Pipiet Senja

Telah sebelas tahun secara resmi cerai dengan lelaki itu. Ya, lelaki bermulut sangar.

Jika cakap tak pakai perasaan, apalagi logika.Asal jebreeeeed saja, ngablak seenak jeroannya sendiri.

Tak percaya? Coba saja nih simak salah satu cakapnya. Saat dia tahu bapak cucu ke4, tak mau pindahkan nama anaknya ke KK emaknya.

Kami sudah bertahun-tahun bersabar. Membujuknya demi zonasi ke SMP yang akan datang. Tak ada niat baik mantan menantu; si Borokokok.

Harus secara resmi ke Pengadilan Agama agaknya; hak asuh anak dipegang Butet, putriku.

“Jangan ngurusin anak cucu lagi. Biarkan saja mereka urus sendiri. Sebentar lagi matilah kau itu!”

Kali ini kujawab, meskipun hanya dalam hati. Gak ada kerjaan banget kalau kuladeni. Haiiiish, amit-amitlah!

“Yang mau mati kau sajalah itu, bah!”

“Apa kata kau?” Kali saja begitu koarnya.

“Aku masih mau lihat Zein, Zia, Rolin, Qania dan Zidan diwisuda. Eeeeh, kami mau umroh bareng plus Turki….”

Banyak lagi gerutuan dalam hati ini. Kucatat dalam-dalam di lubuk hati.

Belum kelar urusan satu ini, masih ditambah pula. Mendadak datang berdua nyonya. Belum disuruh masuk langsung ngablak saja tuh mulut.

“Sudah, kasihkan saja ke bapaknya. Biar diurus sama bapaknya. Mau dijadikan apalah, biarkan saja. Bukan urusanmu lagi!”

Kemudian masih nyerocos ke mana-mana. Tak bisa ditahan oleh sang nyonya yang tampak serba salah. Tepatnya menahan malu sendiri. Jengah kaleeee!

Spontan aku gegas masuk kamar, jetreeeek!

Gak sudi keluar lagi harus lihat tampangnya yang semakin tua. Tak tersisa secuil pun kegantengannyazaman baheula.

Mending kembali buka laptop. Fokus melanjutkan serial buku anak: Jelajah Nusantara. Meskipun honornya entah kapan bisa kuperoleh penuh.

Era digital bagi penulis macam diriku ini, mengandalkan honor dan royalti sebagai satu-satunya pencaharian nafkah. Duùuh, terasa benar anjlooooknya!

Tetap haruslah bersyukur, gumamku sekejap kemudian. Setidaknya pasca operasi lumbar, saraf kejepit, toh masih bisa jalan sendirian berobat.

Apa resepnya?

Hanya 3: ikhlas, berdamai dan tawakal.Itu saja.

Merdeka!

RSUI, Agustus 2023

(Visited 18 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

2 thoughts on “Dia Bilang: Sebentar Lagi Matilah Kau Itu!”
  1. Pipiet Senja dan Athena Qania , aku Kagum membaca kisah hidupmu berdua.
    Ketika aku mendeklamasi puisi karyamu , sambil memegang tanganmu,Athena, di Taman Ismail Marzuki Jakarta pada 16 Juni 2023 di depan khalayak yang ramai lagi besar nama, aku terkenang pada kisah hidupku ketika aku berusia 10 tahun dulu. Hampir serupa kisah kita berdua.

    Ketika aku memegang tanganmu hari itu Athena, aku terasa ada getaran semangat ,
    berderu menusuk hatiku ,seperti angin bertiup dii pelabuhan .

    Aku menjadi pasti angin ini akan membawa kau menuju kejayaan yang tidak kau sangkakan .
    Ikutilah angin ini. Terbang bersamanya. Jangan dikesalkan pada rintangan yang mendatang.
    ALLAH Sayang padamu, Athena. Juga inu dan maninimu.

    1. Alhamdulillah terima kasih Dato. Mendadak ikut mengharu biru baca komentar Dato. Serasa punya keluarga baru. Athena sering tanya jua. Apa kabarnya Dato, ya Manini?
      Semoga jumpa kembali ya Dato.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.