertumbuhnya pohon Tanjung dan pohon Mahoni. Khusus untuk pohon Tanjung, pohon ini adalah penghasil bunga tanjung, yang bila pagi-pagi berjatuhan bertebaran memenuhi jalan dengan wanginya yang khas. Sehingga, sepanjang jalan Ciateul kala itu, terkenal dengan jalan bunga Tanjung.

Bulan Agustus yang menjadi kenangan juga bagi penulis, adalah bulan saat penulis dirayakan dalam perhelatan khitanan tahun 1964. Aku dikhitan berdua dengan salah seorang ponakanku yang menjadi anak angkat Ibuku. Karena aku anak bontot, maka perhelatan khinatan menjadi istimewa, karena empat kakakku yang nomor 1 sampai nomor 4, yang pada belajar ibing pencak silat pada Bapakku, “minton” pencak silat. Tentu saja, “pintonan” pencak silat menjadi hiburan utama pada perhelatan tersebut. Satu-satu kakak lelaki nomor 1 hingga nomor 4, berdemo pencak silat pada kesempatan yang baik itu, ketika hajatan khitananku.

Tapi ada juga catatan di bulan Agustus yang menyedihkan, yaitu saat aku mengalami kecelakaan terjatuh dari pohon kelapa setinggi 12 meter, ini terjadi pada tahun 1966. Orang di sekitar yang menyaksikan kejadian itu, sudah menyangka bahwa aku mati, karena kebanyakan orang yang mengalami jatuh dari pohon kelapa, nyawanya tidak tertolong. Aku saat itu masih mendapatkan perlindungan dari Alloh. Bisa terbangun lagi, dan diobati secara tradidional oleh Bapakku. Hingga mendapatkan kesembuhan kembali, tanpa berobat ke rumah sakit. Entah apa yang dikerjakan oleh Bapakku, yang aku tahu, aku dimandikan dengan air dingin sekitar 30 menit. Tidak ada lagi pengobatan lain kecuali itu.

Tahun 1981, di bulan Agustus, bertepatan dengan hari kelahiranku, yaitu tanggal 10 Agustus, aku mengakhiri masa lajangku dengan menikahi seorang gadis desa, bernama Eli Mardiyah, dari Desa Cipanas Desa — Cibatu Garut. Aku bertemu dengan pendamping setia sampai saat ini di kampus Unpad, pada fakultas yang sama, yaitu Fakultas Sastra. Hanya berbeda angkatan dan program studi (prodi). Aku angkatan tahun 1977 dengan prodinya sastra Sunda. Sementara istriku angkatan tahun 1980, dengan prodinya sastra Arab. Orang bilang “garam di laut, asam di gunung, ketemu di belanga”, itulah yang terjadi padaku.

Tahun 1983, alhamdulillah aku selesai menempuh pendidikan S1 ku di prodi sastra Sunda, seperti kebetulan aku diwisuda pada bulan Agustus 1983. Seperti sudah diatur, padahal segalanya berjalan dan mengalir seperti air di sungai saja, tidak pernah diatur-atur. Bisa jadi, itu semua kehendak Alloh.

Setelah lulus S1, aku langsung ditawari untuk menjadi asisten dosen, oleh Almh Prof. Dr. Hj. Fatimah Djajasudarma. Tentu saja kesempatan yang baik itu tidak penulis sia-siakan, tawaran itu aku terima dengan bangga — haru — senang hati. Karena ternyata banyak yang bercita-cita menjadi dosen tapi tidak kesampaian. Aku termasuk yang betuntung mendapatkan kesempatan itu.

Setahun kemudian, dan masih di bulan Agustus tahun 1984, SK Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), aku terima. Banyak dari seniorku yang sudah menjadi asisten dosen belum juga mendapatkan SK CPNS. Menurut mereka, aku termasuk beruntung, hanya berselang satu tahun dari pengangkatanku sebagai asisten dosen, tahun berikutnya sudah nenjadi dosen tetap yang pegawai negeri. Bisa jadi, ini merupakan hadiah atas kelahiran anak pertamaku laki-laki, yang lahir pada tanggal 25 Mei 1984 (Padika Muhamad, M.M.). Saking gembiranya, gaji pertamaku sebagai CPNS, yang cair di bulan Desember 1984, yang dirapelkan selama 5 bulan, semuanya diserahkan kepada Ibuku oleh istriku.

Tahun berlalu dengan cepat, dalam kapasitas sebagai dosen tetap Unpad. Pada rahun 1993, aku menyelesaikan studi S2 ku, dengan pembimbing yang sama ketika S1, yaitu Almh Prof. Fatimah. Kemudian pada rahun 2009, aku menyelesaikan studi S3 (doktor), dengan promotorku masih dengan orang yang sama, yaitu Almh Prof. Fatimah. Tetapi ada suatu yang lucu ketika aku menyelesaikan studi S3 tersebut. Salah seorang promotorku adalah mantan mahasiswaku di S1, angkatan tahun 1984, yaitu Prof. Dr. Cece Sobarna, M.Hum. luar biasa, Prof. Cece banyak membantuku, baik secara akademik maupun finansial. Aku tidak akan lupa akan jasa baik Prof. Cece. Sampai sekarang silaturahmi dengan beliau terjalin dengan baik.

Tahun-tahun kulalui dengan cepat, tak terasa bulan September 2021, aku harus mengakhiri masa pengabdianku di Unpad. Akan tetapi, tak sengaja, dua bulan sebelum bulan September 2021, aku bertemu dengan mantan mahasiswa berprestasi nasional tahun 2001, yaitu Prof. Dr. H. Didin Muhafidin, M.Si., di Pom Bensin terusan Jl. Jakarta — Antapani. Dalam obrolan singkat, Prof. Didin mengajak aku, untuk melanjutkan pengabdianku di dunia pendidikan di Universitas Al Ghifari (Unfari). Tentu saja “gayung bersambut”, kesempatan emas itu tidak ku sia-siakan. Jadi, sejak bulan September 2021, aku sudah menjadi dosen luar biasa (LB) Unfari.

Kegiatan bertemu mahasiswa bersambung lagi. Meskipun harus dilaksanakan secara online dengan menggunakan zoom meet, karena situasi kondisi yang terganggu kehadiran pandeni covid. Tidak mengganggu interaksiku untuk bertemu para mahasiswa yang mengikuti mata kuliah yang aku bina, yaitu bahasa Indonesia, Budaya dan Bahasa Sunda, dan Ilmu Budaya Dasar. Aku sangat menikmati tugas memberi kuliah di Unfari. Ada satu hal kegiatan tambahan setelah purna bakti dari Unpad, yaitu menulis artikel. Apa saja menjadi obyek tulisanku, yang ditampung di Web Bengkel Nerasi (BNers), atas bantuan sahabatku Kang Iyan, S.Apt. Dengan segala kelebihannya, Kang Yan banyak membantu membenahi tulisanku. Tentu saja aku sangat bersemangat membuat tulisan untuk dimuat di Web BNers. Memang ada pepatah, bahwa “menulis tidak bisa untuk hidup kita, tetapi dengan menulis akan menghidupkan nama kita”. Jadi, itulah yang saya pegang, dengan menulis menghidupkan nama kita. Jadi, dalam kegiatan hari-hariku, tak ada hari tanpa menulis. Rugi rasanya kalau ada hari yang terlewatkan tanpa menulis.

Ternyata keberuntunganku masih mengikuti jalan hidupku, betapa Alloh begitu baik kepadaku. Setelah melewati satu tahun sebagai tenaga honorer di Unfari, pada bulan Agustus 2022, aku diangkat menjadi tenaga tetap Yayasan Al Ghifari. Pada tahun yang sama, kejutan pun penulis terima lagi, tepatnya yaitu pada tanggal 22 Desember 2022, atas usaha yang sungguh-sungguh Wakil Rektor 1 Unfari, Kang Herry, M.M., aku mendapatkan Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK), dari Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, dan Riset. Tentu saja dengan SK Dosen Tetap Yayasan dan NIDK ini, membuat aku lebih tenang lagi di dalam melaksanakan tugas mengajar di Unfari.

Di dalam suatu diskusi santai di LPPM Unfari, sahabatku Dr. H. Gunawan Undang, M.Si. (Ketua LPPM Unfari), menyampaikan tawaran kepadaku untuk membentuk Unfari Press, di lembaga yang Beliau pimpin. Tanpa berpikir lama, saya mengiyakan tawaran tersebut. Alhamdulillah setelah berselang 6 bulan, tepatnya di bulan Maret 2023, Unfari Press diperbolehkan untuk mengajukan ISBN sendiri ke Perpustakaan Nasional. Tentu saja hal ini, membuka peluang bagi para dosen untuk diterbitkan hasil karya tulisnya oleh Unfari Press.

Bulan yang mendatangkan keberkahan. Meskipun ada saat di bulan Agustus mengalami kecelakaan berat, yaitu jatuh dari pohon kelapa setinggi 12 meter, tapi Alloh masih memberi kesempatan padaku, sampai saat ini masih hidup. Yang sangat membahagiakan pada bulan Agustus tahun ini, Unfari masih mempercayaiku untuk membina mata kuliah yang aku kuasai. Ternyata kejutan pun datang lagi di bulan Agustus 2023. Tepatnya, pada tanggal 15 Agustus 2023, aku mendapatkan Piagam Penghargaan Dosen Teladan, dari Lembaga yang memberi kesempatan padaku untuk melanjutkan perjuanganku di dunia akademik. Pada peringatan ke-21 Dies Natalis Universtas Al Ghifari, yang dihadiri oleh seluruh jajaran Pimpinan Yayasan Al Ghifari dan Pimpinan Unfari.

Aku sangat bangga — bahagia — terharu. Karena ketika menerima SK Pensiunku di bulan Mei 2021, aku berpikir bahwa selesailah sudah dunia pembelajaran yang membesarkanku, mempertemukanku dengan para mahasiswa, dengan para cendekiawan di kampus, yang memberi udara segar keilmuan. Ternyata sampai saat ini, napasku masih bisa menghirup udara segar keilmuan tersebut, di lembaga yang tehormat ini. Apalagi, belum genap satu tahun dari terbitnya NIDK ku, aku menerima Piagam Penghargaan Dosen Teladan, bersama 13 dosen lainnya. “Nikmat apa lagi yang harus aku dustakan”. Terima kasih Alloh Terima kasih untuk Universitas Al Ghifari, semoga aku dapat menghasilkan karya-karyaku lebih baik lagi, untuk kampus tercinta ini. Aamiin Yaa Rabbal Alamiin. []

*Dosen Tetap Unfari Bandung

(Visited 126 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: