Pipiet Senja

Barusan cucuku Athena Qania menghampiriku yang sedang berbaringan. Sejak malam badan tidak karuan.
“Manini, pernah berpikir gak, kenapa harus kena Thallasemia?” tanyanya sambil mengusap-usap tanganku, bekas transfusi keunguan.

“Iyalah. Kenapa ya harus kena Thallasemia?” Balik aku bertanya.
“Begini. Terus apa yang Manini lakukan saat pertama tahu, kena cacat genetik?”
“Awalnya sih marah. Sempat mau bunuh diri segala….”

“Naudzubillahi min dzalik….Terus, terus, gimana akhirnya Manini bisa hidup dengan Thallasemia?”
“Yah, karena sering masuk UGD, ICU, lihat ada banyak yang lebih parah dari Manini….bisa berdamailah dengan Thallasemia.”

Cucuku menatapku dengan sorot mata antara iba dengan kagum.

Itulah pertama kalinya obrolan serius dengan anak 10 tahun. Di antara lima cucuku dialah yang paling dekat denganku. Sejak bayi.

Athena pernah bilang cita-citanya menjadi arsitek. Mau bikin rumah buat Manini Qania. Nanti rumahnya serba ungu. Hehe.

“Makanya Manini harus berumur panjang ya,” pesannya sambil memelukku erat.

Bersyukurlah semua anak cucu sudah diskrining.
Tak ada yang membawa gen Thallasemia. Alhamdulillah.

Masih bertahan 67 tahun. Agaknya termasuk prestasi ajaib. Sejak umur 10 tahun wajib transfusi. Apakah pernah bosan?

Sepertinya aku sudah berdamai dengan kondisi apapun yang diberikan Sang Pencipta.

Maka, wahai bersyukurlah kalian yang sehat sehat bugar.
Jangan mudah menyerah, apalagi putus asa. Begitupun untuk para penyintas, pejuang kehidupan.

Yakinlah, selalu ada hikmah di balik dukalara.

Bagiku kini Thallasemia adalah anugerah. Bayangkan, jika bukan karena Thallasemia belum tentu jadi penulis. Jika bukan karena penulis, belum tentu ada yang mengĝratiskan haji dan umroh dua kali.

Berkelana dengan karya ke berbagai negara. Alhamdulillah, sujud syukur ya Allah.

Jika mati mohon matikanlah hamba dalam husnul khotimah.
Tag Artha Julie Nava
Sri Rahayu Wilujeng

(Visited 9 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.